Namun, kita harus berhati-hati sebelum menyimpulkan pesan akhir film ini. Merah Sebelum Fajar belum menjalani pemutaran perdananya di Tanah Air ketika tulisan ini disusun. Kita baru mengetahui sinopsis, latar sejarah, karakter, dan keterangan pembuatnya.
Karena itu, menyebutnya sebagai mahakarya, kegagalan, atau film yang berhasil membongkar watak bangsa akan menjadi penilaian prematur. Kritik film yang sehat tidak boleh mengganti adegan yang belum ditonton dengan imajinasi kritikus sendiri.
Kita dapat membaca arah gagasannya, menguji relevansi temanya, dan menunggu bagaimana Garin menerjemahkan semua itu ke dalam bahasa sinema. Justru karena film ini belum diputar, ada baiknya kita menaruh perhatian pada tantangan yang menunggu Garin.
Film sejarah harus mampu menghidupkan masa lampau tanpa menjadikannya kuliah sejarah yang kebetulan memiliki gambar bergerak. Penonton datang ke bioskop boleh menghafal tahun, nama tokoh, atau urutan peristiwa. Mereka datang untuk mengalami sebuah cerita. Fakta sejarah memberikan fondasi, sedangkan tokoh, konflik, dialog, ritme, dan pilihan visual mengubah fondasi itu menjadi pengalaman manusiawi.
Bahaya lain mengintai ketika film sejarah terlalu sibuk membagi manusia ke dalam dua kotak: patriot dan pengkhianat, pejuang dan pengecut, orang benar dan orang sesat. Pembagian semacam itu memang mudah dipahami, tetapi kehidupan manusia jarang sesederhana papan catur.
Orang yang menginginkan kemerdekaan dapat berbeda pendapat mengenai jalan yang harus ditempuh. Seorang diplomat mungkin memilih kompromi karena menghitung risiko perang, sedangkan seorang pejuang menolak kompromi karena melihatnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan.
Keduanya dapat mengaku mencintai negeri, tetapi memiliki penilaian yang berbeda mengenai harga yang layak dibayar. Perbedaan semacam itu bukan alasan untuk menghapus pertanggungjawaban moral. Memahami alasan seseorang bertindak tidak berarti membenarkan tindakannya.
Namun, film yang berani memberi ruang bagi pertentangan motif akan membuat sejarah terasa lebih hidup daripada cerita yang hanya membagi tokoh menjadi malaikat dan setan. Penonton pun mendapat kesempatan untuk berpikir, bukan sekadar menerima instruksi tentang siapa yang harus dikagumi dan siapa yang harus dibenci.
Jika Garin mampu memanfaatkan kerumitan tersebut, Merah Sebelum Fajar berpeluang menghadirkan sesuatu yang lebih berharga daripada nostalgia perjuangan. Ia dapat mengajak kita memandang kemerdekaan sebagai pekerjaan yang tidak selesai ketika bendera berkibar dan lagu kebangsaan berkumandang.
Kemerdekaan juga menuntut kemampuan hidup bersama, menyelesaikan perbedaan, membangun kepercayaan, dan menjaga agar kepentingan kelompok tidak terus-menerus menyamar sebagai kepentingan bangsa.
Bayangkan sebuah rumah yang baru selesai dibangun setelah bertahun-tahun penghuninya bertarung untuk merebut tanahnya. Dindingnya berdiri, atapnya terpasang, dan pintunya sudah diberi nomor. Namun, para penghuni masih saling mencurigai, berebut kamar, dan menuduh tetangga akan mencuri kunci. Rumah itu memang sudah merdeka dari pemilik lama, tetapi belum tentu menjadi tempat tinggal yang tenteram.
Metafora ini tentu bukan ringkasan film Garin, melainkan salah satu cara membaca persoalan yang mungkin dipantulkannya: memenangkan kemerdekaan tidak otomatis membuat manusia pandai mengelola kebebasan.
Di titik itulah judul Merah Sebelum Fajar mengundang tafsir. Merah dapat mengingatkan kita pada bendera, keberanian, darah, atau harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kemerdekaan. Fajar dapat menandai harapan akan masa depan.
Tapi jarak di antara keduanya menyimpan ketegangan: apa yang harus dilalui sebuah bangsa sebelum benar-benar melihat cahaya? Kita tidak perlu menetapkan satu makna sebagai jawaban resmi. Judul yang baik justru menyediakan ruang bagi penonton untuk menemukan pertanyaan mereka sendiri.
