Jakarta, koransulindo.com – Bencana alam gempa bumi yang terjadi di NTT menyisakan duka yang mendalam bagi para korban. Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang kawasan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berdampak parah pada fasilitas umum serta kondisi para pasien yang tengah menjalani perawatan.
Di tengah situasi krusial tersebut, tiga calon dokter spesialis kebidanan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yakni dr Ras Adiba Riza Moeis, dr Alfi yuniati SpOG, dr Indira Laksmitha Yasmine dan dr Adeprita menunjukkan aksi kemanusiaan yang berdedikasi tinggi. Ketiga residen yang dikirim ke Ruteng untuk mengakhiri masa pendidikannya tersebut turut merasakan langsung guncangan gempa saat berada di lokasi penugasan.
Saat dihubungi, salah satu dokter mengungkapkan, meskipun dalam kondisi darurat dan ruang perawatan yang rusak parah, pelayanan medis tetap berjalan. Banyak pasien, termasuk ibu-ibu melahirkan, harus dirawat dan ditangani di halaman terbuka dengan bantuan tenda-tenda darurat yang didirikan oleh TNI dan Polri.

Pihak FKUI sebenarnya telah memberikan izin resmi bagi ketiga calon dokter spesialis tersebut untuk meninggalkan lokasi dan kembali ke Jakarta demi keselamatan mereka. Namun, melihat membeludaknya jumlah pasien serta kondisi yang memprihatinkan, ketiganya sepakat menolak pulang dan memilih bertahan di Ruteng.
“Sebenarnya dibolehin pulang karena aturan FKUI, tapi kita mau bantu aja, jadi dibikinin surat tugas untuk bencana alam,” ujar salah satu dokter, dr. Ras Adiba Riza Moeis.
Dedikasi para dokter yang rela bertugas di udara terbuka tanpa mengharapkan imbalan materi maupun kepentingan politik ini menjadi wujud nyata pengabdian kepada sesama bangsa. Aksi keteladanan ini diharapkan mendapat simpati dan penghargaan dari masyarakat serta pemerintah atas semangat kemanusiaan yang ditunjukkan. [IQT]





