PERHIMPUNAN INDONESIA sendiri awalnya perkumpulan pelajar Indonesia di Belanda, yang didirikan pada tahun 1908. Perkumpulan itu diberi nama Indische Veereniging atau Perhimpunan India dan lebih bersifat kekeluargaan semata karena merasa senasib sepenanggungan di tanah rantau. Jadi, tujuan awalnya bukanlah sebagai bagian dari perjuangan pergerakan nasional untuk mencapai Indonesia merdeka.

Sejarawan John Ingelson dalam Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia (1983) menuliskan,  umumnya pelajar atau mahasiswa dari Hindia Belanda baru berusia sekitar 20 tahun saat tiba di Belanda. Kesepian dan keterasingan budaya menjadi masalah yang harus mereka atasi, sehingga kemudian membentuk suatu wadah tanpa melihat suku dan daerah asal. Pembentukan Indische Veereniging pada 25 Oktober 1908 diprakarsai oleh R.M. Noto Soeroto, R. Soetan Casajangan Soripada, R.M Soemitro, R.M.P. Sastrokartono, dan R. Hoesain Djajadiningrat.

Perhimpunan kekeluargaan ini mulai mengarahkan biduknya ke jalur politik setelah datangnya tiga serangkai pendiri partai politik pertama di Hindia Belanda, Indische Partij, yakni E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat. Ketiganya dibuang ke Belanda oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1913.

Semangat nasionalisme para aktivis Indische Veereniging menjadi memerah. Untuk menampung pemikiran-pemikiran para anggotanya, Indische Veereniging  kemudian menerbitkan buletin Hindia Poetra pada tahun 1916.

Tahun 1920-an, ada lagi sejumlah pemuda Hindia Belanda juga datang ke Belanda. Mereka antara lain Soetomo, Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Budiarto, Iwa Koesoemasoemantri, dan Iskaq. Datang pula tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, seperti Tan Malaka, Semaun, dan Darsono. Mereka pun bergabung dengan Indische Veereniging, yang membuat perkumpulan ini menjadi semakin progresif.

Maka, pada tahun 1922, Indische Vereeniging diganti namanya menjadi Indonesische Vereeniging. Perubahan nama ini, menurut Sudiyo dalam Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan (2002), menandai munculnya sasaran dan cita-cita perjuangan yang bersifat nasional lebih tegas.

Pada tahun 1925, di bawah kepemimpinan Soekiman Wirjosadjojo, Indonesische Vereeniging diganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Buletin Hindia Poetra juga diganti namanya menjadi Indonesia Merdeka, yang memuat Manifesto Politik 1925.

Perhimpunan Indonesia menjadi semakin radikal saat dipimpin Mohammad Hatta, sejak tahun 1926.  Mereka semakin gencar melancarkan tuntutan untuk kemerdekaan Indonesia.

Akibatnya, pada Februari 1927, atas perintah Menteri Jajahan, Penasihat Urusan Kemahasiswaan mengirimkan selebaran yang berisi pelarangan mengikuti kegiatan Perhimpunan Indonesia. Jika ada yang melanggar, beasiswa mereka di Belanda akan dihentikan.

Tidak sampai di situ. Tanggal 10 Juni 1927, Sekretariat Perhimpunan Indonesia digerebek polisi Belanda. Dan, 27 September 1927, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Abdul Majid, dan Nazir ditangkap oleh Pengadilan Wilayah Den Haag. Maret 1928, mereka dihadapkan ke pengadilan, tapi pengadilan memutuskan mereka tidak bersalah.

John Ingelson mengungkapkan, setelah pembebasannya, Hatta tetap di Perhimpunan Indonesia. Namun, kegiatan politiknya berkurang. Perhimpunan Indonesia sendiri kemudian berangsur-angsur berkurang aktivitasnya dan semakin tak terdengar lagi kiprahnya sejak tahun 1931.