Ilustrasi

Koran Sulindo – Soekarno tidak hanya sibuk memikirkan politik dan revolusi saja. Urusan makanan juga ada di nalar ideologis Pemimpin Besar Revolusi itu, “Makanan bisa menyelamatkan, walau revolusi belum selesai.”

Pada  masa 1950 hingga 1967, Pemerintah Indonesia memang giat mengembangkan program dan propaganda makanan sehat bagi rakyat melalui publikasi buku-buku ilmu makanan. Selain itu, usaha memiliki buku masak nasional pun untuk pertama kalinya dikerjakan melalui proyek ambisius pemerintah pada kurun 1960 – 1967.

Buku ini merupakan sebentuk penegasan pemerintah terhadap perlunya konsep ”makanan Indonesia” sebagai wujud simbolik dari bagaimana makanan dijadikan sebagai identitas bangsa. Ribuan resep yang terdiri dari warisan lama baik lokal mau pun asing dari abad-abad sebelumnya hingga temuan resep-resep baru dari berbagai daerah di Indonesia dihimpun dalam buku ini

Disini dimulai sejarah, negara terlibat dalam urusan masakan nusantara.

Buku berjudul “Mustika Rasa” (Departemen Pertanian, 1967) itu yang memuat sekitar 1.600 resep-resep masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, tebalnya 1.123 halaman. Perintah Soekarno untuk menerbitkan “kookboek” atau buku masakan itu memakan waktu hingga 7 tahun. Pengumpulan dan penyusunan diantara 1961-1966 dan diterbitkan pada 1967.

Proyek buku itu dimulai ketika Menteri Pertanian Brigjen dr Azis Saleh bertemu Presiden Soekarno. Dalam memo Aziz Saleh (12 Desember 1960) selaku menteri pertanian memuat informasi hasil percakapannya dengan Soekarno. “Sesuai suatu pembitjaraan saja dengan Presiden Soekarno, maka supajalah Lembaga Teknologi Makanan nanti diberi tugas untuk menjusun suatu ‘kookboek’ jang lengkap untuk seluruh Indonesia. Maksud pokok ialah supaja ‘kookboek’ itu merupakan penundjuk djalan bagi rakjat Indonesia didaerah manapun, bagaimana bahan-bahan makanan jang terdapat didaerahnja itu dapat diolah mendjadi makanan lezat jang berfaedah.”

Harsono Hardjohutomo, ketua panitia buku masakan Indonesia mengatakan menulis suatu buku masakan membawa banjak risiko. sebab disamping pembatja-pembatja jang memudji, akan terdapat banjak orang-orang jang mentjela. “Untuk menormalisasikan imbangan antara pemudji dan pentjela, kita menempuh djalan jang exact, jaitu dengan penelitian-penelitian di laboratorium.”

Jadi, Mustika Rasa bukanlah proyek main-main, tapi pertanggungjawaban besar demi negara dan bangsa sebagai pusaka warisan tradisional seni masakan Indonesia.

Dari resep masakan buku Mustika Rasa itu, bangsa Indonesia mesti berusaha agar warisan resep yang sudah terdata itu selain bisa disajikan ke publik, diupayakan terus menerus ditambah dengan melacak resep-resep masakan lainnya dari pelbagai pelosok kota dan desa.

Mustika Rasa menjadi rujukan identitas makanan ke-Indonesian kita yang selama ini mungkin disepelekan dari menjadi Indonesia. Buku ini mampu merestorasi gambaran resep-resep masa lalu yang luput dari amatan kita dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah gambaran yang mengasyikkan tentang identitas ke-Nusantaraan seni masakan bangsa Indonesia. Negara perlu merawat dan menjadikan buku ini sebagai fondasi kebijakan masakan di Indonesia, khususnya dalam memperdalam nilai budaya gastronomi-nya.

Mengubah Pola Komsumsi

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menawarkan ulang gagasan Soekarno ini ketika berbicara tentang haluan negara. Gagasan Mega yang diberi nama ‘Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana’ sudah dirumuskan ke banyak aspek, termasuk hingga urusan perut.

Mega mengisahkan di era Bung Karno, dibentuk Dewan Perancang Nasional (Deparnas) yang bertugas membuat pola pembangunan berdasarkan Pancasila dan kemudian diserahkan ke MPR. Deparnas membuat blueprint kebijakan politik pembangunan dalam Tripol Pembangunan, yaitu: Pola Proyek, Pola Penjelasan, dan Pola Pembiayaan.

“Contoh dari Tripola Pembangunan pada bidang pangan adalah merancang bagaimana Indonesia berdaulat di bidang pangan dari hulu ke hilir, ”kata Mega, Maret lalu.

Mega lalu menunjukkan kembali buku ‘Mustika Rasa’ yang disebutkan merupakan implementasi pembangunan semesta di bidang pangan.

Salah satu fokus buku itu adalah mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia dari beras ke umbi. Mega pun menunjukkan bagaimana buku itu benar benar mencerminkan kuliner Indonesia.

Buku ‘Mustika Rasa’ itu hanyalah satu contoh bagaimana haluan negara diwujudkan ke kehidupan sehari-hari. Buku yang tampak sederhana itu sebenarnya merupakan hasil pemikiran dan penelitian ahli selama bertahun-tahun.

DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan berencana menerbitkan kembali buku itu, karenadi dalam buku tersebut terkandung tekad yang kuat tentang lidah rakyat Indonesia yang tidak boleh dijajah oleh makanan impor.

“Seluruh resep makanan Indonesia dikumpulkan menjadi bagian dari supremasi kebudayaan Indonesia,” kata Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, awal Agustus lalu.

Bung Karno sendiri berulang kali menegaskan, “Jangan sampai lidah dan perut bangsa Indonesia terjajah.” [DAS]