Program CKG ini mengusung semboyan “Wartawan Senior Sehat, Negara Lebih Kuat.” Semboyan itu mengandung gagasan yang layak diperluas.

Wartawan yang sehat dapat terus menyumbangkan pengalaman, membimbing jurnalis muda, membantu masyarakat memahami informasi, dan menjaga ruang publik dari kabar bohong.

Pemeriksaan yang disediakan meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, skrining risiko TBC dan hepatitis, pemeriksaan jantung, konsultasi dokter, serta tes IVA untuk deteksi dini kanker serviks bagi peserta perempuan yang memilih mengikutinya.

Peserta yang menunjukkan indikasi risiko kesehatan dapat menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau rumah sakit dengan memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan.

Namun, satu kali pemeriksaan belum menyelesaikan seluruh urusan kesehatan. Hasilnya perlu ditindaklanjuti, obat harus diminum sesuai petunjuk dokter, dan kebiasaan hidup perlu diperbaiki.

SW60+ dapat mengambil peran lebih jauh dengan mengingatkan anggota agar rutin memeriksa kesehatan, mengadakan diskusi kesehatan mental, menyelenggarakan kegiatan jalan pagi, dan membantu anggota memahami akses layanan kesehatan.

Dengan begitu, kegiatan ini tak berhenti sebagai acara seremonial yang fotonya ramai beredar sehari, lalu terlupakan pada hari berikutnya. Pemeriksaan kesehatan perlu menjadi pintu masuk menuju kebiasaan hidup yang lebih baik.

Saya membayangkan para suhu itu kelak kembali berkumpul. Mereka tetap memperdebatkan politik, pers, dan masa depan negeri. Bedanya, di sela-sela perdebatan, mereka saling bertanya apakah tekanan darah sudah diperiksa, apakah obat sudah diminum, dan kapan terakhir kali mata diperiksakan.

Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar kurang gagah dibandingkan membahas pergantian kabinet. Namun, bagi orang yang sudah melewati usia 60 tahun, perhatian semacam itu jauh lebih berharga daripada seribu komentar di grup WhatsApp.

Saya juga memberi hormat kepada kawan paling senior yang tetap berkenan hadir meski menggunakan tongkat: Abdullah Alamudi, 86 tahun. Juga Usamah Said, 84 tahun.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat berkumpul dan menjaga persahabatan tetap hidup, meski tubuh tak lagi sekuat masa muda.

Usia panjang memang menyimpan keberuntungan karena kita masih diberi waktu. Namun, waktu itu juga menuntut tanggung jawab: menjaga tubuh agar tetap mampu menjalankan hal-hal yang ingin kita kerjakan.

Kita tak bisa menawar semua risiko penyakit, tetapi kita bisa memeriksakan diri, memperbaiki pola makan, bergerak teratur, tidur cukup, dan mengikuti saran dokter.

Pada akhirnya, para wartawan senior tak perlu lagi membuktikan keberanian dengan berlari mengejar narasumber. Mereka sudah melewati masa itu.

Kini, tantangannya ialah menjaga tubuh agar tetap sanggup mengabdi. Mereka telah menghabiskan puluhan tahun memeriksa dunia. Sekarang, mereka belajar memeriksa diri sendiri.

Kalau ada yang bertanya apa berita paling penting dari pertemuan 175 wartawan senior itu, jawaban saya sederhana: hari itu, para pemburu berita bersedia menjadi berita bagi diri mereka sendiri.

Mereka datang membawa pengalaman panjang, lalu pulang dengan hasil pemeriksaan yang mungkin menyenangkan, mungkin juga mengkhawatirkan.

Keduanya sama-sama berguna. Sebab, bagi wartawan, fakta harus diterima sebagaimana adanya, termasuk fakta yang muncul dari tubuh sendiri.

Kita boleh pensiun dari kantor, tetapi jangan buru-buru pensiun dari kehidupan. Selama masih ada yang bisa ditulis, diajarkan, diperjuangkan, dan dibagikan kepada generasi berikutnya, para suhu masih punya pekerjaan.

Hanya saja, sebelum terus menjaga akal sehat bangsa, mereka perlu memastikan bahwa mata, jantung, dan tubuhnya sendiri masih sanggup diajak bekerja sama.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis