Ini Padi Opung, Pak Presiden.
Ini ada pot, Pak.
Ini kami riset, bukan sekadar pot biasa.
Kami meriset dengan ukurannya, dengan bentuknya, bahkan dengan kemungkinan potensi gramasinya.

Jika satu keluarga ada lima orang, dia tidak punya lahan, tapi ingin menanam, maka kami sudah susun sekian pot untuk padi. Supaya tidak meluas, kami buatkan kemudian sistem rak ke atasnya. Maka disimulasikan: dalam tiga kali panen dalam satu musim, bila dihitung dengan ia beli secara manual, itu masih bisa menabung Rp 100 sampai 200 ribu, Pak.

Apa tujuan dari semua ini? Persatuan Indonesia. Sila ketiga. Kami berharap bisa membersamai dengan riset ini.

Ini bukan program untuk panen. Ini hanya meriset, melakukan pendampingan. Bila dari Kementerian Pertanian melihat ini ada potensi untuk bisa dikerjasamakan, kami men-support dengan sepenuhnya, Pak.

Program-program Bapak, kita optimalkan risetnya. Kami sampaikan: bila dilihat ada kemungkinan yang bisa bermanfaat, sungguh semua yang terkumpul di sini adalah gerakan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia, Pak.

Di belakang kami ini ada layar, kita sedang tersambung dengan seluruh perwakilan di 38 provinsi.

Empat bulan lalu. Silakan, Pak, dari Papua, dari Sragen—kampungnya Pak Menko. Lampung Selatan juga ada di sini. Sulawesi, kampungnya Pak Amran, ada di sini, Pak.

Empat bulan yang lalu sudah ada yang nanam. Di samping rumahnya, di samping masjid. Ada yang punya kebun di belakang, 2 hektar—dia tanam cabai, Pak.

Hari ini mereka bangga di hadapan presidennya. Mereka siap mendukung program ketahanan pangan yang dioptimalkan nanti oleh Kementerian Pertanian.

Kita bersatu padu demi kerakyatan dan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terakhir, Pak Presiden. Sesungguhnya kami ingin me-launching ini di Februari. Datang Ramadan, datang Idulfitri. Kuasa Allah mengalihkan ke bulan April.

April. Rabu. Hari ini. Dua hari setelah lahirnya Raden Ajeng Kartini.
Dua hari—hari Senin lalu—lahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Masehinya bulan April 571 Masehi.

Nabi Muhammad diberikan Al-Qur’an. Di dalam Qur’an ada ajaran: minadz dzulumāti ilan nūr. R.A. Kartini, pada usia 10 tahun dipingit di Rembang, diberikan hadiah Qur’an. Dari situ dia terinspirasi menulis buku: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pak, momen ini sekaligus kami ingin tunjukkan:
Mulai hari ini, tidak ada gelap lagi.
Semuanya terang.
Kita akan bangun ke depan:
Indonesia terang.
Indonesia terang.
Indonesia terang.
Menuju generasi emas 2045.

Terima kasih atas seluruh partisipasi untuk menghadirkan ini. Saya ingin menekankan pertama pada seluruh keluarga besar Gerina:
Anda, saya, kita, adalah orang-orang yang digerakkan dengan hati yang paling dalam.

Bukan ingin bertransaksi, berniaga, mencari proyek. Kita adalah orang-orang yang, dengan rasa cinta pada Indonesia ini, berkumpul untuk mencoba berkontribusi, memberikan yang terbaik. Mari kita sama-sama berkolaborasi memberikan nilai kebaikan.

Terima kasih, Pak Setiawan Ikhlas, yang telah memberikan tempat ini sampai kapanpun sebagai hibah untuk diriset. Ini nanti, Pak, akan menjadi masjid —tempat yang Bapak duduk sekarang.

Dan ke depan kita berharap seluruh saudagar kita bersatu, rakyat kita bersatu, pemerintah kita bersama-sama, dan dengan berbahagia, kita songsong Indonesia Emas 2045.

Terakhir, Pak, tidak mungkin ini bisa berjalan kalau tidak ada pembinaan sampai ke desa. Maka mohon kita bisa juga dibimbing bersama-sama.

Hadir dari Tripoli langsung, Pak Rektor Universitas Dakwah Islam, Dr. Abu Bakar Abusirar. Dia mendukung kita, Pak. Memberikan beasiswa untuk 5.000 orang secara gratis untuk kuliah di Universitas Dakwah Islam. Mereka akan pulang lagi, langsung membersamai desa-desanya, daerahnya, supaya percepatan Indonesia Emas itu bisa kita gapai.

Terima kasih untuk semua. Mohon maaf, pasti ditemukan kekurangan.
Tidak ada yang lain kecuali atas dasar cinta pada Indonesia yang kita cintai ini. Tetap sehat, tetap baik.

Bila saya katakan:
Indonesia!
Tolong jawab dengan:
Emas!

Indonesia!
Emas!
Indonesia!
Emas!
Indonesia!
Emas!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis