Polisi Pastikan Video “Masjid Kampung Bali” Hoax

Polisi Pastikan Video “Masjid Kampung Bali” Hoax

Andri Bibir. Foto: Yudha

Koran Sulindo – Sebuah video terkait kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada 22 Mei 2019 lalu menjadi viral di media sosial. Ada yang mengatakan, apa yang direkam dalam video tersebut adalah aksi pemukulan yang dilakukan sejumlah anggota Brimob terhadap seorang anak kecil.

Kemudian, ada yang mengatakan pula, aksi pemukulan yang mengakibatkan anak kecil itu meninggal dunia terjadi di dekat Masjid Al-Huda, Kampung Bali, Jakarta Pusat, tak jauh dari Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Video itu pun dilengkapi dengan foto jenazah seorang remaja.

Pihak kepolisian kemudian membantah dan memastikan informasi tersebut tidak benar atau hoax. Karena, aksi yang dilakukan sejumlah anggota Brimob tersebut merupakan upaya penangkapan terhadap seorang perusuh.

Saat ini, pria yang telah berstatus tersangka tersebut ditahan di Polda Metro Jaya. Namanya Andriansyah alias Andri Bibir. Usianya 29 tahun. Baju dan celana yang ia gunakan sama dengan video yang beredar itu.

“Video yang beredar dengan narasi yang dibuat dengan menempelkan foto seorang anak adalah hoax. Tidak benar anak yang disebut itu dianiaya oleh petugas. Bahwa sebenarnya yang ada di video itu adalah Andri Bibir,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Polda Metro Jaya, Sabtu (25/5).

Lebih lanjut diungkapkan Dedi, Andri ditangkap di lahan parkir Holiday Inn, belakang Masjid Al Huda, Jalan K.H. Wahid Hasyim, pada Kamis (23/5), pukul 06.00 WIB. Peran Tersangka, sambungnya, adalah menyiapkan batu untuk dilemparkan oleh teman-temannya ke Kantor Bawaslu pada Rabu (22/5). Selain itu, pelaku memberikan jeriken berisi air, yang airnya akan digunakan perusuh untuk mencuci muka bila terkena gas air mata.

“Karena, demo ini tidak spontan, artinya by setting,” ujar Dedi lagi.

Dedi menjelaskan, aparat melakukan tindakan represif terhadap Andri karena dia berupaya kabur saat hendak diamankan. “Andri Bibir waktu melihat anggota, langsung mau kabur karena merasa salah. Ketakutan dia. [Kemudian] Dikepung oleh anggota pengamanan,” katanya.

Andri Bibir membenarkan penjelasan tersebut. “Saat itu, saya memang mau melarikan diri, tapi di belakang ada Brimob dan saya kembali lagi ke lapangan itu. Saat itu, saya ditangkap,” ujar Andri.

Tersangka mengaku dilarikan ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, setelah dipukuli. Ia sempat dirawat. Saat ditemui, bagian kening dan sebelah kiri mata kiri Andri dibalut perban.

Warga Kampung Duri Barat, RT 015/ RW 008 Kelurahan Duri, Gambir, Jakarta Pusat, itu juga mengakui dirinya mengumpulkan batu untuk para demonstran yang rusuh. Motifnya, menurut pengakuannya, dirinya sakit hati karena terkena gas air mata yang ditembakkan aparat.

“Mengumpulkan batu dan membantu demonstrasi. Awalnya saya ikut-ikutan dan di situ saya kena gas air mata, saya sakit hati, dan saya membantu supaya pendemo semakin lebih mudah untuk mendapatkan batu,” tutur Andri.

Ia mengaku khawatir, kerabat dan keluarga yang mengetahui pria dalam video viral tersebut adalah dirinya mengira dia sudah meninggal dunia. Sejak ditangkap polisi hingga saat ini, Andri memang belum sempat bertemu keluarganya.

“Untuk teman, rekan, atau keluarga yang melihat video itu, benar itu saya dan saya belum meninggal,” ujarnya.

Andri kini menjadi tahanan Direkrorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan dijerat dengan Pasal 170 dan atau 214 KUHP. Ia dinilai telah bersama-sama melawan petugas dan atau bersama-sama melakukan kekerasan terhadap barang atau orang.

Untuk diketahui, foto yang dilekatkan pada video yang menjadi viral itu adalah foto seorang anak bernama Harun Rasyid, berusia 15 tahun. Warga Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, itu diduga menjadi korban saat kerusuhan 22 Mei. Keluarga baru menerima informasi wafatnya Harun dari petugas Rumah Sakit Polri Kramatjati pada 23 Mei 2019. [YMA]