Ilustrasi/ist

Koran Sulindo -. Beberapa masalah mencengkram kehidupan multikultural di dunia saat ini. Salah satunya adalah “Clash of Ignorance”, yakni ketidakpedulian seseorang terhadap budaya, suku, dan agama orang lain.

“Ketidakpedulian punya implikasi signifikan dalam kehidupan sosial dan kultural karena hal tersebut membentuk kesadaran masyarakat untuk menentukan jalan dalam mempersepsikan mereka dengan yang lain dalam wilayah kultural mereka,” kata Dr. Sidi M. Omar, dari Universitate Jaime, Spanyol, saat menjadi pembicara dalam sesi 1 Mahathir Global Peace School 5 dengan materi “Interreligious Dialogue as an Alternative to the ‘Clash of Civilisation’ Theory”, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (28/11).

Selain itu juga terdapat “kebutahurufan agama” atau yang disebut “Religious Illteracy”, yakni kecenderungan untuk mengenali agama semata-mata dengan praktek kebaktian seperti ritual, upacara dan festival keagamaan. Hal itu ditambah dengan kecenderungan melihat tindakan individu, masyarakat, dan bangsa secara eksklusif untuk agama tanpa mengetahui dasar agama tersebut melakukan hal tersebut.

“Saat ini religious Iliteracy sudah menyebar. Hal ini merupakan wujud ketidakmampuan seseorang untuk memahami dan terlibat dengan perbedaan agama dan budaya dalam masyarakat multikultural saat ini,” kata Omar.

Menurut Sidi hal itu bisa terjadi sebagai hasil dari globalisasi dan meningkatnya penggunaan teknologi dan informasi serta intensitas gerakan migrasi, secara tidak langsung menghasilkan perubahan interaksi di kalangan masyarakat.

Perubahan interaksi itu pun, lanjutnya, tidak hanya antar budaya yang sama, namun juga budaya yang berbeda yang kemudian menyebabkan masyarakat multikultural. Di samping meningkatnya kekayaan dalam berbagai aspek, interaksi antarbudaya ini. Di sisi lain juga menghasilkan tensi, ketakutan dan konflik antar masyarakat.

Oleh karena itu, menurut Sidi, dialog antaragama dinilai mampu menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat, khususnya masyarakat multikultural. Dialog antaragama dapat memainkan peran penting dalam memfasilitasi interaksi yang konstruktif dan kolaboratif antara orang-orang yang berbeda agama untuk menghindari resiko pemahaman yang salah terhadap agama tertentu, serta alasan di balik konflik dalam masyarakat multikultural.

Sidi menekankan pentingnya melakukan dialog antaragama sebagai alternatif penyelesaian konflik di era sekarang ini. Sebagai seperangkat kepercayaan, standar moral dan praktek ritual yang memandu sifat individu dan sosial, agama sangat berperan sebagai dimensi yang kuat bagi pengalaman hidup manusia.

“Saya kira sangat perlu untuk mendalami dialog antaragama yang berkontribusi untuk memecah kebuntuan diantara ketidakpedulian dan intoleransi sehingga menciptakan alternatif konstruktif untuk konflik multikulutural,” ungkapnya.

Ditambahkan dialog antaragama ini harus dilakukan secara terbuka dan inklusif untuk semua kalangan masyarakat.

“Dialog antar agama jangan dilakukan secara eksklusif oleh elit politik, agama, dan akademisi, tetapi juga dipahami dan dibawa secara terbuka, yang melibatkan masyarakat beragama yang lebih luas di semua level,” kata Omar. [YUK]