Ilustrasi: Presiden Sukarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, para Menteri dan masyarakat Jakarta, shalat Idul Fitri di Lapangan Banteng, Sabtu 13 Juni 1953/IPPHOS

Koran Sulindo – Tanggal 30 September 1960 adalah pertama kali di hadapan sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), ayat-ayat suci Alquran dibacakan. Orang yang membacakan adalah Presiden Pertama Republik Indonesia, negara yang baru merdeka 15 tahun sebelumnya.

Soekarno tampil gagah dengan baju kebesaran berwarna putih dan celana putih, kopiah, dan kacamata baca. Bung Karno tak mempedulikan protokoler sidang umum PBB: Ia berpidato di podium dengan ajudannya, Letkol (CPM) M Sabur, berdiri tegak di samping kanannya. Biasanya semua kepala negara berpidato sendirian di mimbar.

“Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: ‘Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu’,” bunyi paragraf ke-4 pidato itu. Kutipan itu berasal dari surat ke 49 Quran, Al-Hujarat ayat 13, konsep kebangsaan menurut Islam.

Dalam pidato yang kelak diberi judul ‘To Build the World A New’, Bung Karno memang berbicara di hadapan seluruh pemimpin negara seluruh dunia, tapi terasa ia bersuara seperti perwakilan dari ‘bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama.”

Pidato itu menggoncang pemimpin negara-negara Islam karena belum ada sebelumnya yang terpikir menyitir kitab suci dalam perhelatan politik dunia itu.

Inspirasi Soekarno di sidang umum PBB itu membuat para pemimpin negara-negara baru di Asia Afrika melakukan pertemuan di Kairo, Mesir pada 1961, yang melahirkan Gerakan Non Blok. Dalam pertemuan itu Soekarno dinobatkan sebagai Pahlawan Islam Asia-Afrika.

Sejak Mula adalah Santri

Sumber-sumber tertulis mayoritas menyatakan Soekarno baru secara khusus mendalami Islam ketika belajar di Bandung dan berguru langsung di bawah bimbingan A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis). Ia tetap belajar Islam melalui surat-suratan dengan Hassan saat ia ditahan di Pulau Endeh pada 1933. Di sana, ia minta dikirimi banyak buku-buku Islam.

Surat-surat Endeh ini berisi banyak hal tentang pergulatan jiwa Soekarno dalam mendalami Islam, berdiskusi tentang Islam dan penerapannya di zaman itu. Surat menyurat ini berlangsung antara Desember 1934 hingga Oktober 1936. [Dibawah Bendera Revolusi Jilid I. Surat-surat Islam dari Endeh; 1965)

Dalam tulisan Ren Muhammad di alif.id, ‘Sanad Kesantrian Bung Karno’, dinyatakan ketika Bung Karno tahu Belanda hengkang ke Australia karena tentara Jepang telah mendarat di sepanjang pantai Sumatera dan utara Jawa, ia segera bersiap ke Jawa. Tapi tak ada kapal laut dari Bengkulu, maka Bung Karno sekeluarga menaiki mobil jip menuju Teluk Bayur, Padang.

Jip itu menyusuri Bukit Barisan, dan di Puncakbakuang, Padang Japang, Bung Karno sowan ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA), yang diampu Syeikh Abbas dan Syekh Mustafa Abdullah. Dua syeikh bersaudara ini—yang pengaruh sosialnya cukup besar di ranah Minang, adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Makkah, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Kedatangan Sukarno untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Syekh Abbas menyarankan bahwa negara yang hendak didirikan harus berdasar ketuhanan. Dua ulama besar tersebut, menambah daftar nama yang padanya Bung Karno pernah nyantrik, mengaku diri sebagai cantrik, santri.

Selain sebelumnya berguru pada Raden Mas Panji Sosrokartono saat mukim di Bandung; KH Abdul Mu’thi dari Madiun; Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama), dan KH. Ahmad Basyari.

Nama yang terakhir itu adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Basyariyah, di Cikuruh Sukanegara, di Jawa Barat pada 1911. Pada masa awal bertandang ke Cikiruh, Bung Karno selalu datang pada malam hari, sekitar pukul sepuluh, melalui kebun pesantren, untuk menghindari intaian Belanda. Menjelang kemerdekaan, Bung Karno memenuhi perintah Kiyai Ahmad untuk bertirakat di pesantren ini selama tiga bulan penuh.

“Banyak saksi dari pelbagai daerah sekitar yang mengatakan Sukarno muda memang sering menemui KH. Ahmad Basyari untuk memperdalam ilmu agama Islam,” kata Rahmat Khadar.

