Koransulindo.com, Jakarta — Tanggal 21 Juni 1970 menjadi lembaran paling emosional sekaligus kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Politisi senior PDI Perjuangan sekaligus Ketua Umum Gerakan Pemuda Marhaenis, Emir Moeis, membagikan sebuah memori mendalam yang tak terlupakan saat melepas kepergian Sang Proklamator sekaligus Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno, yang wafat dalam kesunyian politik era Orde Baru. Melalui sebuah rekaman suara, Emir mengisahkan kembali bagaimana berita duka tersebut menyebar melalui radio pada minggu pagi dan seketika memicu keheningan yang luar biasa di seantero kota. Baik di dalam rumah maupun di sepanjang jalan raya, rumah kawan-kawan, hingga para tetangga di kiri dan kanan, semua mendadak hening merasakan duka yang mendalam atas berpulangnya Presiden RI pertama tersebut.
Suasana batin yang sepi itu membawa Emir, yang saat itu diminta menjadi supir oleh ayahnya, Inche Abdul Moeis, untuk bergegas menuju Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Mengingat hari itu adalah hari Minggu dan tidak ada supir yang bertugas, Emir yang pada tahun 1968 menjadi anggota muda PNI, menyetir sendiri mobil yang membawa rombongan tokoh DPP PNI, termasuk Ketua Umum Pak Isnaeni, Pak Harjanto, dan Wakil Sekjen Pak Aberson Maraiholo. Setibanya di Wisma Yaso yang saat itu belum terlalu ramai, Emir berkesempatan masuk hingga ke ruangan utama dan duduk tepat menghadap peti jenazah Bung Karno yang sudah dikafani namun bagian wajahnya masih terbuka. Di dalam ruangan duka itulah Emir menyaksikan dari dekat dinamika politik dan kemanusiaan yang terjadi di antara para tokoh bangsa di hari wafatnya Sang Proklamator.
Di tengah suasana duka tersebut, Emir yang saat itu masih dianggap anak muda karena memang di tahun 1970 ia masih sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik mesin berkesempatan duduk bersebelahan dengan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Tak lama kemudian, putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra atau yang akrab disapa Mas To, datang dan duduk di antara mereka. Sebuah dialog krusial pun terekam jelas dalam ingatan Emir mengenai nasib perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta yang jatuh pada tanggal yang sama, di mana malam itu seharusnya digelar pesta rakyat semalam suntuk di sepanjang Jalan Thamrin. Mas To kemudian bertanya kepada Ali Sadikin, “Bang Ali, nanti malam bagaimana nih acaranya? Apakah diteruskan atau dibatalkan?” Mendengar pertanyaan itu, Bang Ali langsung memberikan jawaban tegas, “Ah ini sudah kepalang kita umumkan. Jadi tetap kita jalan kan, tapi kita batasi hanya sampai jam 10 malam. Dan setiap anjungan diminta untuk menyampaikan doa kepada almarhum Bung Karno.”
Namun, ironi terbesar dari rentetan peristiwa hari itu justru terjadi di luar Wisma Yaso. Usai melayat, Emir bersama rombongan menuju ke kediaman Pak Harjanto di Kebayoran Baru untuk menyusun teks iklan pernyataan duka cita yang rencananya akan ditayangkan di TVRI dan beberapa surat kabar. Ketika Emir diutus langsung untuk membawa dan memasang iklan tersebut ke studio TVRI, sebuah penolakan keras justru diterimanya dari petugas stasiun televisi. Emir sempat melayangkan protes dengan mempertanyakan alasan penolakan tersebut, “Loh, kenapa ditolak? Ini kan Bung Karno Presiden kita dan beliau yang mendirikan TVRI.” Petugas TVRI saat itu berdalih dengan mengatakan, “Kita enggak mau sampai jadi polemik, Mas. Karena dengan masuk salam duka cita yang simpati, bisa jadi nanti lawan-lawan politik memberikan pernyataan yang berlawanan, jadi enggak baik.”
Penolakan dari TVRI, stasiun televisi yang sejatinya didirikan sendiri oleh Bung Karno pada tahun 1962, menjadi bukti nyata betapa ketatnya pembatasan dan tekanan politik Orde Baru bahkan di hari kematian Sang Proklamator. Hanya Koran Suluh Marhaen yang menyiarkan duka cita kepergian sosok yang sangat berjasa atas kemerdekaan Indonesia ini. Padahal Sang Founding Father saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia merasakan duka lara yang tak terhitung namun hanya sekedar mewartakan duka citanya saja, seolah dibungkam.
Emir Moeis mengakui bahwa ingatan masa lalu itu selalu menyisakan rasa sedih yang mendalam di hatinya. Pemimpin besar yang memerdekakan bangsa ini harus dilepas dalam suasana duka yang sangat dibatasi. Meski demikian, spontanitas kesedihan rakyat yang tulus tetap tidak bisa dibendung oleh sekat-sekat politik mana pun. Sembari mengenang peristiwa bersejarah 56 tahun silam tersebut, doa-doa terbaik terus dipanjatkan agar almarhum Bung Karno mendapatkan tempat yang paling layak dan mulia di sisi Allah SWT. [Red]




