Survei Litbang Kompas: Kemenangan Jokowi Jauh Lebih Besar dari Pilpres 2014

Survei Litbang Kompas: Kemenangan Jokowi Jauh Lebih Besar dari Pilpres 2014

Ilustrasi: Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berangkulan di arena Pencak Silat Asian Games lalu/Inasgoc-Antara-Aditia Noviansyah.

Koran Sulindo – Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Ridlwan Habib, mengatakan hasil survei Litbang Kompas menunjukkan ekstrapolasi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin pada angka 56,8 persen.

“Alhamdulillah, puji Tuhan, prediksi secara ilmiah dari Litbang Kompas biasanya sangat akurat. Kemenangan Pak Jokowi jauh lebih besar dari 2014,” kata Ridlwan, di Jakarta, Rabu (20/3/2019), melalui rilis media.

Ekstrapolasi elektabilitas adalah prediksi berdasarkan data survei yang dihimpun dari jumlah responden  yang menjawab rahasia, tidak tahu, atau belum menentukan pilihan, lalu diolah menjadi suatu pola berdasarkan kecenderungan dari survei-survei sebelumnya.

Ekstrapolasi itu menemukan hasil akhir selisih elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi terpaut 13,6 persen.

“Lembaga survei yang lain jarang yang mengungkapkan data ekstrapolasi ini,” katanya.

Menurut alumni Program Magister Kajian Ketahanan Nasional Bidang Stratejik Intelijen Universitas Indonesia itu pada Oktober 2018, ekstrapolasi elektabilitas Jokowi pada angka 61,6 persen dan pada Maret 2019 pada angka 56,8 persen.  Terjadi penurunan 4,9 persen dalam waktu 5 bulan atau 1 persen per bulan.

“Sudah tidak ada waktu lagi bagi Prabowo untuk dapat menyusul, karena pilpres tinggal 1 bulan,” kata Ridlwan.

Optimis

Sementara itu Juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, menanggapi dengan optimistis hasil survei Litbang Kompas tersebut.

“TKN optimis dengan semua hasil survei, kecuali survei internal BPN 02,” kata Ace, di Jakarta, Rabu (20/3/2019), melalui rilis media.

Menurut Ace, TKN 01 melihat semua hasil survei dengan obyektif dan tidak apriori, termasuk terhadap hasil survei Litbang Kompas.

“Berbeda dengan kubu 02 melihat survei dengan sinis, penuh apriori dan bahkan sampai mengeluarkan survei internal yang bertolak belakang dari sebagian besar hasil lembaga survei,” katanya.

Ace mengatakan yang membedakan hasil survei satu dengan yang lain adalah selisihnya.

“Selisih tertinggi sekitar 20-an persen sampai selisih terendah 10-an. Kompas menyebut selisihnya 13,6 persen,” katanya.

Jika mengikuti selisih 13,6 persen seperti hasil survei Litbang Kompas, maka selisih itu jauh mengingat waktu pemilihan tinggal hitungan hari.

“Kalau melihat data ekstrapolasi yang dimunculkan Kompas atau bahasa non-statistiknya ‘Prediksi Hasil Akhir’, pasangan 01 memeroleh 56,8 persen, dan pasangan 02 memeroleh 43,2 persen. Selisih hasil akhir 13,6 persen angka yang cukup besar,” kata Ace. [DAS]