Di sinilah sense of crisis seharusnya tidak berhenti sebagai jargon. Ia harus menjelma menjadi tindakan yang konkret dan, kalau perlu, brutal terhadap inefisiensi. Semua program harus diaudit ulang. Semua kebijakan harus diuji: apakah ini benar-benar perlu, atau sekadar proyek yang mencari alasan untuk hidup?
Karena dalam survival mode, tidak ada ruang untuk basa-basi. Tidak ada ruang untuk proyek titipan. Tidak ada ruang untuk kompromi dengan ketidakjujuran. Bahkan satu persen kebocoran bisa berarti hilangnya oksigen bagi jutaan rakyat.
Dan satu hal lagi yang sering kita lupakan: pujian dari luar tidak selalu berarti keselamatan.
Sejarah kita pernah mencatat bagaimana manisnya kata-kata lembaga global bisa berubah menjadi pahitnya ketergantungan gombal. Kita pernah terbuai, lalu tersandung. Maka hari ini, pujian itu harus disaring, bukan ditelan mentah-mentah.
Akhirnya, negeri ini memang belum mati. Tapi jelas sedang diuji: apakah ia akan sekadar bertahan, atau benar-benar berbenah.
Karena dalam kamus kehidupan bangsa, survival hanyalah fase. Ia bisa menjadi jalan menuju kebangkitan, atau justru pintu menuju kejatuhan — tergantung apakah kita berani berubah, atau tetap nyaman dalam ilusi.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



