PDI Perjuangan Berbagi Pengalaman dengan Delegasi Calon Pemimpin Singapura

PDI Perjuangan Berbagi Pengalaman dengan Delegasi Calon Pemimpin Singapura

50
Ilustrasi/Istimewa

Koran Sulindo – Para calon pemimpin negeri Singapura berkunjung ke kantor DPP PDI Perjuangan, di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, hari ini. Mereka adalah anggota delegasi Leaders in Administration Programme (LAP) Singapura, yaitu program bagi pemimpin sektor publik di Singapura. Pesertanya adalah petinggi-petinggi sejumlah lembaga publik di Singapura.

Delegasi Singapura diterima Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, yang didampingi sejumlah elite partai. Seperti Juliari Batubara, Heri Akhmadi, Evita Nursanty, Kiki Taher, Emmy Lumban Raja, Budi Sulistyono, Hanjaya Setiawan, Putra Nababan, dan Sudiman Tarigan.

Sementara dari pihak Singapura, rombongan dipimpin Dubes Singapura untuk Indonesia Amil Kumar Nayar. Nama-nama para peserta sengaja tidak dipublikasikan.

Duta Besar Amil Kumar Nayar menyatakan, pihaknya berterima kasih dengan jajaran petinggi PDI Perjuangan yang menerima mereka. Dia bercerita, punya pengalaman soal PDIP. Pada 27 Juli 1996, ketika kantor PDI diserang, Nayar mengaku sudah berada di Jakarta.

“Jadi saya paham benar apa yang terjadi saat itu. Kami paham benar arti kata ‘Perjuangan’ dari nama PDI Perjuangan saat ini. Bahwa PDIP akan selalu berjuang untuk memperbaiki diri,” kata Dubes Nayar, di Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Ia menjelaskan, delegasi yang berkunjung ini memang dipersiapkan menjadi pemimpin publik di Singapura. Mereka telah melakukan proses pelatihan dengan mengunjungi semua institusi di negeri itu untuk memahami soal pelayanan publik dan politik.

“Indonesia tak boleh dilupakan. Kami memilih PDI Perjuangan, untuk belajar dan mengetahui bagaimana manajemen partai dan pandangan soal isu regional dan Indonesia sendiri. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Megawati Soekarnoputri yang memberi kesempatan ini,” katanya.

Sementara Hasto Kristiyanto, dalam paparannya menjelaskan sejarah partai itu dari sejak berdiri sebagai Partai Nasionalis Indonesia (PNI) hingga saat ini. PDI Perjuangan adalah partai kerakyatan, dengan basis pemilih di akar rumput, dan berpegang teguh pada ideologi Pancasila.

Hasto bercerita sejak awal memegang jabatan sekretaris jenderal, salah satu tugas dirinya adalah melakukan upaya modernisasi partai. Untuk melaksanakannya, Hasto mengambil strategi dari buku manajemen ‘Good to Great’ karya James C. Collins.

“Kami menempatkan partai kami sebagai penjaga keberagaman bangsa berdasarkan Pancasila,” kata Hasto.

Sejak memproklamirkan diri sebagai Partai Pelopor, PDI Perjuangan bertekad menjadi partai yang menerangi kehidupan rakyat, mengkreasi kader yang militan serta progresif revolusioner, dan memperbaiki pelatihan kader dan sekolah partai.

Perbaikan sistem pendidikan kadernya dengan mendirikan sekolah partai dan dikomandoi langsung oleh pimpinan pusat partai. PDI Perjuangan juga memperbaiki mekanisme perekrutan kader dari bawah. Ada berbagai mekanisme yang dilaksanakan dalam proses perekrutan yang melibatkan cara modern dan digital seperti psikotes online.

Hasil kaderisasi ini tampak dari munculnya pemimpin daerah dan nasional yang menonjol. Dari orang seperti Gubernur Ganjar Pranowo, Walikota Tri Rismaharini dan Hasto Wardoyo, hingga Jokowi yang kini menjadi presiden.

“Pak Jokowi sendiri mengalami juga proses kaderisasi dari bawah ini,” katanya.

Selain itu, PDI Perjuangan juga melakukan ekspansi dengan membangun jaringan kantor di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, dari Miangas sampai Pulau Rote.

“Kami terus memperbaiki manajemen partai hingga diakui dengan mendapat sertifikasi ISO 9001,” katanya.

Hasto juga secara khusus menekankan bahwa partainya kini sedang melakukan proses mengatraksi pemilih muda dan baru, yakni pemilih milenial.

“Di sini kami mentransformasikan partai sehingga menjadi digital party di Indonesia,” kata Hasto.

Sementara politikus muda PDI Perjuangan, Putra Nababan, memberi paparan soal bagaimana karakter milenial yang dikembangkan oleh PDIP. Menurut Putra, karakter kelompok milenial adalah inovasi dan kreativitas. Kebanyakan tak mau beraktivitas dengan gaya lama. Maka PDIP mewujudkannya lewat membangun lingkungan yang progresif revolusioner.

Wujudnya, PDI Perjuangan membangun sistem organisasi digital dalam bentuk penerimaan kader secara digital, psikotes digital, metode pembayaran digital, hingga membangun big data kader, simpatisan, hingga jejaring influencer. [CHA]