Kisah Aburizal Bakrie, Dokter Terawan Agus, dan Doktor Warsito Purwo

Kisah Aburizal Bakrie, Dokter Terawan Agus, dan Doktor Warsito Purwo

Mayor Jenderal Dr. dr. Terawan Agus Putranto (pertama dari kiri) dalam sebuah acara.

Koran Sulindo – Ketua Dewan Pembina Partai Golkar yang juga mantan ketua umum partai tersebut, Aburizal Bakrie, membela Kepala RSPAD Gatot Subroto-Jakarta, Dr. dr. Terawan Agus Putranto, yang mendapat sanksi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Diungkapkan Aburizal alias Ical, Terawan dengan metoda “cuci otak”-nya telah mampu menyembuhkan puluhan ribu orang penderita stroke.

Ical juga mengaku telah merasakan manfaat dari metoda tersebut. “Saya sendiri termasuk yang merasakan manfaatnya, juga Pak Tri Sutrisno, SBY, AM Hendropriyono, dan banyak tokoh/pejabat, juga masyarakat luas. Mudah menemukan testimoni orang yang tertolong oleh dr Terawan,” tulis Ical dalam akun resmi Twitter-nya, Selasa pagi (3/4). Itu sebabnya ia merasa perlu ikut membela Terawan. “Inilah mengapa saya perlu ikut membela dia. Orang yang dengki terhadap keberhasilan orang lain adalah orang yang tak pandai mensyukuri bahwa Allah telah memberikan kelebihan pada siapa pun yang dikehendakinya.”

Beberapa waktu lalu, foto surat Pengurus Besar IDI yang ditujukan kepada Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Seluruh Indonesia (PDSRI) bertanggal 23 Maret 2018 beredar di kalangan wartawan. Dalam surat itu dinyatakan, IDI memberikan sanksi kepada Dokter Terawan Agus Putranto berupa pemecatan selama 12 bulan dari keanggotaan IDI sejak 26 Februari 2018-25 Februari 2019. Keputusan itu diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar IDI yang menilai Dokter Terawan melakukan pelanggaran etika kedokteran. “Bobot pelanggaran Dokter Terawan adalah berat, serious ethical missconduct. Pelanggaran etik serius,” kata Ketua MKEK IDI Prio Sidipratomo.

Bukan hanya itu. IDI pun mencabut izin praktik Dokter Terawan. Juga ada imbauan kepada pengurus IDI daerah dan PDSRI untuk menaati putusan MKEK tersebut.

Terawan sendiri adalah dokter militer dan pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputera Naraya. Namanya mulai banyak dibicarakan orang karena metoda yang ia gunakan untuk penyembuhan pasien penderita stroke, yang populer disebut metoda cuci otak. Stroke umumnya disebabkan oleh terhambatnya aliran darah ke otak karena penyempitan atau pembuluh darah yang tersumbat plak, yang biasanya berupa lemak.

Dalam metodanya, Dokter Terawan menggunakan obat heparin untuk menghancurkan plak itu. Obat tersebut dimasukkan lewat kateter yang dipasang di pangkal paha menuju sumber kerusakan pembuluh darah penyebab stroke di otak.

Ada yang menilai, metoda penyembuhan stroke yang digunakan Dokter Terawan merupakan suatu terobosan dalam dunia kedokteran. Namun, tak sedikit pula yang menilai terapi tersebut melanggar etik, sehingga terbitlah keputusan Pengurus Besar IDI itu.

Sebelumnya, nasib yang hampir sama juga dialami Dr. Warsito Purwo Taruno, yang menciptakan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) untuk mengobati kanker. ECTV merupakan teknologi pemindai 4D pertama di dunia yang ditemukan Warsito. Kemampuan ECTV lebih unggul daripada CT Scan dan MRI.

Ia kemudian mengembangkan Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) di Tangerang, Banten. ECVT kemudian dibuat dalam bentuk rompi dan helmet. Banyak penderita kanker berobat ke CTECH Labs dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Namun, pada tahun 2015, Kementerian Kesehatan meminta Warsito menutup kliniknya. Maka, pada 27 Januari 2016, Warsito pun mematuhi instruksi tersebut.

Warsito Purwo Taruno awalnya berkuliah di Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tapi kemudian mendapat beasiswa OFP Habibie ke Shizouka University, Jepang. Gelar magister dan doktornya pun diraih dari universitas itu. Ketika melakukan studi pasca-sarjana itulah ia tertarik mempelajari kemampuan menembus pandang sebuah obyek, yang sekarang disebut sebagai tomografi.

Warsito berhasil menciptakan teknologi yang mampu melihat tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek lainnnya yang tak tembus cahaya. Ia mulai melakukan risetnya di Laboratorium of Molecular Transport di Jepang, di bawah bimbingan Profesor Shigeo Uchida.

Tahun 2004, ia berhasil menyelesaikan risetnya meski masih dalam bentuk protipe, ECVT itu. Protipe tersebut kemudian menjadi incaran banyak pihak, termasuk Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Diungkapkan Warsito dan dikutip banyak media pada tahun 2016 lalu, ECVT merupakan teknologi aliran elektro listrik berdaya kecil, yang berpusat pada titik tertentu dalam saraf yang terjangkit kanker tersebut.

Warsito adalah peneliti Indonesia dengan reputasi kelas dunia. Namun, di Tanah Air, kemampuah dan kecerdasannya disia-siakan, sama seperti halnya Terawan Agus Putranto.

Lewat akun media sosialnya pada 16 Mei 2016 lalu, Warsito memberi tahu, dirinya kini ada di Warsawa, Polandia. Dan, ia membuka klinik pengobatan kanker di sana. [RAF]