Diagram rinci Stalag Luft III ini menunjukkan rute empat terowongan yang digali oleh para tahanan dalam Pelarian Besar. Para tahanan memberi julukan terowongan-terowongan itu Tom, Dick, Harry, dan George. (Sumber: Warfare History Network)

The Great Escape adalah salah satu kisah pelarian tawanan perang paling terkenal dalam sejarah Perang Dunia II.

Pada malam 24 Maret 1944, sebanyak 76 tawanan perang Sekutu berhasil keluar dari Stalag Luft III, kamp tawanan perang Jerman di Sagan.

Pelarian tersebut tidak terjadi secara spontan. Selama sekitar satu tahun, ratusan tawanan mempersiapkan sebuah rencana besar dengan menggali tiga terowongan bernama Tom, Dick, dan Harry.

Mereka juga membuat dokumen palsu, pakaian sipil, peta, kompas, hingga berbagai perlengkapan untuk membantu perjalanan setelah keluar dari kamp.

Namun, keberhasilan tersebut harus dibayar mahal.

Dari 76 tawanan yang berhasil keluar, 73 akhirnya ditangkap kembali.

Sebanyak 50 orang kemudian dibunuh oleh Gestapo, sementara hanya tiga orang yang berhasil mencapai wilayah aman tanpa ditangkap kembali.

Lantas, bagaimana kisah The Great Escape sebenarnya?

Apa Itu The Great Escape?

The Great Escape adalah nama yang digunakan untuk menyebut pelarian massal tawanan perang Sekutu dari Stalag Luft III pada Maret 1944.

Stalag Luft III merupakan kamp tawanan perang yang digunakan untuk menahan personel udara Sekutu. Kamp tersebut berada di Sagan, wilayah yang saat itu merupakan bagian dari Jerman.

Lokasinya sekarang berada di sekitar Żagań, Polandia.

Para tawanan di kamp ini berulang kali mencoba mencari cara untuk melarikan diri.

Salah satu rencana terbesar akhirnya dipimpin oleh perwira Royal Air Force (RAF) bernama Roger Bushell.

Rencana tersebut kemudian berkembang menjadi operasi besar yang melibatkan sekitar 600 tawanan dalam berbagai pekerjaan persiapan.

Roger Bushell dan Rencana Pelarian dari Stalag Luft III

Roger Bushell merupakan perwira RAF kelahiran Afrika Selatan yang menjadi tokoh penting dalam The Great Escape.

Ia tiba di Stalag Luft III pada Mei 1942 setelah sebelumnya beberapa kali mencoba melarikan diri dari penahanan Jerman.

Di kamp tersebut, Bushell memimpin X Committee, sebuah komite rahasia yang mengoordinasikan kegiatan pelarian para tawanan.

Pada 1943, Bushell dan para tawanan lainnya merancang rencana untuk menggali tiga terowongan sekaligus.

Terowongan tersebut diberi nama Tom, Dick, dan Harry.

Penggunaan tiga terowongan merupakan bagian dari strategi mereka.

Jika salah satu terowongan ditemukan penjaga, masih ada terowongan lain yang dapat digunakan untuk melanjutkan rencana pelarian.

Tom, Dick, dan Harry: Tiga Terowongan Rahasia

Membangun terowongan di Stalag Luft III bukan pekerjaan mudah.

Kondisi tanah di sekitar kamp yang berpasir membuat para tawanan menghadapi masalah besar, terutama ketika harus menyembunyikan pasir hasil penggalian.

Meski demikian, mereka tetap mengerjakan tiga terowongan:

• Tom, yang akhirnya ditemukan penjaga Jerman pada September 1943.
• Dick, yang tidak digunakan sebagai jalur utama dalam pelarian.
• Harry, yang akhirnya menjadi terowongan untuk melarikan diri.

Harry digali dari Hut 104 dan memiliki panjang sekitar 102 meter.

Setelah Tom ditemukan, perhatian para tawanan semakin terpusat pada Harry.

Pekerjaan dilakukan secara rahasia dan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Sekitar 600 Tawanan Terlibat dalam Persiapan

The Great Escape bukan operasi yang dikerjakan oleh beberapa orang saja.

Sekitar 600 tawanan perang terlibat dalam berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan persiapan pelarian.

Tidak semuanya bertugas menggali terowongan.

Sebagian membuat dokumen identitas palsu.

Ada pula yang menyiapkan pakaian sipil, peta, kompas, makanan, uang, dan berbagai perlengkapan perjalanan.

Sekitar 200 tawanan kemudian dipilih untuk mencoba melarikan diri melalui Harry.

Persiapan tersebut berlangsung selama sekitar satu tahun.

Setiap orang memiliki peran masing-masing untuk menjaga agar rencana tetap berjalan tanpa diketahui penjaga.

Bagaimana Tawanan Menyembunyikan Pasir Hasil Galian?

Salah satu persoalan terbesar dalam menggali terowongan adalah pasir.

Jika pasir hasil galian dikumpulkan di satu tempat, penjaga akan mudah melihat perubahan di sekitar kamp.

Karena itu, para tawanan harus menemukan cara untuk membuang pasir sedikit demi sedikit.

Mereka membawa pasir keluar menggunakan kantong tersembunyi di pakaian dan menyebarkannya di sekitar kamp.

Orang-orang yang menjalankan tugas tersebut dikenal sebagai “penguins”.

Selain mengatasi pasir, para tawanan juga harus membuat terowongan dapat digunakan untuk keluar-masuk dalam jumlah besar.