Pilihan Garin membawa cerita ini ke Tokyo juga membuka kesempatan bagi sejarah Indonesia untuk dibaca dari luar negeri. Penonton Jepang dan negara lain tidak harus memiliki pengetahuan mendalam tentang Revolusi Indonesia untuk memahami ketakutan, ambisi, pengorbanan, atau kecurigaan para tokohnya.
Di sinilah sinema dapat bekerja sebagai penerjemah pengalaman manusia. Film tidak perlu mengubah Indonesia menjadi sesuatu yang eksotis demi memikat penonton asing. Ia justru perlu menyampaikan pengalaman lokal secara jujur, rinci, dan kuat sehingga orang yang tidak mengenal latarnya tetap dapat merasakan persoalan manusianya.
Tentu, kesempatan itu datang bersama risiko. Agar mudah diterima pasar internasional, pembuat film kadang tergoda menyederhanakan konteks lokal atau mengemas sejarah menjadi sesuatu yang sudah akrab bagi penonton asing.
Sebaliknya, film yang terlalu mengandalkan pengetahuan lokal dapat membuat penonton luar kesulitan mengikuti cerita. Tantangannya bukan memilih antara Indonesia dan dunia, melainkan menemukan bahasa sinema yang berakar pada pengalaman Indonesia sekaligus mampu berkomunikasi melampaui batas negara.
Bagi perfilman Indonesia, keberhasilan memasuki kompetisi utama TIFF patut kita sambut sebagai kabar baik. Namun, dukungan yang dewasa tidak berhenti pada penyebaran poster, penghitungan prestise, atau kebanggaan bahwa film kita berdiri sejajar dengan film dari negara lain.
Kita perlu membangun ekosistem yang memungkinkan karya-karya semacam ini tumbuh: pendidikan perfilman yang baik, dukungan produksi, pengarsipan sejarah, kritik yang serius, distribusi yang sehat, dan ruang tayang yang memberi kesempatan kepada film dengan beragam pendekatan artistik.
Kita juga perlu memperluas cara memandang prestasi sinema. Film yang menang penghargaan tidak otomatis menjadi tontonan terbaik bagi setiap orang. Film yang gagal membawa pulang piala tidak otomatis kehilangan nilainya.
Begitu pula, satu film yang berhasil menembus festival tidak berarti seluruh industri nasional telah maju. Prestasi individual patut dihargai, tetapi kemajuan industri membutuhkan kerja panjang yang melibatkan sutradara, penulis skenario, aktor, kru, produser, sekolah film, bioskop, distributor, dan penonton.
Pada akhirnya, Tokyo akan menjadi tempat pertemuan antara sebuah film Indonesia dan dunia yang lebih luas. Garin membawa sejarah ke layar, tetapi penontonlah yang kelak menguji daya hidup ceritanya.
Apakah perjalanan Frans dan kawan-kawannya mampu mengubah angka tahun 1946 menjadi pengalaman yang terasa dekat? Apakah konflik mereka membuka pemahaman baru tentang kemerdekaan? Apakah bahasa visual Garin memperkaya cerita atau justru membuatnya berjarak? Jawabannya menunggu pemutaran film, bukan sekadar pengumuman seleksi.
Kita boleh bangga bahwa Merah Sebelum Fajar berhasil melewati seleksi ketat festival bergengsi. Kita juga boleh berharap film itu menemukan distributor, penonton, dan percakapan baru di berbagai negara.
Tetapi kebanggaan paling sehat ialah kebanggaan yang tidak menutup mata terhadap kritik. Sebab, sejarah tidak membutuhkan pemujaan yang berlebihan, sebagaimana sinema tidak membutuhkan penonton yang menyerahkan penilaiannya kepada reputasi sutradara.
Kemerdekaan adalah cerita panjang yang tidak selesai ketika fajar pertama tiba. Dan film sejarah yang baik semestinya tidak sekadar menunjukkan betapa gagahnya orang-orang yang memperjuangkannya, tetapi juga mengajak kita memikirkan apa yang mereka perjuangkan, mengapa mereka berbeda pendapat, serta bagaimana generasi sesudahnya meneruskan pekerjaan itu.
Kita menunggu Merah Sebelum Fajar menjawab tantangan tersebut. Garin sudah memiliki nama besar, sementara sejarah bangsa ini masih menyimpan begitu banyak pertanyaan yang layak dibawa ke layar lebar.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



