Asia Tenggara dengan ratusan juta Muslim adalah bagian penting dari cerita Islam modern.

Tentu Esposito bukan nabi baru studi Islam. Pendapatnya dapat diperdebatkan. Sebagian kritik terhadapnya juga sah: terlalu simpatik kepada gerakan Islam tertentu, dinilai meremehkan ancaman ekstremisme, atau terlalu optimistis melihat kompatibilitas Islam politik dan demokrasi.

Ilmu pengetahuan memang bukan majelis taklim tempat jamaah cukup menjawab amin. Sarjana justru dihormati dengan cara diuji. Tapi di situlah pelajaran yang lebih menarik.

Esposito menunjukkan bahwa memahami sebuah agama tidak mensyaratkan seseorang memeluk agama itu. Yang diperlukan adalah ketekunan, kejujuran metodologis, keluasan data, dan kesediaan menangguhkan prasangka.

Seorang Katolik dapat menghabiskan hidupnya mempelajari Islam tanpa harus menjadi Muslim; sebagaimana seorang Muslim seharusnya dapat mempelajari Kristen, Yahudi, Hindu, Barat, komunisme atau sekularisme tanpa takut imannya tercecer di perpustakaan.

Pengetahuan memang mempunyai adab yang aneh: ia tidak selalu datang dari pintu yang kita sukai.

Al-Qur’an bahkan mengajarkan manusia mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ukuran pertama sebuah pengetahuan bukan paspor pembawanya, warna kulitnya, mazhabnya, atau agama yang tertulis di kolom identitasnya. Ia harus diperiksa: benar atau tidak, kuat atau rapuh, membawa kita lebih dekat kepada kenyataan atau justru menjauhkannya.

Di sinilah wafatnya Esposito seharusnya menjadi cermin bagi dunia Islam. Kita mempunyai ribuan pesantren, ratusan perguruan tinggi Islam, jutaan santri dan mahasiswa.

Tapi berapa banyak karya kita tentang Barat yang dibaca mahasiswa di Harvard, Georgetown atau Oxford untuk memahami masyarakat Barat? Berapa ensiklopedia besar tentang Kristen, Yahudi atau sekularisme yang lahir dari universitas Islam kita, ditulis dengan disiplin ilmiah begitu kuat sehingga orang luar terpaksa menjadikannya rujukan?

Pertanyaan itu agak mengusik. Kita sering marah ketika Islam dijelaskan secara keliru oleh orang lain. Kemarahan itu kadang beralasan. Tapi jawaban terbaik terhadap buku yang buruk bukan selalu demonstrasi di depan kedutaan. Kadang jawabannya sebuah buku yang lebih baik.

Esposito memberi contoh lain tentang umur sebuah karya. Jabatan akademik selesai ketika seseorang pensiun. Ruang profesor akhirnya ditempati orang lain. Kartu nama masuk laci. Gelar kehormatan menjadi baris kecil dalam obituari. Tapi sebuah buku yang sungguh-sungguh dikerjakan dapat berjalan jauh setelah penulisnya berhenti bernapas.

Lebih dari 55 buku adalah angka. Yang lebih penting adalah daya hidup di belakang angka itu. Islam: The Straight Path, Islam and Politics, The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of Islam, What Everyone Needs to Know About Islam.

Selain itu, juga ensiklopedia-ensiklopedia Oxford yang dipimpinnya membuat Esposito hadir di rak perpustakaan jauh dari Brooklyn tempat ia dilahirkan. Tubuh manusia mengenal umur biologis. Gagasan yang ditulis dengan baik mempunyai kalender sendiri yang mungkin abadi.

Mungkin itulah sebabnya kepergian seorang sarjana tidak seharusnya kita catat seperti keberangkatan kereta: nama, tanggal, lalu selesai.

Esposito meninggalkan pelajaran sederhana bagi umat yang kitab sucinya dimulai dengan perintah membaca. Bacalah dunia. Bacalah orang yang berbeda. Dan jangan takut belajar bahkan dari orang yang berdiri di luar pagar rumah kita. Kadang orang luar melihat jendela yang selama bertahun-tahun luput dari perhatian penghuni rumah.

John L. Esposito telah pergi. Ia tidak membawa Islam ke Barat, dan tentu tidak mewakili Islam. Ia melakukan sesuatu yang mungkin lebih sederhana sekaligus lebih sulit: selama puluhan tahun ia berusaha membuat masyarakatnya melihat Muslim sebagai manusia, bukan sekadar masalah.

Untuk pekerjaan sepanjang umur seperti itu, rasanya sebuah ucapan terima kasih tidak akan membuat iman kita berkurang.

Justru mungkin menunjukkan bahwa kita telah belajar sesuatu dari ilmu yang kita banggakan sendiri: hikmah tidak pernah diwajibkan memiliki paspor yang sama dengan kita.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis