Seabad Revolusi Oktober 1917

Seabad Revolusi Oktober 1917

Berkat Revolusi Oktober, pemuda Indonesia mendapat senjata ideologi paling ampuh dalam menghadapi penjajahan kolonial Belanda. Ia tidak sekadar ideologi yang menyadarkan, tapi juga membimbing gerakan revolusioner

133
BERBAGI
Lenin ketika memimpin Revolusi Oktober 1917 [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo – Revolusi Oktober yang dipimpin kaum Bolshevik dengan Lenin sebagai tokoh utamanya genap berusia 100 tahun pada 2017. Rakyat dan kaum progresif revolusioner sedunia memperingati kelahiran negeri sosialis pertama di dunia dengan berbagai kegiatan.

Tanpa kemenangan Revolusi Oktober 1917, Marxisme mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk bisa mencapai Indonesia. Berkat Revolusi itu, kaum pemuda Indonesia yang pada tahun 1920-an terlibat dalam gerakan melawan penjajahan kolonial Belanda mendapat senjata ideologi paling ampuh untuk menyadarkan massa kelas buruh dan sektor pekerja lainnya serta membimbing gerakan revolusioner.

Revolusi Oktober merupakan sumber inspirasi abadi bagi perjuangan kelas buruh dan rakyat pekerja sedunia untuk membebaskan dirinya dari penghisapan dan penindasan kaum imperialis dan kaum reaksioner dalam negeri.

Revolusi Oktober juga menunjukkan keberhasilan kaum Bolshevik dan Lenin dalam menerapkan Marxisme sesuai dengan kondisi konkret Rusia ketika itu. Revolusi Oktober membuktikan kebenaran teori Lenin “mata rantai paling lemah”. Lenin melihat keterbelakangan ekonomi Rusia ketika itu bukan sebagai halangan untuk melancarkan Revolusi dan membangun Sosialisme. Dikombinasi dengan unsur-unsur termaju dari kelas buruh yang terorganisasi dalam sebuah Partai Pelopor, gerakan kelas buruh dan kaum tani yang paling militan serta paling terorganisasi, Lenin memimpin Revolusi Oktober mencapai kemenangan.

Di Rusia, kapitalisme berkembang dan hidup berdampingan dengan struktur perbudakan dan feodal yang masih bertahan di pedesaan. Oleh karena itu revolusi bersifat borjuis demokratis dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Tsar dan menghancurkan sisa-sisa perbudakan dan feodalisme. Pimpinan proletariat dan persekutuan dengan kaum tani miskin merupakan jaminan revolusi didorong maju menuju revolusi sosialis.

Apa pelajaran dan warisan yang ditinggalkan oleh Revolusi Oktober?

Setelah keruntuhan Uni Soviet dan kubu “sosialis” yang dipimpin partai-partai revisionis modern dan kemudian disusul dengan restorasi kapitalis di Tiongkok pimpinan Deng Xiao-ping, gerakan komunis internasional dan gerakan rakyat revolusioner mengalami kemunduran besar dan sampai sekarang masih belum bisa memulihkan seluruh kekuatannya. Dalam periode dimana faktor dan kondisi subjektif masih lemah dan terpecah-pecah dan oleh karena itu belum mampu memberi satu pimpinan terpusat kepada gerakan massa revolusioner anti-imperialis yang terus berkembang, kampanye anti-komunis dan anti-sosialis yang dilancarkan kaum imperialis dan kaum reaksioner dalam negeri mendapat bantuan dari kaum renegat (pengkhianat), kaum revisionis modern dan kaum sosial demokrat. Dalam situasi seperti ini semakin dirasakan perlunya melancarkan perjuangan ideologi untuk mempertahankan dan membela teori dan praktek yang telah membawa Revolusi Oktober mencapai kemenangan dan pembangunan Sosialisme.

