Sejarah kelam Indonesia tidak hanya berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pernah terjadi tragedi besar yang menewaskan ribuan orang Tionghoa di Batavia dan berkembang menjadi perang yang meluas ke berbagai wilayah Pulau Jawa.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai Geger Pecinan atau Perang Sepanjang. Konflik yang bermula dari pembantaian masyarakat Tionghoa oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada Oktober 1740 itu berkembang menjadi perlawanan bersenjata yang melibatkan laskar Tionghoa dan sejumlah kelompok Jawa.
Persekutuan tersebut sempat mengguncang kekuasaan VOC dan membuat Keraton Mataram Islam di Kartasura berada dalam situasi genting. Namun, dinamika politik dan perubahan persekutuan membuat jalannya perang tidak selalu berpihak kepada para pemberontak.
Dikutip dari buku Geger Pacinan 1740–1743: Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC karya Daradjadi, berikut kronologi tragedi Geger Pecinan yang menjadi salah satu bab penting dalam sejarah kolonial di Jawa.
1. Kebijakan VOC Memicu Ketegangan
Menjelang akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, jumlah penduduk Tionghoa di Batavia terus bertambah. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pedagang, pengrajin, dan pekerja di berbagai sektor ekonomi.
Namun, pertumbuhan populasi tersebut diikuti kebijakan VOC yang semakin ketat. Perusahaan dagang Belanda itu menerapkan aturan terkait kuota pendatang, pajak kepala, dan izin tinggal bagi masyarakat Tionghoa.
Kebijakan tersebut semakin menimbulkan keresahan ketika kondisi ekonomi VOC memburuk. Pada 1730-an, razia terhadap orang Tionghoa yang dianggap tidak memiliki izin semakin sering dilakukan.
Memasuki 1740, ketegangan meningkat. Wabah penyakit melanda Batavia, sementara VOC memperketat pengawasan dan melakukan penangkapan terhadap orang Tionghoa, termasuk mereka yang memiliki dokumen tinggal.
Pada 4 Februari 1740, terjadi percobaan pembebasan tahanan. Situasi ini memperkuat kecurigaan VOC terhadap komunitas Tionghoa. Kebijakan penangkapan pun semakin memperburuk hubungan kedua pihak.
Ketegangan kemudian berkembang menjadi bentrokan bersenjata. Pada awal Oktober 1740, serangan terhadap sejumlah pos VOC menambah kekhawatiran pemerintah kolonial dan mendorong tindakan keamanan yang semakin represif.
2. Pembantaian Tionghoa di Batavia pada Oktober 1740
Ketegangan antara VOC dan masyarakat Tionghoa akhirnya berubah menjadi tragedi berdarah pada Oktober 1740. Penangkapan, penggeledahan rumah, penjarahan, serta beredarnya kabar bahwa tahanan Tionghoa akan dibuang ke laut memicu kepanikan.
Pada 9 Oktober 1740, kebakaran besar terjadi di kawasan permukiman Tionghoa di Batavia. Situasi yang sebelumnya telah memanas semakin tidak terkendali.
Sehari kemudian, pada 10 Oktober 1740, Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier memerintahkan tindakan keras terhadap masyarakat Tionghoa. Kekerasan kemudian berkembang menjadi pembunuhan massal terhadap penduduk yang tidak hanya melibatkan mereka yang dicurigai memberontak.
Ribuan orang Tionghoa menjadi korban. Sejumlah korban dibunuh di sekitar Stadhuis, pusat pemerintahan VOC yang kini dikenal sebagai kawasan Museum Fatahillah. Mayat para korban juga dibuang ke Kali Besar.
Jumlah korban pembantaian tersebut diperkirakan mencapai 7.000 hingga 10.000 orang. Angka ini merupakan perkiraan dalam berbagai catatan sejarah, bukan jumlah pasti yang dapat dipastikan sepenuhnya.
Tragedi tersebut menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah Batavia pada masa kolonial. Selain menghancurkan kehidupan komunitas Tionghoa, pembantaian itu memicu gelombang pelarian dan perlawanan ke berbagai daerah di Jawa.
3. Perlawanan Tionghoa Menyebar ke Berbagai Daerah
Setelah pembantaian, kelompok-kelompok Tionghoa yang selamat mulai mengorganisasi perlawanan terhadap VOC. Pada Oktober 1740, pasukan Tionghoa menyerang sejumlah posisi Kompeni, termasuk di Tangerang dan Meester Cornelis.
