Sekitar Abad 17 di pulau Mauritius, Madagaskar, samudera Hindia terdapat spesies burung yang tidak bisa terbang. Burung tersebut ialah ‘Dodo’ atau nama ilmiahnya (Raphus Cucullatus). Kini ia telah lama punah, tetapi catatan pelaut, naturalis, dan ilustrator Eropa pada abad ke-16 hingga ke-17 masih menyimpan jejak keberadaannya.
Dodo adalah burung yang tidak bisa terbang. Tubuhnya relatif besar, dengan berat diperkirakan mencapai 10–18 kilogram. Bulu-bulunya berwarna abu-abu keabu-abuan, paruhnya besar dan melengkung, serta memiliki ekor pendek berbentuk rumbai. Karena hidup di pulau terpencil tanpa predator alami selama ribuan tahun, Dodo berevolusi tanpa kebutuhan untuk terbang.
Dodo berkerabat dekat dengan burung Rodrigues solitaire yang juga telah punah namun masih ada spesies burung yang masih lestari hingga saat ini dan masih berkerabat dengan burung Dodo yakni burung merpati Nicobar.
Dodo memiliki warna bulu yang keabu-abuan dan merupakan jenis burung pemakan buah-buahan. Dodo juga membuat sarangnya di tanah tidak seperti burung lainya yang biasanya membuat sarang di atas pohon.
Dodo hidup di hutan-hutan Mauritius. Ia merupakan burung pemakan buah-buahan (frugivora), memanfaatkan hasil hutan tropis yang melimpah. Berbeda dengan banyak burung lain yang bersarang di pepohonan, Dodo membuat sarangnya di tanah. Di situlah ia bertelur dan membesarkan anaknya.
Kehidupan yang damai tanpa ancaman predator membuat Dodo tidak memiliki naluri takut terhadap manusia. Ketika pelaut Portugis dan kemudian Belanda mendarat di Mauritius pada akhir abad ke-16, Dodo menjadi sasaran empuk perburuan.
Awal Mula Kepunahan
Kepunahan Dodo tidak terjadi dalam semalam. Faktor utama adalah aktivitas manusia setelah kolonisasi Mauritius oleh bangsa Eropa. Para pelaut memburu Dodo sebagai sumber makanan. Selain itu, mereka juga membawa hewan-hewan asing seperti babi, anjing, dan tikus, yang kemudian memangsa telur-telur Dodo di sarang tanahnya.
Dalam kurun waktu kurang dari satu abad sejak kedatangan manusia, populasi Dodo merosot drastis. Catatan terakhir mengenai penampakan Dodo diperkirakan terjadi sekitar tahun 1662. Pada akhir abad ke-17, burung ini dinyatakan punah.
Seiring waktu, Dodo menjadi simbol kepunahan yang disebabkan oleh campur tangan manusia. Namanya bahkan masuk ke dalam idiom bahasa Inggris, “as dead as a dodo”, untuk menggambarkan sesuatu yang benar-benar telah hilang.
Sisa-sisa kerangka Dodo kini tersimpan di beberapa museum dunia, termasuk di Oxford University Museum of Natural History. Selain itu, sosok Dodo juga populer dalam karya sastra klasik Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll, yang turut mengabadikan burung ini dalam imajinasi modern.
Kisah Dodo adalah pengingat keras tentang rapuhnya keseimbangan alam. Di sebuah pulau terpencil yang dahulu nyaris tanpa gangguan, satu spesies dapat lenyap hanya dalam hitungan puluhan tahun setelah manusia datang. Dari Mauritius, sejarah itu bergaung ke seluruh dunia: bahwa kepunahan bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan juga catatan tentang tanggung jawab manusia terhadap bumi yang ditinggalinya. [IQT]