Pertama, peran partai kelas proletar sebagai satu-satunya organisasi politik yang dapat membawa gerakan rakyat revolusioner menuju kemenangan. Tanpa Partai Pelopor yang mampu menerapkan Marxisme-Leninisme dengan kreatif dan sesuai dengan keadaan konkret suatu negeri, tak mungkin kemenangan bisa dicapai. Partai Bolshevik yang dibangun dengan prinsip-prinsip Leninis merupakan salah satu syarat pokok yang menjamin kemenangan revolusi.

Kedua, peran aliansi dengan kaum tani sebagai sekutu terdekat dan terpercaya dari kelas buruh. Lenin, mempunyai kepercayaan besar terhadap potensi dan kemampuan kaum tani untuk bersama-sama berjuang menggulingkan rezim Tsar dan menghancurkan sisi-sisa perbudakan dan feodalisme di pedesaan Rusia. Sikap Lenin ini bertentangan dengan sikap Trotsky yang sangat meremehkan dan melihat kaum tani sebagai kekuatan yang akan menghalangi pembangunan Sosialisme.

Kaum tani masih merupakan mayoritas penduduk di sebagian besar negeri di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Potensi kaum tani sama sekali tidak boleh diremehkan. Di negeri-negeri setengah jajahan setengah feodal seperti Indonesia, kaum tani adalah kekuatan pokok Revolusi. Seperti di Rusia, dan juga di Tiongkok, tahap revolusi demokratis untuk menghancurkan struktur feodal di pedesaan harus diselesaikan sebelum masuk tahap revolusi sosialis.

Ketiga, peran kekuatan bersenjata rakyat. Tentara Merah Buruh dan Tani dibangun segera setelah kemenangan Revolusi Oktober Bolshevik 1917. Pada 23 Februari 1918, tanggal diumumkannya kemenangan pertama Tentara Merah melawan Jerman pada hari-hari terakhir kampanye Rusia dalam Perang Dunia I, dianggap secara resmi sebagai hari pembangunan Tentara Merah. Pentingnya dan perlunya rakyat mempunyai tentaranya sendiri juga dibuktikan oleh pengalaman Revolusi Tiongkok. Strategi Perang Rakyat Tahan Lama telah mengharuskan rakyat Tiongkok membangun Tentara Pembebasan Rakyat jauh sebelum kemenangan terakhir dicapai. Baik strategi pemberontakan maupun strategi perang rakyat tahan lama sama-sama membutuhkan adanya kekuatan rakyat bersenjata. Perebutan kekuasaan politik tidak mungkin terjadi dengan damai tanpa kekerasan. Kelas borjuasi tidak mungkin menyerahkan kekuasaannya dengan sukarela. Hanya teori revisionis modern yang percaya transisi ke sosialisme secara damai.

Keempat, pengalaman dan pelajaran penting yang ditinggalkan Revolusi Oktober adalah perebutan kekuasaan politik harus dikonsolidasi dengan menghancurkan mesin kekuasaan lama dan menggantikannya dengan kediktaturan proletariat dan tani demokratik. Tanpa menghancurkan seluruh aparat kekuasaan rezim Tsar, tak mungkin membangun aparat kekuasaan proletariat dan kaum tani yang diperlukan untuk melawan dan menindas musuh-musuh revolusi dan membela serta mempertahankan kekuasaan yang baru lahir.

lenin-dalam-revolusi-oktober

Kediktaturan Proletar
Kediktaturan proletar adalah masalah pokok. Banyak orang yang menamakan dirinya Marxis atau komunis tidak mengakui arti penting dari kediktaturan proletar. Kaum Marxis dan komunis gadungan mengaku ingin membangun sosialisme, tapi tanpa kediktaturan proletar. Mereka menolak kediktaturan proletar karena menganggapnya bertentangan dengan demokrasi.

