Ilustrasi

Koran Sulindo – Indonesia saat ini màsih dihadapkan pada 3 beban. Pertama masih banyak penduduk Indonesia yang terkena penyakit infeksi. Yang kedua adalah penyakit degeneratif akibat pola gaya hidup. Dan yang ketiga adalah penyakit yang ditimbulkan adanya perubahan epidemiologi seperti TBC yang 30 tahun lalu mudah diobati namun kini susah diobati, adanya resistensi.

Hal ini dikatakan oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof.dr. Ova Emilia Sp.OG., saat membuka seminar “Peran Herbal Untuk Mencegah Proses Degenerasi”, yang berlangsung di Auditorium Fakultas Kedokteran. UGM, Sabtu (22/4).

“Herbal merupakan suatu modal yang potensial yang bisa mencegah penyakit degeneratif,” kata Ova.

Ditambahkan Prof. Dr. Mae Sri Hartati W., Kepala Pusat Kedokteran Herbal Fakultas Kedokteran UGM, tanaman herbal banyak ditemukan di Indonesia. Setidaknya ada 30 ribu species yang telah dideterminasi oleh para ahli biologi, dan bahkan sekitar 9.600 yang sudah terdeteksi bisa digunakan untuk pengobatan. “Hanya saja pengobatan herbal ini masih dipandang sebelah mata oleh medis barat,” ujarnya.

Menurut Ova, terapi herbal, akupuntur yang semuanya itu merupakan oriental medicine merupakan modal besar yang bersifat konplementer dengan terapi-terapi medis barat. Hanya saja, lanjut Ova, karena pendekatannya atau evaluasinya yang berbeda yang oleh di antara para ahli yang berkaitan dengan pengobatan, maka yang disebut komplementer ini tidak kuat.

“Tapi kalau dilihat di pasar, suplemen yang kita temui itu sebetulnya adalah obat herbal dalam kemasan modern,” tutur Ova.

Ova melihat mestinya antara herbal dan pengobatan ala barat bisa saling mengisi, terlebih kalau mengacu pada kepentingan yang sama yakni kepentingan pasien adalah nomer 1. Dengan kata lain, herbal bisa diberikan selama itu untuk kepentingan pasien. “Sejauh itu untuk kepentingan pasien dan tidak merugikan pasien, maka kita semua wajib terbuka untuk perbaikan kualitas hidup pasien,” ujar Ova.

Hal yang sama juga diharapkan oleh Direktur PT Sido Muncul, Irwan Hidayat. “Melalui seminar herbal seperti ini diharapkan dunia kedokteran memiliki wawasan yang luas mengenai perkembangan industri jamu, penelitian-penelitian yang dilakukan, juga penggunaan jamu untuk pelayanan kesehatan,” kata Irwan.

Terkait dengan dunia perherbalan, Ova juga menegaskan di Fakultas Kedokteran  juga ada mata kuliah yang mempelajari tentang herbal dengan nilai 3 SKS. Studi tentang herbal ini bahkan sudah dimulai sejak 2005. “Setiap tahunnya ada sebanyak 60 màhasiswa yang mengambil studi itu,” kata Ova.

Ditambahkan Mae, Pusat Kedokteran Herbal Fakultas Kedokteran UGM ini juga didirikan karena banyak para màhasiswa baik S1 maupun S2 yang mengambil skripsi yang berhubungan dengan herbal. “Karena itu Pusat Kedokteran Herbal ini didirikan, dan kini sudah berjalan 7 tahun,” ungkap Mae. [YUK]