Berbagai perlengkapan pendukung, termasuk sistem ventilasi, dipersiapkan untuk membantu pekerjaan di dalam terowongan.

Persiapan Pelarian: Pakaian, Dokumen, Peta, dan Kompas

Berhasil keluar dari Stalag Luft III hanyalah tahap pertama.

Para tawanan kemudian harus bergerak melewati wilayah Jerman tanpa segera diketahui sebagai tawanan yang kabur.

Karena itu, mereka mempersiapkan berbagai perlengkapan sebelum malam pelarian.

Pakaian sipil dan dokumen palsu dibuat untuk membantu penyamaran.

Mereka juga menyiapkan uang, makanan, peta, dan kompas.

Rencana perjalanan setiap orang tidak sama.

Sebagian pelarian direncanakan menggunakan kereta api, sedangkan yang lain akan berjalan kaki atau menggunakan kereta pekerja.

Malam The Great Escape

Setelah berbulan-bulan mempersiapkan Harry, para tawanan akhirnya menjalankan rencana pada malam 24 Maret 1944.

Para tawanan keluar melalui terowongan satu per satu.

Namun, mereka menghadapi masalah yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana.

Harry ternyata tidak mencapai hutan pada titik yang diharapkan.

Ujung terowongan berada di lokasi yang membuat para tawanan masih dapat terlihat dari lingkungan kamp.

Kondisi tersebut memperlambat proses pelarian.

Meski begitu, para tawanan terus keluar dari terowongan.

Hingga akhirnya, 76 orang berhasil keluar sebelum keberadaan mereka diketahui oleh penjaga.

Tawanan berikutnya, yaitu orang ke-77, diketahui oleh penjaga.

Alarm kemudian dibunyikan dan pelarian dihentikan.

76 Tawanan Berhasil Keluar, tetapi 73 Ditangkap Kembali

Setelah keluar dari Stalag Luft III, para tawanan menyebar dan berusaha meninggalkan wilayah sekitar kamp.

Mereka menggunakan berbagai cara untuk melanjutkan perjalanan.

Sebagian berjalan kaki, sementara lainnya mencoba menggunakan transportasi yang tersedia. Namun, pihak Jerman mengejar.

Hanya tiga orang yang berhasil menghindari penangkapan dan mencapai wilayah aman.

Tiga Tawanan yang Berhasil Mencapai Kebebasan

Tiga orang yang berhasil bebas adalah Bram van der Stok (penerbang asal Belanda), Per Bergsland (penerbang asal Norwegia), dan Jens Müller (penerbang asal Norwegia).

Bergsland dan Müller berhasil mencapai Swedia.

Sementara itu, van der Stok mencapai Spanyol dengan bantuan jaringan Résistance Prancis.

Tragedi 50 Tawanan yang Dibunuh Gestapo

Nasib 73 tawanan yang ditangkap kembali jauh lebih tragis.

Sebanyak 50 orang dibunuh oleh Gestapo setelah mereka ditangkap kembali.

Lima warga Australia termasuk di antara 50 tawanan yang dibunuh.

23 tawanan lainnya tetap ditahan.

Tragedi tersebut kemudian diselidiki setelah Perang Dunia II berakhir.

Sejumlah orang yang terlibat dalam pembunuhan para tawanan diadili dan dihukum.

Roger Bushell Juga Menjadi Korban

Roger Bushell termasuk dalam 76 tawanan yang sempat keluar melalui Harry.

Ia merupakan orang keempat yang keluar dari terowongan.

Setelah meninggalkan kamp, Bushell bepergian bersama Bernard Scheidhauer.

Keduanya ditangkap pada 26 Maret 1944 di Saarbrücken.

Pada 29 Maret 1944, Bushell dan Scheidhauer dibunuh oleh Gestapo ketika sedang dibawa menggunakan mobil.

Laporan resmi Jerman pada masa itu menyatakan keduanya ditembak ketika mencoba melarikan diri.

Namun, penyelidikan setelah perang menemukan bukti yang tidak mendukung versi tersebut.

Bushell berusia 33 tahun ketika dibunuh.

Apa yang Terjadi Setelah The Great Escape?

Setelah Perang Dunia II berakhir, pembunuhan terhadap 50 tawanan menjadi bagian dari penyelidikan kejahatan perang.

Dokumen penyelidikan mengenai The Great Escape dan pembunuhan para tawanan menjadi bagian dari arsip sejarah perang.

Di lokasi bekas Stalag Luft III, kisah para tawanan yang terlibat dalam pelarian juga kemudian dikenang melalui berbagai memorial.

The Great Escape dalam Film

Kisah The Great Escape ditulis oleh Paul Brickhill dalam buku berjudul The Great Escape.

Pada 1963, kisah tersebut diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama.

Film tersebut kemudian menjadi salah satu film perang yang dikenal luas.

Namun, film The Great Escape bukan dokumenter sejarah.

Sejumlah karakter dan kejadian diubah untuk kebutuhan dramatisasi.

Roger Bushell, misalnya, menjadi inspirasi bagi karakter yang diperankan Richard Attenborough.

Karena itu, film tersebut sebaiknya dipandang sebagai dramatisasi berdasarkan peristiwa nyata, bukan sebagai catatan sejarah yang sepenuhnya akurat. [BP]

Tertarik membaca lebih banyak kisah sejarah dan informasi menarik lainnya?

Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia agar kamu tidak ketinggalan berbagai artikel dan informasi terbaru.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I