Itulah yang terjadi dengan apa yang dinamakan euro-komunisme pada 1970 dan 80-an. Partai Komunis Perancis, Italia dan Spanyol adalah partai-partai yang mewakili aliran euro-komunisme. Mereka tetap menganggap dirinya sebagai komunis tapi tidak mengakui kediktaturan proletar. Mereka menganggap sosialisme dapat dibangun melalui reformasi-reformasi terhadap sistem kapitalis, melalui jalan “demokratis”. Mereka tidak bertujuan menumbangkan sistim kapitalisme, oleh karena itu tidak melihat pentingnya kediktaturan proletar.

Pengaruh berbagai aliran ideologi borjuis dan borjuis kecil yang masih kuat dewasa ini seperti sosial demokrasi dan reformisme di kalangan mereka yang dikategorisasi “kiri” memudahkan ditinggalkannya prinsip kediktaturan proletariat sebagai syarat untuk membangun Sosialisme. Semisal, apa yang disebut revolusi Bolivariana di Venezuela dan Sosialisme Abad ke-21. Kita mendukung proses yang terjadi di Venezuela disebabkan oleh karakter anti-imperialis dan proyek-proyek sosial ekonomi yang menguntungkan rakyat. Tetapi tidak bisa dilupakan bahwa di Venezuela tidak /belum ada perubahan struktur ekonomi, tidak ada penghancuran seluruh mesin negara yang diwarisi dari sistem ekonomi yang sebelumnya, tidak ada kediktaturan demokrasi rakyat atau kediktaturan proletariat.

Proyek-proyek sosial dibiayai oleh hasil penjualan minyak ketika harga minyak tinggi. Sekarang harga minyak turun drastis. Venezuela menghadapi kesulitan ekonomi besar, perlawanan kaum oposisi reaksioner yang memenangkan pemilu legislatif pada 2015 dan tekanan serta ancaman agresi imperialisme AS.

Mengatakan Venezuela sebagai sebuah negara sosialis adalah sebuah kesalahan dan penyelewengan dari Marxisme-Leninisme. Sosialisme bukan berarti hanya meningkatkan taraf hidup rakyat, tapi pertama-tama hubungan produksi sosialis harus menjadi tujuan dari perubahan struktur ekonomi guna akhirnya menghapuskan penghisapan manusia oleh manusia. Dan proses pembangunan hubungan produksi sosialis hanya dapat dijamin dengan berkuasanya kediktaturan proletariat (kediktaturan demokrasi rakyat di negeri setengah jajahan setengah feodal).

Kelima, keberhasilan yang dicapai dalam penggulingan rezim Tsar dan pembangunan Sosialisme sebetulnya telah membuktikan keunggulan tak terbantahkan dari sistem ekonomi dan sosial yang mengutamakan dan mengabdi kepada kepentingan dan kebutuhan mayoritas rakyat yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki hak untuk hidup layak sebagai manusia. Lenin dan Stalin mewarisi sebuah negeri yang hancur dan rakyat kelaparan sebagai akibat Perang Dunia I dan juga sistem kapitalis dan sisa-sisa perbudakan dan feodalisme di pedesaan luas Rusia.

Begitu perjanjian Brest yang ditandatangani pada 1918, berarti Rusia secara resmi mengakhiri partisipasinya dalam Perang Dunia I. Namun, kaum Bolshevik langsung harus menghadapi perlawanan sengit dan sekarat dari kaum reaksioner dalam negeri yang mendapat dukungan penuh dari koalisi imperialis yang terdiri dari Inggris, Perancis, AS, Jepang, Italia, Kanada dan para sekutu kecilnya seperti Serbia, Polandia, Cekoslovakia. Mereka ingin mencekik negara sosialis yang baru lahir.

Berdasarkan Wikipedia yang tidak dikelola oleh orang komunis, tapi semua orang bisa membaca di situ tentang serangan koalisi kaum imperialis besar dan kecil terhadap kekuasaan proletar pertama di dunia.

