Dulu memeriksa dunia, sekarang memeriksa diri. Apa yang ditemukan 175 wartawan senior ketika menjalani cek kesehatan gratis? (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Aula Siwabessy Kementerian Kesehatan, Jakarta, terasa berbeda dari ruang-ruang yang kami datangi semasa masih aktif menjadi wartawan. Dulu kami mencari berita tentang kesehatan. Sekarang, kami mencari tahu kesehatan sendiri.

Senin, 26 Oktober 2026, sebanyak 175 wartawan senior berkumpul untuk urusan yang jauh lebih mendasar: memeriksa kesehatan. Sebagian datang bersama istri atau suami.

Sejak pukul tujuh pagi, beberapa kawan bahkan sudah hadir. Rupanya, kalau urusannya kesehatan sendiri, para pemburu berita pun tak mau ketinggalan.

Di ruangan itu, wajah-wajah tua berseliweran. Sebagian besar wajah para ayah, dengan rambut memutih, kulit mengendur, dan sorot mata yang menyimpan puluhan tahun cerita. Namun, banyak juga yang berdandan gagah, seolah hendak menghadiri pelantikan pemimpin redaksi baru.

Mereka pernah meliput perang, mengejar pejabat, membongkar skandal, memimpin redaksi, bahkan menentukan berita apa yang pantas dibaca jutaan orang. Wartawan radio, televisi, koran, dan tabloid berbaur.

Kini, mereka mengantre untuk diperiksa tekanan darah, kadar gula, kolesterol, jantung, dan mata. Dulu mereka sibuk memelototi dunia. Sekarang, giliran dunia medis memelototi mereka.

Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI), yang dikenal pula sebagai SW60+, menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis ini bersama Kementerian Kesehatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid hadir. Kawan-kawan rupanya masih lihai mempertemukan dua kementerian yang mengurus dua kebutuhan mendasar manusia: kesehatan dan komunikasi.

Yang satu menjaga agar tubuh tetap berfungsi, yang lain menjaga agar informasi tetap sampai. Keduanya membutuhkan pemeriksaan berkala supaya gangguan terdeteksi sebelum berkembang menjadi masalah besar. Bedanya, kalau berita keliru bisa segera diralat, tubuh yang telanjur rusak kadang tak mudah diperbaiki.

Budi Gunadi menyampaikan tugas dari Presiden Prabowo untuk meningkatkan rata-rata usia harapan hidup penduduk Indonesia dari 72 menjadi 76 tahun.

Ia menyoroti stroke, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal yang dapat memperpendek usia jika terlambat terdeteksi. Penyakit-penyakit itu perlu mendapat perhatian serius, terutama pada kelompok lanjut usia.

Menkes juga membagikan resep sederhana yang tak membutuhkan biaya mahal: tidur sekitar tujuh jam empat puluh menit setiap hari, berolahraga minimal 30 menit selama lima hari dalam sepekan, dan makan secukupnya.

Ia menganjurkan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar pemerintah sejak 2025.

Nasihat itu terasa dekat bagi kami. Wartawan senior umumnya sudah tak sekuat dulu. Memanggul kamera, berlari mengejar narasumber, menunggu berjam-jam di depan ruang pejabat, atau berdiri lama di tengah kerumunan bukan lagi pekerjaan yang bisa dilakukan dengan enteng.

Dulu, tubuh kami perlakukan seperti kendaraan dinas yang boleh dipacu sepanjang hari. Berita harus selesai, halaman harus naik cetak, siaran harus tayang. Urusan makan, tidur, dan istirahat bisa menunggu. Sekarang, kendaraan itu mulai sering meminta masuk bengkel.

Meutya Hafid mengingatkan sisi lain yang tak kalah penting: kesehatan mental wartawan. Ia menyinggung tekanan psikologis yang muncul ketika wartawan meliput konflik atau menyaksikan peristiwa traumatis.

Pengalaman Meutya sendiri saat disandera kelompok bersenjata di Irak pada 2005, ketika bertugas sebagai wartawan Metro TV, memberi konteks nyata pada persoalan tersebut.

Meliput konflik, menghadapi ancaman, dan terus-menerus menyerap kabar buruk dapat memengaruhi pikiran, emosi, serta suasana hati. Meutya menyarankan agar wartawan memberi jeda antara satu liputan berat dan liputan berat berikutnya.

Nasihat ini berlaku pula bagi wartawan yang sudah pensiun. Sebab, meskipun kartu pegawai sudah lama disimpan, sebagian dari mereka masih membawa ruang redaksi di dalam kepala.

Di grup WhatsApp, misalnya, para suhu masih ramai membicarakan keadaan bangsa. Polarisasi pendapat sudah biasa. Seseorang mengkritik pemerintah, yang lain membela kebijakannya, sementara peserta ketiga menyodorkan sudut pandang berbeda.

Tak perlu ada yang membanting pintu grup atau mengirim pesan panjang berisi kemarahan. Mereka sudah saling mengenal, memahami pengalaman lapangan masing-masing, dan tahu bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokratis.

Mereka kenyang berdebat soal berita di ruang redaksi, menguji argumen narasumber, bahkan mempertaruhkan reputasi demi sebuah laporan.

Perbedaan pandangan politik di grup terasa lebih ringan karena mereka memahami bahwa persahabatan tak harus tumbang hanya gara-gara perbedaan pilihan.

Namun, obrolan yang panjang dan kebiasaan terus memikirkan berita tetap perlu diimbangi istirahat. Negara bisa menunggu sebentar. Tekanan darah jangan sampai ikut naik karena perdebatan yang tak kunjung selesai.