Marsekal Agung Sasongkojati, alumni US Air War College dan penerbang pertama F-16 Indonesia, dalam analisanya menilai dominasi eskalasi yang selama ini menjadi keunggulan Amerika Serikat dan Israel tidak lagi sepenuhnya utuh.

Serangan balasan Iran dengan kombinasi drone dan rudal jarak jauh berkecepatan tinggi memaksa Washington dan Tel Aviv masuk dalam pola perang atrisi yang menguras sumber daya dan logistik. Serangan Iran tak terbendung.

Di Israel, pangkalan udara strategis seperti Nevatim dan Tel Nof dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pada infrastruktur. Landasan pacu dan fasilitas pendukung hancur, sehingga operasional pesawat tempur generasi lanjut, termasuk F-35 dan F-15, menghadapi keterbatasan.

Dalam analisis Agung, superioritas udara tak berarti banyak ketika runway retak dan depot bahan bakar terbakar. Pesawat secanggih apa pun menjadi kurang efektif jika basis operasionalnya terganggu. Kekuatan udara Israel kini dirujak Iran.

Sistem pertahanan berlapis Israel, dari Iron Dome, David’s Sling, hingga Arrow, menghadapi tekanan berat akibat taktik saturasi. Gelombang drone murah Iran dipadukan dengan rudal presisi menciptakan radar dan baterai pertahanan kewalahan.

Di kawasan Teluk, semua pangkalan utama AS dilaporkan rata dengan tanah. Terjadi pula gangguan pada sistem radar dan identifikasi kawan-lawan (IFF). Insiden jatuhnya beberapa pesawat F-15 akibat tembakan pertahanan sendiri menampar muka AS.

Dari sisi logistik, konsumsi amunisi presisi jarak jauh dalam jumlah besar menciptakan tekanan pada stok strategis AS. Perang berkepanjangan berisiko membuka celah kesiapan di kawasan lain.

Di laut, gugus tugas kapal-kapal induk AS berada dalam posisi yang semakin kompleks. Serangan rudal-rudal jarak jauh dan drone Iran membuat manuver AS di sekitar Selat Hormuz terbatasi.

Kesimpulan Agung: konflik ini mengikis aura tak tersentuh kekuatan Barat di kawasan. Kerusakan pangkalan, tekanan sistem pertahanan, insiden friendly fire, serta beban logistik menunjukkan supremasi militer mereka tidak lagi sehebat klaim teknologi mereka.