Misalnya, di situ ditulis intervensi koalisi dimulai bulan Agustus 1918. Jepang masuk melalui Vladivostok dengan tentara berjumlah 70 ribu. Pasukan ini kemudian diperkuat oleh pasukan Inggris, Amerika (Resimen Infanteri 27 dan 31 dari Filipina, dan Resimen Infanteri 12, 13, 62 dari Kamp Fremont), Kanada, Perancis dan Italia. Pada 18 Desember 1918, Perancis menduduki Odessa. Dalam kampanye ini terlibat juga pasukan dari Polandia dan Yunani. Mereka datang untuk membantu Tentara Putih di bawah Jenderal Denikin. Tapi, bulan April 1919, mereka mundur sebelum kekuatan Tentara Putih dikalahkan ketika bergerak menuju Moskow. Lalu 14 November 1920, sang Jenderal bersama pasukannya melarikan diri naik kapal Sekutu.

Kontradiksi karena kepentingan yang berbeda di kalangan kekuatan imperialis dan juga Tentara Putih telah “membantu” Tentara Merah untuk mengalahkan semua musuh-musuhnya. Sebuah kemenangan yang dibayar sangat mahal oleh rakyat Rusia. Bayangkan, baru selesai Perang Dunia I, kemudian menyusul Perang Dalam Negeri. Semua itu harus dihadapi oleh sebuah kekuasaan yang baru saja didirikan. Sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengkonsolidasi kekuasaan . Dalam keadaan ekonomi dan infrastruktur hancur lebur, pabrik tak berproduksi, kelaparan semakin berat itulah Lenin pada 1921 mengumumkan New Economic Policy (NEP), yang berarti mundur strategis guna menghidupkan kembali ekonomi.

Tapi, kaum imperialis dan kaum reaksioner di negeri-negeri anteknya serta media massa borjuis yang mereka kuasai tidak mempertimbangkan fakta sejarah itu. Mereka selalu menggunakan angka kematian tinggi sebagai akibat perang dan bencana alam itu sebagai korban pembunuhan, kekejaman dan teror rezim sosialis/komunis guna menyudutkan dan menjauhkan rakyat dari perjuangan untuk Sosialisme.

Di pihak lain, kaum revisionis modern pendukung restorasi kapitalis di Tiongkok menggunakan NEP untuk membenarkan pengkhianatan Deng Xiao-ping terhadap Sosialisme. Sebuah pembenaran yang absurd karena kondisi ekonomi yang memaksa Lenin mengambil kebijakan NEP sama sekali bukan situasi konkret Tiongkok yang dihadapi Deng ketika ia melakukan kudeta pada 1976. Pada tahun itu Tiongkok sudah menyelesaikan tahap Revolusi Demokrasi Baru dan masuk dalam tahap pembangunan sosialisme selama lebih dari 30 tahun dan mencapai kemajuan besar di segala bidang.

Keenam, hasil gemilang dan konkret dari pembangunan Sosialisme dibuktikan oleh kemampuan Uni Soviet mengalahkan dan mengusir kaum agresor fasis Jerman. Dengan demikian Sosialisme di Uni Soviet telah menyelamatkan Eropa dari cengkeraman fasisme Hitler. Dengan sendirinya ini juga membuktikan tesis Lenin bahwa Sosialisme dapat dibangun di satu negeri, bahkan di satu negeri yang perkembangan ekonominya terbelakang, asal dipenuhi syarat-syarat subjektif seperti yang sudah disebutkan.

Kemenangan pembangunan Sosialisme di Uni Soviet telah membuktikan kebangkrutan teori Revolusi Permanen yang diajukan Trotsky dan masih terus dipertahankan oleh para pengikutnya. Salah satu cara yang digunakan kaum Trotskis untuk menyudutkan dan menghapus fakta sejarah akan sukses pembangunan Sosialisme adalah dengan terus menyebar kebohongan dan mencap Sosialisme di Uni Soviet sebagai sebuah ”Negara Buruh Bercacat”. [Syarifah Muklas]