Ilustrasi: Ventilator berbasis Ambu Bag dan Cam dikembangkan BPPT/Antara

Koran Sulindo – Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) segera memproduksi massal ventilator buatan anak bangsa. Sebanyak lima jenis ventilator yang dikembangkan anggota Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 telah berhasil mengantongi Izin Edar dari Kementerian Kesehatan.

“Bayangkan, riset dan inovasi yang biasanya di proposal dilakukan minimal dalam satu tahun anggaran, ini hanya dalam hitungan tiga bulan, sudah menghasilkan produk-produk inovasi yang berkualitas,” kata Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro,  di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Jumat (19/6/2020).

Inovasi ini merupakan bagian dari 57 produk inovatif yang pernah dicanangkan Presiden Joko Widodo pada Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2020.

Menurut Bambang, keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi, kemitraan, dan kerja sama.

“Adanya pandemi Covid-19 terbukti dapat menyatukan tekad dan semangat para inventor dan inovator dari kalangan pemerintah, akademisi, dan pihak swasta untuk berkolaborasi dan bekerja sama mengatasi pandemi bersama-sama,” kata Bambang.

Ventilator pertama bernama BPPT3S-LEN. Ventilator berbasis ambu bag dan cam dikembangkan BPPT bersama PT LEN. BPPT3S-LEN telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI ADK 20403020870. Sekarang ini PT LEN sedang proses memproduksi 100 unit.

Yang kedua bernama GERLIP HFNC-01, yang dikembangkan LIPI bekerja sama dengan PT Gerlink Utama Mandiri. Penggunaan jenis ventilator High Flow Nasal Cannula (HFNC) untuk mencegah pasien tidak sampai gagal nafas dan tidak harus diinkubasi menggunakan ventilator invasive dengan cara memberikan terapi oksigen beraliran tinggi dan sampai saat ini sudah diproduksi lima unit. GERLIP HFNC-01 telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI ADK 20403020951.

Ventilator ketiga dinamai Vent-I Origin, yang merupakan model Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Produk ini dikembangkan Yayasan Pembina Masjid Salman ITB bersama Unpad dan ITB. Vent-I telah mengantong Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI ADK 20403020696. Hingga Jumat (19/6/2020) sebanyak 139 unit Vent-I produksi pertama yang telah didistribusikan kepada RS yg membutuhkan. Sementara itu, total target produksi Vent-I sekitar 800-900 unit.

Sedangkan Covent-20 merupakan ventilator hasil kolaborasi dari para peneliti di Fakultas Teknik UI (FTUI) dan Fakultas Kedokteran UI (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), RSUP Persahabatan Jakarta, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II Jurusan Teknik Elektromedik. COVENT-20 mudah dibawa dan dapat digunakan dalam keadaan darurat. COVENT-20 memiliki dua mode operasi yaitu mode Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dan Continuous Mandatory Ventilation (CMV).

Mode Ventilasi CPAP dioperasikan ketika kondisi pasien masih sadar. Alat ini untuk membantu oksigenasi ke paru-paru pasien, sedangkan Mode CMV dioperasikan ketika pasien tidak sadar atau mengalami kesulitan mengatur pernafasannya untuk mengambil alih fungsi pernafasan pasien. Kedua mode tersebut dapat digunakan pada saat pasien berada di rumah maupun dalam perjalanan (di mobil ambulans), namun tidak digunakan di ruang isolasi.

COVENT-20 telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES AKD 20403021003 dan telah diproduksi sekitar 300 unit oleh beberapa mitra Produsen Alat Kesehatan (Alkes), di antaranya PT Enesers Mitra Berkah, PT Graha Teknomedika, dan PT PINDAD, serta dikalibrasi oleh beberapa mitra Perusahaan Kalibrasi Alkes.

Terakhir, DHARCOV-23S, yaitu ventilator Emergency CMV dan CPAP berbasis pneumatic DHARCOV 23S. Ventilator ini  dikembangkan oleh BPPT bekerja sama dengan PT Dharma Precission Tools dan telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI AKD 20403020892. Sejak 19 Juni lalu Dharcov-23S telah memasuki fase produksi masal.

Total unit dalam batch pertama yang akan diproduksi adalah sebanyak 200 unit ventilator, sampai dengan 19 Juni 2020 telah selesai diproduksi dan terkalibrasi sebanyak 100 unit, sedangkan sisanya akan selesai pada akhir minggu ketiga Juni 2020.

Selain kelima ventilator tersebut, BPPT bekerja sama dengan PT Polijaya juga sedang mengembangkan BPPT3S-Poly yang masih dalam uji sertifikasi.

Adapun Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Toyota dan industri lokal, mengembangkan tiga jenis ventilator, yakni versi fully featured ventilator (high end), versi low cost dan versi ambu bag conversion.

ITS melalui Tim Ventilator Departemen Teknik Fisika ITS telah menciptakan simple and low-cost mechanical ventilator atau robot ventilator. [RED]

BAGIKAN