Forum Perdamaian Dunia, Megawati: GNB Masih Relevan

Forum Perdamaian Dunia, Megawati: GNB Masih Relevan

Ilustrasi: Presiden RI kelima yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi pembicara kunci dalam Forum Perdamaian Dunia di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok/Istimewa

Koran Sulindo – Gerakan Negara-negara Non Blok (GNB) menjadi penting dan relevan untuk semakin aktif mempromosikan perdamaian dunia. Terlebih masih banyak negara yang belum merdeka secara politik dan ekonomi.

Hal itu disampaikan Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, ketika menjawab pertanyaan peserta acara Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum) ke-8 yang diselenggarakan Tsinghua University di Beijing, Senin (8/7/2019).

Menurut Megawati, Indonesia adalah inisiator GNB sehingga paham makna gerakan tersebut. Dan itu masih relevan dengan kondisi dunia saat ini.

Baginya, dunia saat ini masih mengalami berbagai penderitaan. Dulu penderitaan dipicu oleh adanya Blok Barat dan Blok Timur.

“Sekarang, di abad 21, kondisinya berbeda dengan abad 20. Dulu banyak negara belum merdeka. Sekarang banyak yang sudah merdeka, tapi secara politik dan ekonomi mereka belum merdeka. Maka mari kita mencoba hidupkan lagi Gerakan Negara Nonblok itu,” kata Megawati dalam.

Megawati mengaku kerap berdiskusi dengan Presiden Jokowi soal kondisi dunia saat ini. Dan Megawati menyampaikan kepada Jokowi soal pentingnya sebuah konferensi tingkat dunia untuk membahas kondisi serta solusi mengatasinya. Menurut dia,
alam konteks itu, GNB bisa mengambil peran.

“Saya berharap konferensi dunia yang bisa memberi masukan orisinil tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi ke depan,” kata Megawati.

Bung Karno tentang Perdamaian Dunia

Pada forum itu, Megawati mengingatkan kembali gagasan Proklamator Bung Karno soal perdamaian dunia dalam pidatonya di PBB tahun 1960 berjudul “To Build the World Anew”. Seluruh negara dunia diajak untuk bergandengan tangan bersama mewujudkan gagasan tersebut.

Megawati menuturkan, sebagai bapak bangsa Indonesia, Soekarno pernah menyampaikan gagasannya lewat pidato tersebut. Yakni “stabilizing the world order: common responsibilities, join management, and share benefit” (Stabilisasi tatanan dunia baru: pertanggungjawaban bersama, manajemen bersama dan saling menguntungkan).

Lebih jauh Megawati mengatakan, dalam momen itu, Bung Karno mengatakan bahwa; “Adalah tidak adil mengucilkan suatu negara dari pergaulan antar bangsa.”

Saat itu secara terbuka Bung Karno memperjuangkan keanggotaan Republik Rakyat Tiongkok di PBB, memperjuangkan penyatuan kembali rakyat di Korea, Vietnam, dan Afrika yang dipecah- belah oleh imperialis, juga memperjuangkan kemerdekaan Aljazair, serta kemerdekaan ekonomi bagi Kuba dan Laos.

“Bung Karno mengajarkan bahwa perdamaian tidak dapat dipisahkan dari kemerdekaan,” kata Megawati.

Bung Karno mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah buah dari spirit pembebasan. Spirit yang harus selalu hidup, tidak hanya untuk bangsa sendiri, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain.

Maka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan saat kita membantu memperjuangkan kemerdekaan dan perdamaian. Perjuangan untuk kedua hal tersebut senantiasa dibenarkan dan senantiasa benar.

Kepada rakyat Indonesia, kata Megawati, Bung Karno mewariskan satu cita-cita, yaitu cita-cita tentang perdamaian untuk mencapai suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang bebas dari sengketa dan ketegangan.

“Suatu dunia dimana anak-anak dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu dunia dimana keadilan dan kesejahteraan berlaku untuk semua orang. Suatu dunia, dimana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Suatu dunia, dimana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh. Suatu dunia dimana semua bangsa
hidup dalam dunia damai dan persaudaraan,” beber Megawati.

