Jakarta — Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno kepada generasi muda melalui pendidikan dan kebudayaan.
Emir menyampaikan bahwa pendidikan dan kebudayaan menjadi bagian penting dari program perjuangan GPM. Menurutnya, pelaksanaan program organisasi perlu dibangun melalui semangat gotong royong dan keterlibatan seluruh kader.
Ia menyoroti terbatasnya pemahaman generasi muda terhadap Marhaenisme. Menurut Emir, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa, termasuk masa ketika pemikiran Bung Karno dan gerakan yang berlandaskan Marhaenisme mengalami tekanan politik selama puluhan tahun.
Karena itu, GPM memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan kembali Marhaenisme kepada generasi muda dengan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan persoalan sehari-hari. Emir menekankan bahwa esensi Marhaenisme berkaitan erat dengan perjuangan melawan kemiskinan, ketimpangan, dan eksploitasi terhadap rakyat.
“Kepada Anak-anak muda saya tidak mau terlalu detail (mengenai) sosio-nasionalisme, sosio-demokratis, saya cuma bilang Marhaenisme itu satu, dia anti kemiskinan, dia akan berjuang untuk melenyapkan kemiskinan di Indonesia dan mengikis habis para perusak,” Tegas Emir saat menyampaikan sambutan pada Kongres X GPM di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (28/10).
Pemikirannya mengenai Marhaenisme juga dituangkan dalam buku Marhaenisme: Visi Sosialisme Indonesia. Melalui pendidikan dan penguatan pemahaman ideologi, GPM diharapkan dapat menjaga kesinambungan pemikiran Bung Karno sekaligus menjadikannya relevan bagi generasi penerus.
Selain persoalan ideologi, Emir turut menyoroti situasi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik hingga kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia dan kehidupan masyarakat, terutama apabila berujung pada kenaikan harga bahan bakar dan biaya kebutuhan lainnya.
Emir juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah perjalanan bangsa, termasuk pengalaman GPM yang pernah mengalami tekanan politik dan dampaknya terhadap para kader. Sejarah tersebut, menurutnya, tidak boleh dilupakan agar generasi mendatang memahami tantangan yang pernah dihadapi dalam memperjuangkan ideologi dan cita-cita politik.
Menutup sambutannya, Emir menegaskan komitmen GPM untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesetiaan pada Marhaenisme, menurutnya, harus diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat, perjuangan melawan ketidakadilan, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Dalam acara Konggres X GPM Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristianto turut hadir dan mengisi acara. Hadir pula perwakilan Menteri Dalam Negeri, Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma Purwonegoro.
Sekilas tentang GPM
Gerakan Pemuda Marhaenis berdiri pada 31 Mei 1947 di Yogyakarta dengan berlandaskan pemikiran Marhaenisme Bung Karno. GPM berkomitmen memperjuangkan keadilan sosial, pemberdayaan rakyat, dan cita-cita Indonesia yang berdaulat melalui penguatan kader serta pengamalan nilai-nilai Pancasila. [KS]





