Membantu Bung Karno

Perkenalannya dengan Bung Karno terjadi saat ia menjadi mahasiswa Jurusan Sastra dan Bahasa Jawa Universitas Indonesia—meski orang tuanya sebenarnya menginginkan dia menempuh pendidikan di fakultas ekonomi. Dalam acara Dies Natalis Universitas Indonesia pada 9 Februari 1955, yang dihadiri Presiden Soekarno, Go tampil sebagai salah satu pengisi acara, membawakan tari Gambir Anom.

Ia memang mahir menari Jawa, yang ia pelajari sejak kecil. Bahkan, waktu mahasiswa itu, ia menjadi pengurus  Ikatan Seni Tari Indonesia (ISTI), selain menjadi Ketua Seksi Kebudayaan Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia.

Selesai acara dan saat mengalungkan bunga kepada pengisis acara, Bung Karno memuji Go. “Tarianmu bagus,”  kata Bung Karno.

Selanjutnya, Go Tik Swan ditawari Bung Karno untuk membantu melayani tamu-tamu kenegaraan di Istana Merdeka. Sering ia berada di istana sampai malam hari dan tak jarang diajak Bung Karno untuk makan malam bersama. Kesempatan ini dimanfaatkan Go untuk menimba ilmu dari Bung Karno.

“Go Tik Swan memang agak feminin, luwes bergaul dengan siapa saja. Termasuk dengan Bung Karno. Ketika Fatmawati meninggalkan istana, dia masuk dan mengerjakan semua pekerjaan seperti pembantu. Menata tempat tidur, bersih-bersih,” kata Rustopo.

Setelah Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro wafat, kemampuan membatiknya diteruskan oleh Supiyah Anggriani dan suaminya, K.R.A. Hardjosoewarno. Keduanya memang telah ditunjuk Go untuk menjadi ahli warisnya.

Supiyah telah bekerja bersama Go Tik Swan sejak 1979. Pekerjaan sehari-harinya awalnya adalah memasak dan menyiapkan makan untuk Go dan tamu-tamunya. Seiring berjalannya waktu, Supiyah kemudian diajari pengetahuan tentang proses pembatikan, mulai dari belajar menggambar, mewarnai batik, sampai menjadi batik jadi.

Sampai sekarang, Supiyah bersama Hardjosoewarno masih meneruskan cara Go membatik. Jadi, bila ada yang menginginkan batik Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro dapat datang ke Dalem Hardjonegaran, menemui Supiyah atau suaminya. Namun, memang tak pernah ada stok batik yang bisa langsung dibawa pembeli dari sana. Pembuatan batiknya baru dilakukan bila ada pemesanan. [Purwadi Sadim]