Di hadapan para peserta forum dari puluhan negara di dunia itu, Megawati pun mengajak agar semuanya bersedia menjadi bagian dari perjuangan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

“Senandungkanlah nyanyian perdamaian di hati dan jiwa kita. Mari bergandengan tangan dalam semangat persaudaran dan solidaritas,” kata Ketua Umum PDI Perjuangan itu.

“Yakinlah, suatu hari kelak, pasti, pasti akan terbit matahari perdamaian, matahari emansipasi yang membawa terang ke seluruh penjuru dunia. Dunia baru tanpa penindasan,” imbuhnya.

Selesaikan Pertentangan Lewat Musyawarah

Sebagai pembicara kunci (keynote speech) dalam pleno yang bertajuk ” International Configuration and World Order, Megawati juga mengajak agar prinsip musyawarah mufakat dan dialog konstruktif menjadi cara untuk menyelesaikan segala pertentangan demi mewujudkan perdamaian dunia.

“Maka jika ingin dunia damai, maka setiap negara bangsa harus menghormati kedaulatan tiap negara bangsa lainnya, walau yang terkecil sekalipun,” katanya.

Megawati mengatakan isu perdamaian menghangat biasanya seiring isu adu kekuatan yang terjadi di antara negara-negara yang dinilai maju dalam pertumbuhan ekonomi.

“Dalam forum ini, saya ingin mengajukan pertanyaan, yaitu “Siapakah sebenarnya yang hendak dihancurkan di abad 21 ini?” Inikah arti kemerdekaan yang dengan susah payah telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa kita? Inikah arti dari kemajuan teknologi? Apakah teknologi diciptakan untuk menyulut peperangan atau sebenarnya untuk memperkokoh perdamaian?,” tegas Megawati.

Padahal, menurutnya dunia juga telah mengalami berbagai contoh kesengsaraan yang diakibatkan oleh perang. Dari perang dunia, konflik Semenanjung Korea, konflik di Timur Tengah, dan lainnya. Begitu banyak juga inisiatif baik perdamaian lewat Konferensi Asia Afrika 1955, Gerakan Non-Blok, hingga kerja-kerja PBB.

Prinsip pertama yang disampaikan Megawati, semua harus selalu ingat bahwa bumi yang kita diami ini hanyalah satu. “Maka kita sendirilah yang harus menjaga dan melestarikannya,” kata Megawati.

Hal kedua, semua harus menyadari jika setiap pertentangan selalu dimaknai sebagai perang, maka pertentangan tersebut pasti akan berujung dengan bahaya bagi peradaban manusia.

Dalam konteks itu, nasib umat manusia tidak dapat ditentukan oleh hanya segelintir bangsa atau golongan yang merasa dirinya besar dan kuat, paling benar dan suci. Setiap bangsa, sekecil apapun, berhak bersuara. “Dan suara sekecil apapun, berhak untuk didengar dalam upaya keamanan dan perdamaian dunia,” kata Megawati.

Ketiga, jika bersepakat menciptakan perdamaian dunia, maka lenyapkanlah sebab-sebab pertikaian dan ketegangan. Dunia akan merasa damai bila sebab-sebab peperangan dilenyapkan. Jika segala kebencian, permusuhan dan keserakahan dilenyapkan.

Bagaimana caranya? Menurut Megawati, adalah dengan duduk bersama, menggunakan pikiran dan hati yang tenang.

“Lenyapkan semua itu dengan dialog konstruktif. Lenyapkan semua itu dengan musyawarah mufakat, temukan dan putuskan prinsip-prinsip yang disetujui secara bersama untuk menyelesaikan pertentangan,” ujarnya.

Menurut dia, ada sebuah prinsip yang sesuai dengan amanat Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa. Yakni prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa. Satu prinsip untuk menghormati,
menghargai, mengakui dan melindungi penggunaan hak-hak azasi setiap manusia dan hak-hak azasi nasional setiap bangsa.

“Itulah prinsip yang harus diterima, dipegang teguh, dan dijalankan oleh setiap bangsa,” tandasnya.

Usai berpidato, Megawati memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya kepadanya.

Selain Megawati, di forum ini turut hadir juga mantan Perdana Menteri Singapura yang sekaligus pimpinan delegasi Singapura Goh Chok Tong, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, mantan Perdana Menteri Belgia Herman Van Rompuy, dan mantan Menlu Rusia Igor Ivanov. [CHA/Didit Sidarta]