Orang Kalang, ‘Sahabat’ Raja Raja Jawa

Orang Kalang, ‘Sahabat’ Raja Raja Jawa

Anaknya orang Kalang disebut-sebut keluar masuk istana Yogyakarta dengan bebas dan bermain-main dengan pangeran yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono VIII.

Rumah Kalang di Kotagede, Yogyakarta.

Koran Sulindo – Meski dianggap ‘berbeda’ dengan orang Jawa pada umumnya orang Kalang dianggap sebagai golongan yang ulet dalam berusaha. Berbeda dengan mayoritas orang Jawa yang memilih menjadi petani orang Kalang sejak semula bergelut di sektor perdagangan.

Dikenal sebagai jago mengurus logistik dan transportasi orang Kalang mengembara ke seluruh Pulau Jawa melayani simpul-simpul lalu lintas penting. Spesialisasi itu membuat mereka menjadi salah golongan masyarakat yang paling maju di masanya.

Selain melanjutkan usahanya di sektor transportasi dan pertukangan di paro abad 19, orang Kalang juga mulai merambah sektor keuangan dengan mendirikan rumah-rumah gadai atau peminjaman uang.

Claude Guillot peneliti dari Centre National de la Recherche Scientifique dari Paris menggambarkan kehidupan orang Kalang yang telah menetap dengan merangkum perkembangan sebuah keluarga di Kota Gede Yogyakarta.

Menetap

Kepada Guillot, keluarga itu bercerita mereka masih mengingat kisah leluhurnya bernama Mertowongso. Menurut penuturan itu, kakek moyangny masih mengembara hingga akhirnya memutuskan menetap di Gombong, Jawa Tengah paro pertama abad 18. Mereka mendirikan usaha gadai dengan bunga 4-5 persen sebulan.

Mencoba peruntungan yang lebih baik, menjelang akhir abad 18 Mertowongso pindah ke Kotagede. Waktu Kotagede sudah menjadi pusat perdagangan yang menguntungkan. Meski kota itu hanya berjarak lima kilometer dari Istana Kasultanan di Yogyakarta, wilayah Kotagede dikuasai oleh dua kerajaan.

Sebagian masuk Surakarta, sedangkan bagian lain berada tetap berada di bawah Kasultanan Yogyakarta. Penduduk Kotagede hanya perlu berpindah kampung agar bisa memanfaatkan pemerintahan yang paling menguntungkan bagi mereka.

Generasi kedua keluarga Mertowongso bernama Mertosetiko diuntungkan kemajuan ekonomi Kotagede yang menjadi pusat pembuatan senjata di masa-masa Perang Diponegoro 1825-1830.

Bagaimanapun kisahnya, di akhir perang keluarga ini mendapatkan kedudukan yang terpandang dalam masyarakat Kalang, bahkan anaknya Brojosemito diangkat menjadi demang. Jabatan ini terus disandang keluarga Kalang itu hingga dihapus di akhir abad 20.

Salah satu anak perempuan Brojosemito menjadi orang pertama dari keluarga ini yang masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Fatimah. Seperti tradisi Kalang pada umumnya, Fatimah dijodohkan dengan saudara sepupunya, Mulyosuwarno yang tetap tak menganut Islam.

Saudagar sukses

Lahir dari lingkungan saudagar, meski pasangan ini meskipun tak terlalu mahir baca tulis jiwa wiraswastanya mereka sangat tinggi. Keahliannya mengumpulkan ‘kekayaan’ itulah yang memuat mereka akrab dengan kedua istana terutama dengan Yogyakarta. Ikatan itulah yang dipelihara oleh keturunan-keturunan mereka.

Jika hubungan Mulyosuwarno dengan kalangan bangsawan tak pernah jelas, pekerjaan Fatimah justru terlihat lebih kongkret. Rumahnya yang besar di Kotagede menjadi tempat perdagangan segala macam barang dari batik hingga beras dalam jumlah besar.

Selain berdagang, Fatimah juga juga meminjamkan uang dan menjalankan profesi sampingan sebagai penjual emas. Konon ia menggunakan timbangan dan batu uji sendiri untuk memperkirakan kadar emas yang dibelinya.

Perhiasan-perhiasan itu kemudian dilebur dan dibuat emas batangan murni yang dijualnya sendiri ke Javanesche Bank di Batavia.

Pasangan ini begitu kayanya dan mencapai tingkat tertinggi yang bisa dicapai oleh golongan pedagang. Anaknya, Prawirosuwarno yang lahir 1873 disebut-sebut keluar masuk istana Yogyakarta dengan  bebas dan bermain-main dengan pangeran yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono VIII.

