Ilustrasi pertumbuhan ekonomi di 2021/Sindonews

Koran Sulindo – Melesatnya ekonomi di Ibu Kota DKI Jakarta mencapai 10,91 persen pada triwulan II-2021 atau lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu yang mengalami kontraksi 8,33 persen faktor, utamanya terjadi karena low base effect atau rendahnya basis data pembanding pertumbuhan pada tahun lalu.

“Utamanya karena low base effect,” kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah ketika dihubungi Koran Sulindo, Senin (9/8).

PDRP Jakarta triwulan II pada tahun 2020 yang menjadi dasar hitung pertumbuhan ekonomi pada triwulan II di tahun ini sudah turun sangat dalam. Sehingga ketika perekonomian Jakarta mengalami rebound, terhitung sebagai pertumbuhan yang tinggi, yaitu sebesar 10,91 persen.

Reboundnya perekonomian Jakarta dan juga nasional didorong oleh banyak faktor, kata Piter. Di antaranya, konsumsi yang kembali meningkat seiring membaiknya keyakinan konsumen serta adanya Ramadhan dan Lebaran 2021.

Kemudian, kata Piter, kegiatan ekspor yang kembali meningkat didorong oleh kenaikan demand dan harga komoditas.

Piter mengaku sudah memperkirakam pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021 akan tumbuh positif, namun tidak seoptimis proyeksi pemerintah.

Pasalnya, menurut Piter, faktor risiko pandemi Covid-19 masih besar, mengingat banyak negara di dunia memasuki gelombang kedua, bahkan gelombang ketiga pandemi, yang berdampak besar terhadap perekonomian.

“Berharap iya, tapi kita harus korting, jangan sampai nanti kita salah dalam memproyeksikan karena faktor risiko masih besar,” jelas Piter.

Sementara, Kepala BPS DKI Jakarta Buyung Airlangga menegaskan, melesatnya pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota salah satunya didorong pelonggaran kegiatan ekonomi dan sosial.

“Pada triwulan kedua juga merupakan Idul Fitri, kemudian tunjangan hari raya dan gaji ke-13 kepada pegawai dan ASN dibayarkan,” ucapnya.

Buyung pun merinci dinamika pertumbuhan ekonomi di DKI yang sebelumnya merosot akibat pandemi dari terkontraksi 8,33 persen menjadi kontraksi 3,89 persen pada triwulan III-2020.

Lalu, tumbuh membaik meski masih dalam zona negatif pada triwulan IV-2020 menjadi 2,14 persen. Memasuki tahun 2021, pertumbuhan ekonomi di DKI membaik pada triwulan I meski masih kontraksi 1,91 persen hingga tumbuh dalam zona positif 10,91 persen pada triwulan II-2021.

Pertumbuhan pada triwulan II-2020 ini, kata Buyung didorong oleh kinerja positif lapangan usaha seperti penyediaan akomodasi makan minum, transportasi dan pergudangan. Peningkatan ini, karena konsumsi masyarakat di antaranya transportasi, komunikasi dan rekreasi serta hotel dan restoran kembali menggeliat.

Meski pun, diakui Buyung, pertumbuhan ekonomi di DKI melesat hingga 10,91 persen pada triwulan II-2021, namun Buyung mengungkapkan kemampuan daya beli masyarakat masih lemah.

Kondisi itu tercermin dari realisasi produk domestik regional bruto pada triwulan II-2021 mencapai Rp459,7 triliun. Ini lebih rendah dibandingkan pada triwulan I-2020 yang mencapai Rp468,2 triliun, yang saat itu belum terdampak pandemi.

“Walaupun growth nya 10,91 persen, ini mengindikasikan bahwa penciptaan nilai tambah pada triwulan dua belum bisa menyamai pada posisi triwulan 1 2020,” pungkasnya. [WIS]