Serangan Balik dari Alam

Serangan Balik dari Alam

DATA BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) memperlihatkan, Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah plastik per tahun, dengan 3,2 juta ton di antaranya “bergentayangan” di laut. Dari jumlah sampah plastik di laut tersebut, 80%-nya merupakan sampah yang berasal dari daratan, yang mengalir ke laut melalui berbagai sungai.

Sementara itu, peneliti pencemaran laut pada Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhammad Reza Cordova pada akhir November 2018 lalu mengungkapkan, rata-rata sampah plastik yang ditemukan di seluruh pantai Indonesia setiap bulan adalah 1,71 buah per meter persegi. “Dengan berat rata-rata 46,55 gram per meter persegi,” ujar Reza, sebagaimana diberitakan Antara, 30 November 2018.

Dari hasil penelitian P2O LIPI, rata-rata sampah plastik yang tertinggi ditemukan di pantai Sulawesi, mencapai 2,35 buah per meter persegi. Urutan kedua ada di pantai Jawa, dengan rata-rata 2,11 buah sampah plastik per meter persegi.

Berdasarkan perhitungan kasar dan asumsi sederhana, Reza juga mengatakan, sampah plastik di laut yang diproduksi orang Indonesia diprediksi mencapai 100 ribu hingga 400 ribu per tahun. Jumlah itu hanya yang berasal dari dalam negeri, belum termasuk sampah plastik yang masuk dari luar perairan Indonesia.

“Ini perlu kajian lebih lanjut dan sedang kami lakukan, sehingga kami bisa mendapatkan data yang lebih detail dan tepat,” tutur Reza.

Penelitan P2O LIPI memang masih terus dilanjutkan, termasuk menghitung mikroplastik yang mencemari laut Indonesia. Karena, berdasarkan dua penelitian P2O LIPI bareng Universitas Hasanuddin (Unhas)-Makassar ditemukan pula kandungan mikroplastik pada garam dan ikan di Indonesia.

“Kami menemukan adanya 10 sampai 20 partikel mikroplastik per kilogram garam. Jenis plastik pada garam mirip dengan temuan di air, sedimen, dan biotanya,” ujar Reza.

Para peneliti menduga, mikroplastik pada garam berasal dari air laut yang memang sudah tercemar. Ada juga kemungkinan masuknya mikroplastik terjadi setelah pemanenan, karena banyak menggunakan plastik.

Penelitian itu antara lain dilakukan di tambak garam Janeponto, Sulawesi Selatan. Mereka mengambil sampel air, sedimen, dan garam pada tambak yang airnya bersumber dari saluran primer air laut.

“Ada delapan titik yang di-sampling dengan dua kali ulangan. Jadi, kami kumpulkan 16 sampel air dan sedimen,” ungkap Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Akbar Tahir, yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Dari delapan titik itu, sampel garam dari tujuh titik positif mengandung mikroplastik, dengan total kontaminasi 58,3%. Adapun 11 dari 16 sampel air yang diteliti mengandung 31 partikel mikroplastik. Tingkat kontaminasinya secara keseluruhan mencapai 68,75%.

Akan halnya sedimen, dari 16 sampel yang diteliti ditemukan 41 partikel mikroplastik dengan tingkat kontaminasi 50%. “Total kontaminasi ini dihitung dari jumlah sampel positif terhadap total sampel yang diteliti,” kata Akbar.

Reza mengungkapkan, pihak telah melakukan penelitian kandungan mikroplastik di 13 lokasi berbeda dan semua sampelnya positif tercemar, dengan tingkat 0,25 sampai 10 partikel per meter kubik. “Paling tinggi cemaran mikroplastiknya di pesisir Jakarta dan Sulawesi Selatan, yaitu 7,5 sampai 10 partikel per meter kubik,” ujarnya.

Penelitian itu juga menemukan, ikan teri dan sejenisnya yang ada di 10 lokasi positif tercemar mikroplastik. “Sebanyak 58-89 persen ikan yang kami teliti mengandung mikroplastik. Paling tinggi konsentrasinya kami temukan di Makassar dan Bitung, Sulawesi Utara,” kata Reza.

Jauh sebelum itu, Unhas juga pernah melakukan penelitian bersama dengan Universitas California Davis. Sampel diambil dari tempat pelelangan ikan terbesar yang ada di Makassar. Mereka meneliti 11 jenis ikan berbeda, yang totalnya ada 76 jenis ikan.

Dari hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature edisi September 2015 lampau itu ditemukan adanya cemaran mikroplastik di saluran pencernaan ikan. Juga ada pada kerang.

Jelas, hasil temuan dari penelitian-penelitian itu tak bisa disikapi sambil lalu. Garam bisa dipastikan ada di setiap rumah di Indonesia. Sementara itu, pemerintah juga sedang menggalakkan pentingnya makan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kalau garam dan ikan lautnya sudah tercemar, alih-laih cerdas, bangsa ini malah nantinya akan menjadi bangsa yang tidak produktif, karena kerap didera masalah kesehatan yang serius. [PUR]