Kuningan, koransulindo.com – Kabupaten Kuningan dikenal luas dengan julukan “Kota Kuda”. Sebutan itu sudah sangat melekat hingga menjadi identitas daerah yang berada di wilayah timur Jawa Barat dan berbatasan dengan Cirebon serta Majalengka tersebut. Bahkan, masyarakat dari luar daerah pun lebih akrab menyebut Kuningan sebagai Kota Kuda.
Julukan tersebut telah tersemat sejak lama. Namun hingga kini, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan pertama kali Kabupaten Kuningan mulai disebut sebagai Kota Kuda. Berbagai narasi dan cerita rakyat pun berkembang di tengah masyarakat mengenai asal-usul julukan tersebut.
Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan seekor kuda legendaris bernama Si Windu. Konon pada zaman dahulu, Si Windu merupakan kuda milik Adipati Ewangga, seorang panglima pasukan asal Kuningan yang dikenal tangguh dalam peperangan.
Dalam setiap pertempuran yang dihadapi Adipati Ewangga, Si Windu selalu setia mendampingi tuannya. Kuda tersebut dikenal gagah, gesit, dan memiliki kekuatan luar biasa. Dari cerita rakyat yang berkembang, kehebatan Si Windu bahkan telah teruji dalam berbagai misi penting yang dijalankan pasukan Kuningan.
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan ialah ketika Adipati Kuningan ikut menyerbu benteng Portugis di Batavia. Dalam misi tersebut, Si Windu disebut memiliki peran penting dalam membantu pasukan bergerak cepat dan memenangkan pertempuran.
Karena kegagahan dan kecepatannya, pasukan Kuningan kerap berhasil mengalahkan musuh di medan perang. Dari situlah kemudian muncul istilah terkenal “Leutik-leutik Kuda Kuningan” yang berarti “Kecil-kecil Kuda Kuningan”.
Ungkapan tersebut memiliki makna filosofis bahwa walaupun bertubuh kecil, kuda Kuningan memiliki kekuatan dan keberanian yang besar. Filosofi itu juga dianggap mencerminkan karakter masyarakat Kuningan yang tangguh, pekerja keras, dan tidak mudah menyerah.
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Kuningan, simbol kuda juga tercantum dalam lambang daerah. Pada lambang tersebut terdapat siluet kuda jantan berwarna putih yang melambangkan sifat masyarakat Kuningan yang dinamis, kreatif, konstruktif, sportif, serta memiliki semangat dalam menegakkan keadilan dan melenyapkan kebatilan.
Selain itu, dalam sejarah perjuangan leluhur Kuningan hingga masa gerilya, kuda memiliki peranan penting sebagai sarana transportasi sekaligus alat perjuangan. Hal tersebut semakin memperkuat identitas Kuningan sebagai Kota Kuda.
Tak heran apabila ikon kuda dapat ditemukan di berbagai sudut Kabupaten Kuningan. Patung-patung kuda berdiri di sejumlah titik strategis, mulai dari gapura pemerintahan, taman kota, hingga pusat keramaian. Simbol kuda juga banyak digunakan pada seragam, logo daerah, hingga cinderamata khas Kuningan seperti ukiran tradisional.
Salah satu ikon yang paling dikenal ialah patung kuda di kawasan Taman Kota dan Alun-Alun Kuningan di Jalan Veteran. Patung tersebut menjadi salah satu simbol khas daerah sekaligus lokasi favorit masyarakat dan wisatawan untuk berfoto.
Nuansa Kota Kuda juga masih terasa hingga sekarang melalui keberadaan delman yang tetap bertahan sebagai daya tarik wisata. Bagi wisatawan yang datang ke Kuningan, menaiki delman menjadi pengalaman tersendiri, terutama saat malam hari di kawasan Alun-Alun Kuningan.
Saat malam tiba, deretan delman berhias lampu warna-warni tampak berjajar rapi di depan Masjid Syiarul Islam. Suasana tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati wisata malam di pusat kota.
Tarif menaiki delman pun cukup terjangkau, yakni sekitar Rp15.000 untuk sekali perjalanan dengan rute memutari kawasan masjid dan alun-alun. Selain delman, tersedia pula wisata menunggang kuda dengan tarif sekitar Rp20.000 untuk anak-anak dan Rp25.000 bagi orang dewasa untuk satu putaran kawasan alun-alun.
Keberadaan delman dan wisata kuda tersebut seolah menjadi pengingat bahwa identitas Kota Kuda masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat Kuningan hingga saat ini. [UN]