Menurut Rahmat, saat Bung Karno sekeluarga datang, KH Ahmad selalu menyuguhi bubur merah-putih (dwiwarna) untuk disantap. Bung Karno diamanahkan agar merayakan peringatan Isra’-Mi’raj setiap tahun di Istana Negara—yang tetap menjadi tradisi sampai kini.

Namun jauh sebelum menjadi santri di Bandung dan Cianjur ini, garis sejarah kesantrian  Bung Karno tetaplah bermula dari Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto—guru Sukarno muda semasa nyantrik di Peneleh, Surabaya.

Pada suatu hari Cokroaminoto mengajak Soekarno muda sowan Syaikhona Cholil Bangkalan Madura. Saat itu Bung Karno ditiup ubun-ubunnya oleh Mbah Cholil.

Cerita itu juga dibenarkan oleh KH As’ad Syamsul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo—kala ia masih nyantri di bawah asuhan Kiyai Cholil.

Semasa perang perjuangan kemerdekaan, Kiyai As’ad, Kiyai Wahab Chasbullah, dan terutama KH Hasyim Asy’ari sering disowani Bung Karno.

Hatinya Tertambat Masjid

Bung Karno tak hanya menjadikan peringatan Isra’-Mi’raj setiap tahun di Istana Negara tapi juga menambah perayaan maulid nabi. Namun dalam sejarah hidupnya, ia tampak juga terpikat pada masjid, terutama arsitektur dan pembangunan tempt ibadah itu di tanah air. Tercatat sebanyak 13 masjid lahir dari disainnya atau paling tidak lekat dengan namanya.

Yang utama pasti Masjid Istiqlal dan Masjid Baiturrahim Istana Merdeka di Jakarta, Masjid Salman ITB di Bandung, Masjid Syuhada di Yogyakarta, dan Masjid Jamik Bengkulu. Selain itu, ada Masjid Raya Bandung, Masjid Persis Bandung, Masjid Raya Ganting, Masjid Raya Sengkang, Langgar Merdeka Laweyan Solo, Masjid Taqwa Parapat, Masjid Raudhatus Sa’adah Musi Rawas, dan Masjid Ar-Rabithah Ende.

Dalam buku ‘Ensiklopedia Keislaman Bung Karno’ karya Rahmat Sahid (Juni 2018), pada Bab 6 kisah Bung Karno dan masjid ini diceritakan panjang.

Bung Karno yang memberi nama dan merancang Masjid Istiqlal di Jakarta. Ia menginginkan Istiqlal menjadi masjid terbesar di Asia. Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti merdeka, untuk menghormati pejuang muslim yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Sementara nama Salman untuk masjid di Bandung diambil dari nama sahabat, Salman Al-Farisi. Nama syuhada untuk masjid di Yogya diambil dari salah satu firman Allah SWT, “Siapa yang nanti syahid akan tetap hidup.”

“Beliau dalam kepemimpinannya membawa tradisi kehidupan Islam yang terintegrasi dengan alam pikir kebangsaan,” kata Megawati Soekarnoputri dalam pengantar buku itu.

Buku ini juga mencantumkan pidato-pidato Bung Karno dalam berbagai perayaan hari besar Islam, sejak ia menghadiri kuliah umum di UI pada 1953, sampai saat peringatan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW, di Istana Negara, pada 1966.

Sebagai pemeluk agama Islam, Bung Karno mengaku dari kecil memang tidak mendapatkan pemahaman yang cukup tentang Islam. Karena itu ia melakukan pencarian sendiri melalui buku dan bertanya kepada sejumlah orang yang dianggapnya sebagai guru spiritualnya.

Ia bertanya pada Haji Agus Salim saat Bung Karno mengunjunginya di Bandung. Mereka berdua pernah dibuang bersama-sama di Muntok, Bangka Belitung. Agus Salim menggantikan Tjokroaminoto sebagai Ketua Sarekat Islam, sebuah organisasi politik pertama di Indonesia.

Bung Karno selalu dekat dengan tokoh-tokoh Islam memang sangat erat. Ia mengakui ketika pengertiannya tentang keislaman masih remang-remang, pemimpin Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan memberikan pengertian mengenai gerakan Islam yang dipimpinnya. Bung Karno juga sering berkonsultasi dengan para habib yang menjadi keturunan langsung Nabi Muhammad SAW, seperti Habib Ali di Kwitang dan Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad.

Sedari muda di Peneleh Surabaya hingga di ujung ajalnya Bung Karno selalu menjadi santri, mencari ilmu kepada yang lebih tahu tentang Islam.[RED]

BAGIKAN