Meski memiliki jumlah pasukan yang besar, mereka menghadapi keterbatasan persenjataan dan kesulitan menembus pertahanan VOC.
Salah satu tokoh penting dalam perlawanan ini adalah Kapitan Sepanjang, pemimpin laskar Tionghoa yang kemudian berperan besar dalam perang di berbagai wilayah Jawa.
Untuk menghindari serangan Kompeni, pasukannya bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Sebagian kelompok menuju Bekasi dan Karawang, sementara rombongan lainnya melanjutkan perjalanan ke pesisir utara Jawa.
Pada akhir 1740 hingga awal 1741, rombongan pengungsi Tionghoa mencapai Lasem. Di daerah tersebut, mereka memperoleh bantuan dari sejumlah tokoh lokal, termasuk Raden Panji Margana dan Bupati Lasem Tumenggung Widyaningrat, yang dikenal pula sebagai Oey Ing Kiat.
Dukungan dari sejumlah tokoh setempat membuat Lasem berkembang menjadi salah satu basis penting bagi konsolidasi perlawanan terhadap VOC.
Perlawanan tersebut pun mulai melampaui batas Batavia. Di sejumlah daerah, kelompok Tionghoa yang selamat bertemu dengan masyarakat dan tokoh Jawa yang memiliki kepentingan politik maupun kepentingan perlawanan terhadap Kompeni.
4. Persekutuan Tionghoa-Jawa Mengguncang VOC
Memasuki 1741, perlawanan terhadap VOC semakin meluas. Serangan terjadi di sejumlah wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Pati, Demak, Tegal, dan Semarang.
Pada April hingga Mei 1741, pasukan Tionghoa dalam jumlah besar muncul di kawasan Tanjung Welahan dekat Demak. Salah satu pemimpinnya adalah Singseh, yang dikenal sebagai Tan Sin Ko.
Di sejumlah daerah, perlawanan tidak lagi hanya melibatkan kelompok Tionghoa. Sebagian penguasa, bangsawan, dan kelompok bersenjata Jawa turut memberikan dukungan, baik secara terbuka maupun diam-diam.
Persekutuan tersebut menjadi ancaman serius bagi VOC. Pasukan gabungan menyerang pos-pos Kompeni, sementara pertahanan Belanda di sekitar Semarang menghadapi tekanan yang semakin besar.
Pada 30 Juni 1741, pasukan Kapitan Sepanjang bersama panglima Tionghoa di Tegal menyerang pos VOC di Tegal. Perlawanan kemudian meluas ke daerah lain, termasuk Kedu.
Di Semarang, pertempuran berlangsung sengit. Pasukan VOC bersama sekutunya berusaha mempertahankan sejumlah titik pertahanan. Namun, tekanan dari kelompok pemberontak membuat posisi mereka semakin sulit.
Meski demikian, tidak semua masyarakat Tionghoa dan Jawa berada dalam kubu yang sama. Sejumlah penguasa lokal tetap mendukung VOC, sedangkan pihak lainnya bergabung dengan pemberontak. Kepentingan politik dan perebutan kekuasaan turut menentukan arah persekutuan tersebut.
Karena itu, Geger Pecinan tidak tepat dipahami semata-mata sebagai konflik antara etnis Tionghoa dan masyarakat pribumi. Peristiwa ini juga merupakan perang melawan dominasi VOC yang melibatkan berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda.
5. Kartasura Jatuh ke Tangan Sunan Kuning
Konflik semakin besar ketika perlawanan melibatkan lingkungan Kerajaan Mataram Islam. Pada 1741, pasukan Tionghoa dan kelompok pendukungnya menyerang sejumlah posisi VOC, termasuk di sekitar Kartasura, ibu kota kerajaan saat itu.
Pada awal Agustus 1741, ribuan pasukan Tionghoa tiba di Kartasura dan bergabung dengan kekuatan Mataram untuk mengepung posisi Kompeni. Kapitan Sepanjang disebut berperan dalam pengoperasian meriam milik keraton.
Namun, situasi politik Mataram tidak sepenuhnya solid. Sunan Pakubuwono II kemudian berpihak kepada VOC, sehingga hubungan antara kerajaan dan kelompok pemberontak semakin rumit.
Perlawanan terus berlangsung hingga 1742. Kelompok yang mendukung Raden Mas Garendi, yang dikenal sebagai Sunan Kuning, menghimpun kekuatan bersama laskar Tionghoa dan sejumlah tokoh Jawa, termasuk Raden Mas Said.
