Prof. Dr. Hermawan Sulistyo: Aparat Terlalu Baik Atasi Massa Anarkis

Prof. Dr. Hermawan Sulistyo: Aparat Terlalu Baik Atasi Massa Anarkis

Prof. Dr. Hermawan Sulistyo

Koran Sulindo – Profesor riset dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menilai, upaya aparat TNI-Polri dalam memitigasi kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 di Jakarta sudah maksimal. Bahkan, anggota yang melakukan pengamanan di Kantor Bawaslu juga terlalu baik dalam menghadapi massa yang bertindak anarkis.

“Saya dan para akademisi menganalisis aparat kita terlalu baik. Aparat kita cenderung takut kena [pasal] HAM [hak asasi manusia],” kata pria yang akrab disapa Kiki itu di Jakarta, Sabtu (25/5).

Kiki mengatakan, aparat seharusnya membubarkan saja saat massa melewati batas waktu yang sudah diberikan toleransi. “Mereka jelas melanggar hukum. Ini pola kerusuhan seperti yang terjadi pada Mei 1998 tapi kemampuan aparat intelijen sudah lebih canggih, jauh lebih canggih dari saat 98,” ujarnya.

Dia menegaskan, dari pengalamannya, tidak ada para pendemo bisa bertahan lebih dari 12 jam, dari siang hingga malam, dan berbuat kerusuhan pada dini hari. Bahkan, kerusuhan terjadi bukan di depan Bawaslu, tetapi di tempat-tempat lain. “Artinya didatangkan orang lain. Dari pengumuman polisi, orang yang ditangkap dari daerah Yogja, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Medan, dan Nusa Tenggara Barat,” kata Kiki.

Berkaca kepada krisis politik mulai dari tahun 1974 yang dikenal dengan Peristiwa Malari, Peristiwa ’98, dan sampai dengan saat ini, menurut Kiki, polanya hampir sama. “Ada pihak-pihak secara politik kalah dan ingin bertahan menggunakan cara jalanan, yang dibuat supaya ada trigger, supaya ada trigger untuk punya dampak politis lebih besar. Pada kasus yang sekarang ini, yang terjadi adalah pengondisian lingkungan politis dari awal, ‘pemilu curang’, ini-itulah, segala macam, terutama dengan hoax,” ujarnya.

Ditambahkan Kiki, pengumuman hasil rekapitulasi Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai pemenang pada waktu lebih awal, yakni pada Selasa dini hari (21/5), sangat menguntungkan dari situasi keamanan. “Kalau sesuai setting pertama tanggal 22 Mei pasti meledak, lebih besar, akan lebih besar kerusuhannya,” kata Kiki. [YMA]