Ia tidak mengatakan semua yang dilakukan kaum Muslim benar. Ia juga tidak menjadi humas Islam dengan membahas agama ini secara berlebihan. Yang ia persoalkan ialah cara membaca: jangan menjelaskan masyarakat Muslim hanya dengan prasangka yang dibawa pengamat dari luar.
Ia mengkritik apa yang disebutnya bias sekuler dalam ilmu sosial Barat. Teori modernisasi lama membayangkan semakin modern masyarakat, semakin agama mundur ke ruang pribadi. Eropa dianggap jalur baku sejarah manusia. Negara lain tinggal menunggu giliran.
Masalahnya, sejarah ternyata tidak membaca buku teks itu. Agama tidak menghilang. Di banyak tempat justru kembali menjadi kekuatan sosial dan politik. Esposito karena itu mengajak sarjana membaca masyarakat Muslim dari pengalaman mereka sendiri.
Politik Islam tidak cukup dijelaskan dengan satu kata sakti: syariat. Di belakang mobilisasi agama sering terdapat soal yang sangat duniawi: ketidakadilan, rezim otoriter, kemiskinan, kolonialisme, intervensi asing, serta keinginan manusia untuk memperoleh martabat dan menentukan nasib sendiri.
Dengan kata lain, jangan buru-buru memeriksa jenggot demonstran. Periksa juga harga beras, penjara politik, korupsi penguasa, dan tank siapa yang berada di halaman rumahnya. Cara pandang itulah salah satu warisan penting yang ditinggal abadi oleh Esposito sesudah kematiannya.
Ia membantu menggeser studi tentang Islam dari kebiasaan melihat Muslim sebagai objek eksotis menuju usaha memahami mereka sebagai manusia dan pelaku sejarah. Dalam ungkapan Nader Hashemi, Esposito menantang representasi Orientalis tentang Islam pada masa ketika polarisasi sedang dalam.
Warisan itu sampai pula ke Indonesia. Generasi mahasiswa dan pembaca Indonesia sejak 1980-an mengenal namanya melalui buku-buku terjemahan. Islam and Politics hadir sebagai buku berjudul Islam dan Politik melalui Bulan Bintang. Kumpulan yang disunting bersama John J. Donohue hadir sebagai Islam dan Pembaharuan.
Ada pula Dinamika Kebangunan Islam, sementara karya Esposito bersama John O. Voll mengenai Islam dan demokrasi diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Namanya kemudian bertebaran dalam daftar pustaka skripsi, tesis, buku dan jurnal tentang politik Islam, negara, demokrasi, fundamentalisme, pembaruan dan hubungan Islam-Barat.
Karena itu, generasi pembaca Esposito di Indonesia sebenarnya bukan satu angkatan. Mereka terbentang dari mahasiswa IAIN dan fakultas ilmu sosial pada 1980-an dan 1990-an, pembaca buku-buku pemikiran Islam masa maraknya penerbit Bulan Bintang, Rajawali, Mizan dan Paramadina.
Sampai mahasiswa UIN dan peneliti politik Islam hari ini terus mengkaji pemikirannya. Sebagian mungkin mengenal gagasannya tanpa lagi mengingat wajah orang yang mula-mula merumuskan kerangka baca itu.
Dan Indonesia bukan sekadar pasar pembaca baginya. Georgetown mencatat Esposito ikut membangun Malaysia Chair for the Study of Islam in Southeast Asia. Ini penting: ia memahami bahwa Islam tidak boleh terus-menerus dipotret seolah dunia Muslim berhenti di Kairo, Teheran, Riyadh dan Islamabad.




