Investigasi Al-Jazeera tidak mengatakan bahwa semua negara memiliki peran yang sama. Tidak pula setiap pengiriman otomatis berarti keterlibatan langsung dalam operasi militer tertentu.

Namun data yang mereka kumpulkan memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting. Bahwa perang sebesar Gaza tidak mungkin berlangsung hanya dengan kemarahan.

Ia membutuhkan logistik. Ia membutuhkan kontrak. Ia membutuhkan pabrik. Ia membutuhkan kapal. Ia membutuhkan pelabuhan. Ia membutuhkan uang. Dan yang paling penting, ia membutuhkan dunia yang tetap bersedia memasoknya.

Mungkin itulah pelajaran paling pahit dari investigasi ini. Selama ini kita terbiasa bertanya siapa yang menembakkan peluru.

Padahal sebelum sebuah peluru ditembakkan, ada perjalanan panjang yang harus ditempuhnya.

Ada perusahaan yang membuatnya. Ada dokumen yang mengizinkannya. Ada negara yang membolehkannya. Ada kapal yang mengangkutnya. Ada pelabuhan yang menerimanya.

Dan ada dunia yang memilih untuk tidak menghentikannya. Seri pertama ini baru membuka pintu. Karena di balik setiap reruntuhan yang terlihat di Gaza, ternyata berdiri jaringan industri global yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan.

(Bersambung)

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis