Tiga teknologi ini — amonia hijau, panas bumi modular, dan mobil penyimpan energi — bukan sekadar ide futuristik. Ketiganya sedang mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana: energi tidak hilang, hanya perlu diputar untuk dihadirkan dengan niat baik.
Selama ini, kita menyalakan lampu dengan mematikan masa depan — membakar batu bara, gas, dan minyak tanpa memikirkan gantinya. Tapi kini, bumi mulai menagih. Suhu naik, laut mendidih, badai datang bergiliran. Alam sudah capek jadi korban power supply yang rakus.
WEF dan Frontiers menyebut transformasi energi ini sebagai “jalan menuju resilient planet” — planet yang tahan banting, bukan planet yang pasrah. Tapi teknologi hanyalah setengahnya. Separuh lainnya adalah kesadaran manusia untuk tidak menjadikan energi sebagai candu.
Coba renungkan: dulu kita berpikir listrik adalah simbol kemajuan. Sekarang, listrik adalah ukuran kebijaksanaan.
Karena dunia yang benar-benar maju bukanlah dunia yang paling terang di malam hari, tapi dunia yang paling hemat menyalakan siangnya. Dan ketika kita bisa menyalakan dunia tanpa membakar masa depan, mungkin baru di situlah kita benar-benar bisa menyebut diri kita “makhluk beradab.”
Jadi, lain kali ketika Anda menyalakan lampu, menyalakan mobil, atau menyalakan kompor — bayangkan juga, sedang menyalakan harapan bumi. Karena energi sejati bukan berasal dari langit atau tanah, tapi dari hati yang tidak ingin membakar masa depan.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