Sunan Kuning diangkat menjadi Sunan Amangkurat V oleh kelompok pemberontak. Pengangkatan tersebut merupakan bagian dari upaya menggulingkan kekuasaan Pakubuwono II dan membangun pemerintahan tandingan.
Pada 30 Juni 1742, pasukan Sunan Kuning memasuki Kartasura. Kapitan Sepanjang memimpin pasukan penyerang, sementara Raden Mas Said disebut turut merebut pusaka keraton.
Sunan Pakubuwono II meninggalkan Kartasura dan melarikan diri ke arah timur. Jatuhnya ibu kota kerajaan menjadi salah satu puncak Geger Pecinan dan memperlihatkan besarnya ancaman yang dihadapi VOC maupun penguasa Mataram.
Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak bertahan lama. VOC dan sekutunya menyusun serangan balik untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai pemberontak.
6. Serangan Balik VOC dan Pasukan Madura
Keadaan mulai berubah ketika VOC memperoleh dukungan dari kekuatan Madura. Pasukan gabungan melancarkan serangan balik terhadap kelompok pemberontak yang sebelumnya berhasil menguasai sejumlah wilayah.
Pada November 1742, kekuatan pendukung VOC berhasil merebut kembali Kartasura. Sunan Kuning dan para pengikutnya terpaksa meninggalkan keraton dan melanjutkan perlawanan di wilayah lain.
Pasukan Tionghoa juga mengalami kekalahan di sejumlah titik. Posisi mereka di sekitar Ungaran, Tuntang, dan Juwana semakin terdesak. Sejumlah wilayah pesisir utara yang sebelumnya menjadi basis perlawanan kembali berada di bawah kendali VOC dan sekutunya.
Perubahan keadaan tersebut melemahkan koordinasi pasukan pemberontak. Dukungan yang sebelumnya memungkinkan mereka menguasai wilayah luas semakin sulit dipertahankan.
Namun, perlawanan belum sepenuhnya berakhir. Kelompok-kelompok yang tersisa melanjutkan perjuangan melalui perang gerilya di pedalaman Jawa.
7. Perlawanan Melemah, Sunan Kuning Dibuang ke Sri Lanka
Memasuki akhir 1742 hingga 1743, kekuatan pasukan pemberontak semakin melemah. Kelompok yang dipimpin Sunan Kuning, Kapitan Sepanjang, dan Raden Mas Said berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk menghindari pengejaran VOC.
Serangan terhadap sejumlah markas perlawanan membuat mereka kehilangan banyak prajurit dan sumber daya. Sejumlah tokoh tertangkap, sementara pasukan yang tersisa terpaksa berpencar.
Pada 2 Desember 1743, Sunan Kuning menyerahkan diri kepada VOC di Surabaya. Ia kemudian dibuang ke Sri Lanka. Penyerahan diri tersebut menjadi salah satu penanda berakhirnya perlawanan besar yang dipimpinnya.
Sementara itu, Kapitan Sepanjang tidak tercatat menyerah kepada VOC. Setelah bergerak hingga Blambangan, ia dilaporkan melanjutkan pelarian ke Bali. Catatan sejarah menyebut keberadaannya masih dilaporkan di Bali pada 1758, tetapi riwayat selanjutnya tidak diketahui secara pasti.
Dengan melemahnya pasukan pemberontak dan kembalinya sejumlah wilayah ke tangan VOC, Geger Pecinan akhirnya meredup setelah berlangsung selama sekitar tiga tahun.
Meski demikian, perang tersebut meninggalkan perubahan besar dalam peta kekuasaan Jawa. Keraton Kartasura mengalami kehancuran, dan pada 1745 Pakubuwono II mendirikan pusat pemerintahan baru di Surakarta.
Geger Pecinan, Tragedi yang Membentuk Sejarah Jawa
Geger Pecinan 1740–1743 memperlihatkan bagaimana kebijakan kolonial yang represif, ketegangan ekonomi, dan perebutan kekuasaan dapat berkembang menjadi tragedi kemanusiaan berskala besar.
Pembantaian ribuan orang Tionghoa di Batavia menjadi titik awal konflik yang kemudian melibatkan berbagai kelompok masyarakat di Jawa. Dalam perkembangannya, sebagian laskar Tionghoa dan kelompok Jawa membangun persekutuan untuk menghadapi dominasi VOC.
Namun, perubahan kepentingan politik, pergantian dukungan para penguasa, serta kekuatan militer VOC membuat perlawanan tersebut akhirnya melemah. [UN]





