Dari Beras Kembali ke Beras, Imbas Impor, yang Ditolak Buwas

Dari Beras Kembali ke Beras, Imbas Impor, yang Ditolak Buwas

Stok beras di salah satu gudang Bulog.

Koran Sulindo – Dari beras kembali ke beras. Dulu, pegawai negeri sipil (PNS) serta anggota TNI dan Polri mendapat tunjangan beras. Kemudian, tunjangan itu dikonversi ke dalam bentuk uang.

Kini, rencananya, tunjangan tersebut akan dikembalikan lagi ke wujud asalnya alias beras. Demikian diungkapkan Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar. Alasannya: upaya mengatasi penyaluran beras sedikit terhambat, karena penyaluran sekarang ini satu-satunya melalui jalur komersial.

Soal itulah yang membuat gudang Bulog selalu dipenuhi stok beras, bahkan berlebih. Kalau dulu, Bulog punya program beras sejahtera (rastra), yang membuat stok beras dapat disalurkan secara berkala sehingga gudang tak penuh. Penyerapan beras dalam negeri pun menjadi terjamin.

“[Dulu] Ada pembagian beras. Tapi, setelah itu uang dan katanya tadi mau dikembalikan lagi [tunjangan bentuk beras]. Jadi, untuk hilir kalau enggak salah ada info nanti PNS, TNI, dan Polri sudah mulai beli beras Bulog, InsyaAllah,” kata Bachtiar di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (3/5).

Namun, ia belum mengetahui jumlah beras yang akan diserap untuk kebutuhan tunjangan itu. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan, beras akan diberikan sebesar 18 kilogram per pegawai per bulan. “Waktu saya masih tentara, itu beras dari Bulog. Nah, jatahnya 18 kilogram per orang per bulan. Jadi, nanti, TNI dan PNS dihitung,” ujarnya.

Sekarang ini, stok beras di gudang Bulog ada 2,1 juta ton. Kemungkinan jumlahnya akan terus meningkat, karena Bulog menyerap beras dari petani. Padahal, pada tahun 2018 lalu, Perum Bulog juga ditugaskan pemerintah untuk mengimpor beras hingga 1,8 juta ton. Dikhawatirkan ini akan mengganggu penyerapan beras dalam negeri.

Pada September 2018, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) sempat mengatakan, impor beras terlalu banyak, sehingga sebagian besar beras yang diimpor itu masih menumpuk di gudang Bulog. “Dulu kan saya waktu pertama kali menjabat, beras enggak akan impor, saya tahan yang dulu. Saya tolak impor kan. Nah, ramai kan. Terus orang enggak percaya, ‘Ini Pak Buwas ngarang-ngarang’, seolah-olah kan kami asbun, asal bunyi. Prediksi saya betul. Buktinya hari ini kan kecil persentasenya beras impor yang terpakai. Iya, kan?” kata Buwas di Kompleks Istana, Jakarta, seperti diberitakan banyak media, Jumat (3/5).

Sempat ada ketegangan antara Buwas sebagai Direktur Utama Bulog dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Awalnya, Buwas mengatakan, Bulog harus menyewa gudang milik institusi negara lain untuk menyimpan stok beras yang melimpah karena impor. Pernyataan itu lalu ditanggapi Enggartiasto, dengan mengungkapkan bahwa penuhnya gudang Perum Bulog karena beras impor bukanlah urusan Kementerian Perdagangan.

“Itu urusan korporasi. Itu urusan korporasi. Kalau itu mahal, ya apa urusan saya?” kata Enggartiasto waktu itu.

Padahal, untuk menyewa gudang itu, Bulog harus merogoh kocek Rp 45 miliar, agar beras yang diimpor bisa disimpan. Buwas pun tampak kesal dan sempat melontarkan makian dalam bahasa Jawa.

“Saya bingung, ini berpikir negara atau bukan. Coba kita berkoordinasi dan samakan pendapat jika keluhkan fakta gudang. Saya bahkan menyewa gudang itu kan cost-nya nambah. Kita kan sama-sama [urusan] negara,” kata Buwas saat konferensi pers di Kantor Bulog Pusat, Jakarta, 19 Sepetember 2018 silam.

Sekarang ini, diungkapkan Buwas, dari 1,8 juta ton beras impor hanya 150 ribu ton yang tersalurkan. Karena, masyarakat Indonesia umumnya kurang menyukai beras impor karena rasanya beda.

“Dari 1,8 juta ton hanya tidak sampai 150 ribu ton yang dipakai. Itu pun kami distribusikan ke tempat-tempat tertentu. Beras impor kan pera, itu hanya untuk Kalimantan dan Sumatera, Padang. Kami hanya bisa [menyalurkan] ke situ. Di luar itu tidak mau dan kami upayakan mix agar taste-nya bisa diterima masyarakat Indonesia umumnya,” tuturnya.

Selain itu, beras yang disalurkan Bulog juga relatif sedikit karena harga sedang rendah, sehingga tak ada operasi pasar. Karena itu, Buwas optimistis, impor beras tak perlu dilakukan lagi pada tahun 2019 ini.

“Sampai sekarang beras kami enggak keluar. Kami menyerap terus, jadi nambah-nambah. Karena sekarang kebutuhan beras di pasar melimpah, sekarang di Pasar Induk Cipinang kan melimpah, tidak mungkin disuplai lagi. Di semua wilayah sekarang lagi melimpah. Jadi, Bulog tidak perlu operasi pasar sementara ini. Karena, jumlahnya banyak,” katanya. [PUR]