Kekayaan keluarga itu makin bertambah ketika pemerintah Hindia memutuskan untuk menutup rumah gadai di Yogyakarta awal abad 20. Di sisi lain, Kraton Surakarta tetap mempertahankan lembaga keuangan model ini.

Raja gadai

Berpengalaman di bidang pinjam-meminjam uang, Fatimah menangkapnya sebagai peluang. Tinggal di Kotagede yang terbelah, ia segera membeli hak pengelolaan satu rumah gadai di Surakarta dan menawarkan jasanya itu kepada orang Yogyakarta.

Masih menurut penuturan Guillot, ketika Perang Dunia I meletus direktur Javanesche Bank yang tahu betul jumlah kekayaan keluarga ini berinisiatif menghubungkan Fatimah dengan pedangan berlian di Antwerpen. Fatimah yang membayangkan untung besar karena hubungannya dengan dua kraton itu, segera membimbing cucunya Noerijah dalam seluk beluk perdagangan ini.

Selain mendidik cucunya, Prawirosuwarno anak Fatimah yang kemudian menjadi generasi utama yang melanjutkan usaha keluarga. Di bawah Prawirosuwarno inilah kekayaan keluarga itu mencapai puncaknya. Ia terus membeli hak pengelolaan rumah-rumah gadai hingga berjumlah belasan. Rumah-rumah gadai itu di atas namakan kerabat atau saudara sesama orang Kalang.

Menurut perkiraan, penghasilan bersih setiap rumah gadai itu mencapai 3.000 gulden per bulan. Pelanggan utama rumah gadai itu biasanya golongan bangsawan kraton yang terus saja meminjam uang. Praktis keluarga ini benar-benar menjadi sebuah bank swasta bagi para bangsawan yang butuh dana talangan. Dibantu anaknya Noerijah, Prawirosuwarno juga memulai berdagang berlian.

Dengan harga berlian yang melejit setelah Perang Dunia I, keluarga itu segera sadar bahwa perdagangan berlian tak lagi hanya dilakukan kepada kraton. Mereka mulai menjual berlian kepada orang-orang kaya dan kepada toko-toko emas di kota besar.

Dijarah

Pada tahun 1926, HJ Van Mook mengkonfirmasi fakta tersebut dengan menyebut, “Kotagede barangkali menjadi pusat perdagangan berlian terbesar di Hindia Belanda.”

Tentu saja, pusat berlian di Kotagede itu dikuasai keluarga Prawirosuwarno.

“Mereka tidak menunjukkan sikap-sikap merendahkan diri seperti umumnya orang lain di wilayah kraton. Mereka dengan skala kecil sama dengan Rothchild yaitu bankirnya para pembesar,” tulis Van Mook mengingat keluarga Prawirosuwarno.

Di Kotagede, Prawirosuwarno bahkan mendirikan sebuah perkampungan untuk dia sendiri dan para kerabatnya di Tegalgendu, sebuah perkampungan yang rumah-rumahnya bergaya Eropa dengan memperlihatkan berbagai jenis kaca hias, mosaik dan tegel dalam jumlah besar dan megah.

Di rumahnya, Prawirosuwarno juga memiliki beberapa pembantu termasuk wanita Tionghoa dan wanita Eropa. Di sisi lain, ketika jembatan di Kali Gajahwong hanya bisa dilewati kendaraan kraton, keluarga itu membangun jembatan sendiri di sampingnya. Belakangan proyek ini dihentikan karena takut menyinggung perasaan pihak kraton yang menjadi pelanggannya.

Ketika balatentara Jepang masuk ke Indonesia, keluarga Prawirosuwarno pindah dari Tegalgendu dan mengungsi di sebuah dusun sekitar 10 km dari Kotagede. Di masa-masa inilah kejayaan keluarga ini pelan-pelan meredup karena rumah mereka di Tegalgendu dijarah gerombolan liar. Di sisi lain, sejumlah besar berlian yang dititip kepada orang asing di awal perang agar diselamatkan di Amerika Serikat tak bisa diperoleh kembali ketika perang usai.

Selain seluruh angota keluarga terpisah-pisah sejak penjarahan, kerugian keluarga yang utama dipicu pembauran yang hampir total di wilayah Yogyakarta dengan Republik dan nasionalisasi rumah gadai.

Namun, meski terpukul oleh kerugian besar itu dan meninggalnya Prawirosuwarno, keluarga itu berusaha memperoleh kembali kedudukannya semula di bawah pimpinan Noerijah yang telah menjanda di usia 20 tahun. Usaha itu ditunjukkan Noerijah dengan terus menerus memihak Sultan, termasuk ketika Sultan menggelontorkan modal untuk pemerintahan Republik. [TGU]