Koran Sulindo – Terus meningkatnya meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea membuat ancaman perang terbuka menjadi hal tak mustahil terjadi. Seandainya benar-benar terjadi perang, apa sikap China?

Meski sikap diplomatiknya ambivalen, China sebenarnya punya posisi yang jelas terkait konflik di semenanjung. Khususnya jika AS dan sekutunya benar-benar melaksanakan ancaman untuk menyerang Republik Demokratik Rakyat Korea.

China memiliki beberapa pilihan pokok yang sepenuhnya tergantung pada sifat serangan tersebut.

Seandaianya AS membatasi diri pada serangan udara atau serangan rudal, terlepas dari Pyongyang membalas atau diam, bantuan China dipastikan tetap bakal datang. Paling mungkin mereka bakal mengirim bantuan teknis atau kemanusiaan sedangkan pada tingkat diplomasi, Beijing akan mengutuk serangan itu secara politis.

Namun, jika AS menindaklanjuti serangan itu dengan invansi darat, China tak hanya akan menawarkan bantuan langsung dan mengirim personel militer. Mereka juga bisa diam-diam menunggu ‘kekacauan’ total sebelum membuka front kedua melawan tentara AS. Salah satunya yakni dengan menyerbu Taiwan.

Tentu saja situasi ini sangat membahayakan China, tapi akan jauh lebih berbahaya bagi pasukan AS yang segera mendapati kekuatannya membentang ‘tipis’ di area yang sangat luas tanpa memiliki cara untuk memaksa musuh menyerah atau berhenti.

Akhirnya, sama seperti China tidak bisa membiarkan Amerika menghancurkan Pyongyang, Rusia tentu tak bakalan tinggal diam membiarkan China dihancurkan Amerika. Peristiwa serupa pernah dan sedang terjadi di Timur Tengah, Suriah-Hizbullah-Iran lalu Rusia.

Geopolitik model ini mengusung postur yang sangat fleksibel dan efektif di mana elemen terkecil dan diangap paling lemah justru berada di garis depan. Mereka memaksa pihak lain untuk fokus menghadapi musuh terdepan sembari memaksimalkan risiko sekaligus akan menarik musuh berikutnya yang jauh lebih besar dan kuat.

Dalam situasi ini AS memiliki tak memiliki kesempatan melucuti senjata nuklir dan menggusur Kim Jong Un hanya dengan serangan rudal ataupun serangan udara. Agar benar-benar menguasai Pyongyang di ‘tangan mereka’ para pemimpin AS perlu menyetujui invasi darat.

Ini benar-benar menjadi dilema karena Pyongyang masih bisa memutuskan untuk menggunakan taktiknya yang kuno namun efektif. Serangan artileri langsung ke Seoul yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer. Amerika jelas tak bakal mempunyai pilihan jika tentara DPRK bergerak melintasi perbatasan.

Dengan jumlah personel militer Selatan berjumlah sekitar 500.000 dan 30.000 tentara AS, mereka akan menghadapi sedikitnya 1.000.000 tentara DPRK yang didukung 5.000.000 paramiliter dan 200.000 pasukan khusus. AS membutuhkan pengerahan pasukan tambahan yang skalanya bisa melampaui Perang Dunia II.

Jika AS berniat menghancurkan program nuklir Pyongyang, doktrin militer AS menyarankan memulai serangan dengan rudal atau jet tempur terhadap target-target bernilai tinggi. Ini berarti Amerika harus menyiapkan serangan masif Pyongyang lumpuh sekali pukul.

Sebaliknya, jika Pyongyang yang memutuskan memulai serangan artileri ke Seoul, mereka masih memiliki kemampuan untuk menyerang Jepang menggunakan ‘perangkat’ nuklir. Jika hal itu yang terjadi, Amerika harus mulai menggunakan serangan nuklir taktis yang bagaimanapun tingkat efektifitas rendah bagi posisi-posisi defensif pada medan campuran lembah dan bukit di Utara. Selain itu, target-target strategis seperti peluncuran rudal bakal sulit ditemukan.

Akhirnya, satu-satunya jalan yang tersisa bagi AS adalah secara langsung dan sengaja terlibat pembunuhan massal warga sipil untuk ‘mematahkan keinginan musuh untuk berperang’ dan menghancurkan ‘infrastruktur pendukung rezim’. Sayangnya, taktik ini terbukti gagal dalam medan perang Vietnam.

Perang Korea, menjadi perang paling mematikan dalam sejarah modern khususnya bagi warga sipil. Skala kehancurannya bahkan mengejutkan dan membuat jijik personil militer Amerika yang menyaksikannya. Dalam perang itu, Amerika dan sekutunya menjatuhkan lebih banyak bom daripada seluruh medan Perang Pasifik pada Perang Dunia II.

“Kerusakan fisik dan hilangnya nyawa di kedua belah pihak hampir tidak dapat dipahami, namun Korut mengalami kerusakan yang lebih besar, akibat pemboman Amerika dan kebijakan hangus bumi yang mengundurkan diri,” tulis sejarawan Charles K. Armstrong dalam sebuah esai untuk Jurnal Asia Pasifik.

Armstong menulis, secara proposional jumlah penghancuran AS di Korea lebih besar dibanding Jepang dalam Perang Dunia II. Di Korea, pesawat Amerika menjatuhkan 635.000 ton bom, termasuk 32.557 ton napalm, dibandingkan ‘hanya’ 503.000 ton bom yang dijatuhkan dalam Perang Pasifik.

Jumlah orang Korea yang meninggal, terluka atau hilang di akhir perang mendekati angka tiga juta yang mencakup sepuluh persen dari total populasi. Angka itu mendekati atau melebihi proporsi warga Soviet yang terbunuh dalam Perang Dunia II.[TGU]