Melihat kenyataan tersebut, pertanyaan nurani bangsa muncul lirih namun tajam: apakah kalkulasi Prabowo masih berbasis peta lama, sementara medan telah berubah?
Teori hubungan internasional mengenal bandwagoning dan balancing. Mendekat pada yang kuat untuk ikut selamat, atau menyeimbangkan agar tak ada yang terlalu dominan.
Pilihan mana yang sedang ditempuh Prabowo? Belum sepenuhnya terang. Mungkin condong ke AS. Atau mungkin ia mencoba memainkan keduanya sekaligus, seperti pemain catur yang memegang dua warna bidak dalam satu papan.
Tentang nuclear winter, para ilmuwan memang telah mensimulasikan bahwa perang nuklir skala besar dapat memicu pendinginan global drastis dan krisis pangan lintas generasi. Itu bukan dongeng, melainkan hasil model iklim dan pengalaman sejarah.
Namun dalam politik, ketakutan bisa menjadi kompas — atau justru belenggu.
Jadi, apakah Prbowo salah kalkulasi? Atau justru sedang membaca realitas keras yang tak populer?
Pada akhirnya, ancaman Perang Dunia III bukan sekadar soal berpihak ke siapa. Ia adalah cermin bagi Indonesia: sejauh mana kita sungguh-sungguh siap berdiri di atas kaki sendiri.
Mandiri bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam industri pertahanan, ketahanan pangan, energi, dan kohesi nasional. Iran sudah membuktikan soal ini.
Jika matahari benar-benar redup, yang menyelamatkan kita bukan tepuk tangan blok mana pun, melainkan daya tahan kita sendiri.
Karena dalam sejarah panjang umat manusia, yang bertahan bukan yang paling keras berteriak tentang perang, melainkan yang paling tekun menyiapkan damai.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



