Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Koran Sulindo – Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar melaksanakan niatnya: mengumumkan secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel. “Inilah saatnya mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” kata Trump dalam pernyataan resminya di Gedung Putih, seperti diberitakan CNN, Rabu waktu setempat atau Kamis (7/12) waktu Indonesia.

Ia juga menyatakan akan segera memindahkah kantor Keduatan Besar Amerika Serikat untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sebelumnya, di hadapan parlemen, Trump mengatakan, keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel harus segera dilakukan karena sudah terlalu lama ditunda. “Saya rasa, ini sudah terlalu lama ditunda. Banyak presiden mengatakan mereka ingin melakukan sesuatu, tapi mereka tidak melakukan apa-apa,” kata Trump.

Memang, Kongres Amerika Serikat sudah sejak pemerintahan sebelumnya meloloskan satu undang-undang untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mengesahkan pendanaan pemindahan kantor kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem. Tapi, Presiden Amerika Serikat sebelum Trump selalu menangguhkan dijalankannya undang-undang itu untuk menghindari pergolakan politik di Timur Tengah.

Keputusan Trump tersebut dipastikan akan mendatangkan gejolak besar dan mengganggu proses perdamaian antara Israel dan Palestina.  Menteri Agama Republik Indonesia Lukman H. Saifuiddin mengatakan lewat akun Twitter-nya pada Rabu malam, Amerika mestinya sadar bahwa memindahkan ibu kota Israel ke Yerusalem menciptakan konflik kian meluas. “Kebijakan itu mengusik kedamaian dunia. Setiap umat beragama wajib menolaknya,” tulis Lukman.

Hal senada juga diungkapan otoritas Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), sebagaimana dikutip kantor berita AP. Menurut mereka, keputusan Trump itu menghancurkan solusi yang telah dicapai Israel dan Palestina. AP juga mengungkapkan, Ḥarakat al-Muqāwamah al-ʾIslāmiyyah Islamic Resistance Movement atau lebih dikenal dengan akronimnya Hamas menyatakan, keputusan Trump tersebut menjadi pembuka “pintu gerbang neraka”.

Sementara itu, masih menurut AP, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, apa yang dilakukan Trump tersebut merupakan hari yang sangat bersejarah. “Langkah penting menuju perdamaian,” ungkap Netanyahu.  Lewat akun Twitter-nya, Netanyahu juga mengucapkan terima kasih kepada Trump. “Orang yahudi dan negara yahudi akan berterima kasih selamanya,” tutur Netanyahu.

Terkait keputusan Trump itu, Organisasi Kerja Sama Islam dan Liga Arab langsung merencanakan rapat darurat. Sejumlah aksi juga langsung digelar di Palestina dan beberapa negara Arab, termasuk aksi pembakaran bendera Amerika Serikat.

Israel dan Palestina telah mengklaim Yerusalem sebagai daerah kekuasaan masing-masing sejak puluhah tahun lampau. Israel berhasil merebut Yerusalem Timur lewat perang tahun 1967, namun masyarakat internasional tak mau mengakui klaim Israel atas Yerusalem. Tak ada negara yang mendirikan kantor keduataan besarnya di sana. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai apa yang dilakukan Israel itu merupakan tindakan ilegal.

Menurut Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu Rudeina, resolusi konflik justru terletak pada Yerusalem Timur, yang diakui sebagai ibu kota Palestina. “Yerusalem Timur dengan tempat-tempat sucinya adalah awal dan akhir dari sekian banyak solusi dan banyak proyek yang akan menyelamatkan wilayah tersebut dari kehancuran,” katanya.

Otoritas Palestina mengecam keras keputusan Trump itu. Karena, perubahan apa pun pada status internasional Yerusalem akan berdampak bukan hanya untuk proses perdamaian Palestina-Israel, melainkan juga Dunia Islam. Bagi umat Islam, Yerusalem adalah kota suci ketiga setelah Makkah dan Madinah.

Indonesia sejak masa Presiden Soekarno telah menolak mengakui Israel sebagai negara. Bung Karno menganggap Israel adalah penjajah. Itu sebabnya, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV pada tahun 1962, Bung Karno dengan tegas menolak kehadiran kontingen Israel. Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menarik diri sebagai pelindung Asian Games IV dan melarang benderanya dikibarkan di Jakarta.

Bung Karno tak peduli. Bahkan, Indonesia akhirnya memutuskan keluar dari IOC. Setahun kemudian, 1963, Indonesia menyelenggarakan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta, yang sukses besar dan dihadiri 48 negara.

Sebelumnya, pada tahun 1957, ketika kesebelasan Indonesia lolos di zona Asia dan tinggal menghadapi Israel untuk ikut ke Piala Dunia, pihak Indonesia menolak berlaga di Jakarta atau di Tel Aviv, ibu kota Israel. Indonesia hanya mau bertanding di tempat netral dan tanpa diperdengarkan lagu kebangsaan. Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) menolak keinginan Indonesia. Indonesia pun gagal melaju ke Piala Dunia.

Bung Karno menarik keluar Indonesia dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Januari 1964 antara lain juga karena Israel. “Dengan menguntungkan Israel dan merugikan negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa,” kata Bung Karno. PBB menurut Bung Karno merupakan kepanjangan tangan Amerika Serikat dan sekutunya. [RAF]