Dulu keuntungan besar bisa terkonsentrasi di tangan oligarki swasta. Besok publik takut: jangan-jangan hanya pindah ke oligarki birokrasi.
Dulu yang bermain di ruang gelap perdagangan mungkin para cukong. Besok bisa saja ruang gelap itu diisi: komisaris titipan, broker kekuasaan, kelompok politik, atau jaringan rente baru berbaju nasionalisme.
Dan ini bukan paranoia kosong. Karena semakin besar kontrol negara terhadap arus uang, semakin besar pula godaan untuk menguasainya.
Itulah sebabnya negara-negara seperti Saudi Arabia atau Singapura berhasil bukan semata karena mereka punya perusahaan negara. Tetapi karena mereka membangun disiplin institusi yang brutal.
Di sana, orang profesional diberi ruang. Pengawasan ketat. Data rapi. Hukuman jelas. Mereka memperlakukan BUMN strategis seperti mesin perang ekonomi, bukan pos pembagian jatah.
Indonesia sekarang sedang berdiri di persimpangan sejarah ekonomi yang menarik. Kalau skema ekspor lewat satu pintu ini berhasil, Indonesia bisa berubah dari sekadar penjual bahan mentah menjadi negara dengan kekuatan trading global sendiri.
Devisa kemungkinan akan lebih kuat. Posisi tawar naik. Bahkan mungkin suatu hari Jakarta punya trading house raksasa yang disegani seperti COFCO atau Aramco.
Tetapi kalau gagal, kita hanya akan menciptakan monster baru: monopoli negara yang lamban, birokratis, penuh rente, tetapi dibungkus pidato patriotik yang suaranya menggelegar seperti trailer film perang.
Dan pasar tahu satu hal yang kadang lupa dipahami politisi: uang sangat sensitif terhadap ketidakpastian.
Karena itu bursa hari ini bukan sekadar sedang menilai kebijakan ekonomi. Bursa sedang mencoba menebak: apakah negara ini benar-benar sedang membangun kedaulatan ekonomi, atau hanya sedang memindahkan ruang transaksi dari ruang VIP hotel menjadi ruang rapat kementerian.
Mungkin itulah sebabnya layar saham merah hari-hari ini bukan hanya tentang angka. Ia cermin kegelisahan: antara nasionalisme, kepentingan modal, dan pertanyaan abadi republik ini — siapa sebenarnya yang paling berhak menikmati kekayaan alam Indonesia?
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



