Jalan Pela Mampang, ketinggian 100 cm, panjang jalan terendam 150 meter, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua. Jalan Mampang Prapatan, ketinggian 60 cm, panjang jalan terendam 150 meter, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua.

Jalan Al Makmur, ketinggian 120 cm, panjang jalan terendam 80 meter, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua. Jalan Pejaten Village, ketinggian 150 cm, panjang jalan terendam 20 meter, bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua.

Jalan TB Simatupang, ketinggian 100 cm, panjang jalan terendam 60 meter, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua. Jalan Benda Bawah Cilandak Timur, ketinggian 100 cm, panjang jalan terendam 50 meter, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua. Pintu Tol Ampera, ketinggian 50 cm, panjang jalan terendam 600 meter, tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua.

Atas dampak banjir yang terjadi di DKI, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diminta tidak menyalahkan air sebagai penyebab banjir di Ibu Kota yang tak kunjung selesai.

“Kalau banjir, kita jangan salahkan airnya, kalinya,” ungkap aktivis Lingkungan Hidup Chaerudin, Sabtu (20/2).

Anies, kata Chaerudin, harus bisa mengetahui cara dalam menanggulangi masalah musiman itu. “Tapi caranya menangani yang mesti dilihat,” ucap Chaerudin.

Babe Idin juga pembina Kelompok Tani Lingkungan Hidup Sangga Buana di Lebak Bulus ini menilai, banjir tersebut justru merefleksikan diri mengenai apa yang sudah dilakukan dalam menangani permasalahan lingkungan selama ini, khususnya terkait manajemen sungai di Jakarta.

“Normalisasi oke. Tapi jangan nanti pohon bambu ditebang begitu saja dan diganti dengan beton-beton,” ucap Chaerudin.

Chaerudin bersama kelompoknya menanam ribuan pohon bambu di pinggiran Kali Pesanggrahan. Hal itu karena bambu adalah tanaman yang memiliki kemampuan menahan air, dibanding dengan tanaman lainnya.

“Ada Bahasa Betawi, jangan nebangin bambu. Pinggir kali itu peradaban kita, orang kita merdeka juga dari bambu runcing. Maka lestarikan bambu,” kata Babeh Idin.

Oleh karena itu, Babe Idin agar jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memahami pentingnya manajemen menyeluruh.

Selain menanam pohon, Babe Idin mengatakan bahwa perlu dilaksanakan manajemen pengelolaan sampah yang baik. “Sampah itu bisa dimanfaatkan kembali untuk apa saja, termasuk menjadi pupuk untuk pohon-pohon buah produktif,” kata Babeh Idin. [WIS]

(Tulisan ini pernah dimuat pada 20 Februari 2017)

Baca juga: