Emir Moeis: “Demokrasi Kebablasan”

Emir Moeis: “Demokrasi Kebablasan”

165

Koran Sulindo – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, PDI Perjuangan mengajak seluruh masyarakat berjuang bersama untuk mewujudkan watak politik yang berkeadaban. PDI Perjuangan juga menolak berbagai bentuk kampanye hitam (black campaign) yang menghalalkan segala cara dengan menghancurkan reputasi politik Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, yang dicalonkan PDI Perjuangan dan PKB sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, mendampingi Saifullah Yusuf.

Menurut Hasto, begitu kerasnya upaya banyak pihak yang melakukan kampanye hitam yang mengorbankan aspek etika sehingga benih-benih generasi muda yang punya kepemimpinan sangat baik dapat dipatahkan di tengah jalan. “Karena itulah PDI Perjuangan tetap kukuh. Kami memberikan dukungan moral. Kami memberikan dukungan sepenuhnya bahwa yang namanya Abdullah Azwar Anas adalah sebuah korban dari politik liberal,” tutur Hasto, Sabtu siang (6/1).

Pendiri/Pemimpin Umum Koran Suluh Indonesia yang juga politisi senior PDI Perjuangan, Izedrik Emir Moeis, setuju dengan pernyataan Hasto tersebut. Menurut Emir, demokrasi yang ada sejak era reformasi memang sudah kebablasan. “Kita lihat sekarang dalam pemilihan kepala daerah. Mereka yang terpilih adalah mereka yang punya uang. Memang, ada juga yang betul-betul baik, tapi rata-rata mereka yang punya uang dan paling tidak disokong orang yang punya uang,” kata Emir, Sabtu malam.

Dengan praktik demokrasi yang seperti itu, bisa saja seorang preman memimpin daerah atau lembaga strategis negara. “Karena uangnya banyak, punya anak buah banyak, bisa memeranguhi orang, bisa membeli partai, terus menjadi kepala daerah. Ini ada contohnya. Kita tak bisa menutup mata. Jadi, mau ke mana negara kita?” ujar Emir lagi.

Ia pun menyarankan agar Indonesia menerapkan sistem demokrasi seperti tahun 1960-an, semasa Indonesia dipimpin Presiden Soekarno dan mencetuskan konsep Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia (USDEK). “Jadi, sepertinya, USDEK menjadi relevan kembali,” tutur Emir, yang pernyataan lengkapnya dapat didengar lewat video di atas. [PUR]