Sejak April lalu, ketika SW60+ mempertemukan para suhu kewartawanan, saya sudah merasakan bahwa organisasi ini bakal menjadi tempat yang menarik. Para anggotanya datang dari puluhan lembaga media, dengan pengalaman yang membentang dari reporter lapangan hingga pemimpin redaksi.

Dalam tulisan _Para Suhu di Ujung Waktu_, saya bercerita tentang para pendekar berita yang sudah melewati berbagai jenjang profesi. Mereka pensiun dari perusahaan, tetapi sulit pensiun dari naluri kewartawanan.

Kali ini, naluri itu membawa kami ke meja pemeriksaan kesehatan. Objek liputan bergeser: dari keadaan negara ke keadaan tubuh sendiri.

Pemeriksaan mata menjadi salah satu pengalaman yang menarik bagi saya. Saya duduk cukup lama menunggu giliran. Petugas mengukur daya penglihatan dan memeriksa angka minus-plus. Hasil pemeriksaan saya menunjukkan minus tiga untuk mata kanan dan minus 2,75 untuk mata kiri. Kok berbeda, ya? He-he-he.

Padahal, keduanya sudah puluhan tahun bekerja sama membaca huruf kecil, memeriksa dokumen, menatap layar komputer, dan mengejar kalimat yang kadang lebih licin daripada narasumbernya. Rupanya, mata pun punya catatan kinerja masing-masing.

Di meja sebelah, petugas memeriksa katarak. Di sinilah saya mulai curiga bahwa profesi wartawan menyimpan risiko yang tak tercantum dalam surat keputusan pengangkatan.

Seumur hidup membaca teks dan memelototi gambar, mata kami terus bekerja melewati lima dasawarsa. Kini, sebagian kawan mendapat indikasi katarak, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

“Saya masih bisa melihat, kok kena katarak, ya?” keluh seorang kawan. Pertanyaan itu mengandung salah paham yang cukup lazim.

Selama masih bisa membaca tulisan di layar ponsel, kita merasa penglihatan baik-baik saja. Selama masih bisa berjalan ke warung, kita menganggap kaki sehat. Selama masih sanggup makan tiga kali sehari, kita merasa lambung tak punya masalah.

Kita sering baru percaya ada gangguan ketika tubuh mengirim surat teguran dengan kop rumah sakit.

Padahal, mata yang masih bisa melihat belum tentu bebas katarak. Begitu pula tekanan darah yang tak menimbulkan pusing belum tentu normal.

Gangguan kesehatan kerap berkembang diam-diam, seperti tikus yang menggerogoti kabel di balik dinding. Rumah masih tampak utuh, lampu tetap menyala, tetapi kerusakan terus berlangsung.

Wahyu Muryadi, ketu umum SW60+ yang juga mantan pemimpin redaksi Tempo, menyampaikan catatan awal dari pelaksanaan CKG. Menurut pengamatannya, lebih dari separuh peserta mengalami hipertensi.

Mayoritas juga terindikasi katarak dan obesitas, sementara hasil pemeriksaan EKG portabel menunjukkan beberapa peserta perlu menjalani pemeriksaan jantung lebih mendalam.

Angka-angka itu masih berupa pengamatan awal, bukan laporan epidemiologis lengkap. Namun, cukup untuk membuat kami berhenti sejenak dan berpikir.

Selama bertahun-tahun, kami terbiasa memeriksa angka dalam laporan keuangan, data pemilu, statistik kemiskinan, dan hasil survei. Kini, angka-angka yang perlu kami perhatikan justru muncul dari hasil pemeriksaan tubuh sendiri.

Budiman Tanurejo, sekum SWSI, menyampaikan terima kasih atas antusiasme para peserta. Ia melihat CKG sebagai kesempatan untuk memeriksa kesehatan sekaligus memulihkan memori masa lalu.

Ruang Siwabessy hari itu menjadi tempat bertemunya kawan-kawan yang mungkin sudah belasan, bahkan puluhan tahun tak saling berjumpa secara langsung.

Seorang kawan mengungkapkan rasa syukur karena pemeriksaan jantung dan paru-parunya tak menunjukkan masalah berdasarkan pemeriksaan yang ia jalani.

Ia juga berterima kasih atas nasihat Menkes agar patuh pada petunjuk dokter dan minum obat untuk mengendalikan tekanan darah.

Pengalaman itu mengingatkan kita bahwa pemeriksaan kesehatan baru memberi manfaat penuh jika hasilnya diikuti tindakan yang tepat.

Kawan-kawan lain menyampaikan rasa terima kasih kepada pengurus dan panitia. Bagi mereka, kegiatan ini melampaui urusan medis.

Acara tersebut menjadi reuni lintas media, mempertemukan kembali para wartawan yang dahulu berbagi suka-duka saat meliput peristiwa, mengejar narasumber, dan menyelesaikan berita di bawah tekanan tenggat.

Di usia kepala tujuh dan kepala delapan, pertemuan semacam itu punya arti tersendiri. Persahabatan yang lama terputus tersambung kembali. Cerita lama kembali hidup, sementara pengalaman baru dibagikan dengan lebih santai.

Kali ini, tak ada redaktur yang berteriak meminta naskah segera dikirim. Yang ada justru petugas medis yang meminta kami mengulurkan lengan untuk mengukur tekanan darah.