Dua kalimat itu mungkin tampak saling melengkapi. Namun penekanannya berbeda. Iran ingin publik melihat dirinya sebagai pengelola gerbang energi dunia. Amerika ingin publik melihat bahwa kebebasan pelayaran berhasil dipulihkan.

Perbedaan yang lebih penting muncul pada isu nuklir. Dalam versi yang beredar sebelumnya dari pihak Iran, perhatian publik tertuju pada pernyataan bahwa Iran tidak akan membuat senjata nuklir. Kalimat itu terdengar akrab karena selama bertahun-tahun memang itulah posisi resmi Teheran.

Namun naskah yang dirilis Washington memasukkan unsur yang jauh lebih spesifik, yakni mekanisme penanganan uranium yang telah diperkaya serta pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.

Kalimat tentang pengenceran uranium itu mungkin terdengar teknis dan membosankan bagi pembaca awam. Toh itu sudah bertahun-tahun dibahas kedua negara. Namun justru di sanalah jantung politik dokumen ini berdenyut.

Anda sudah tahu, perang pada abad ke-20 sering dipahami sebagai perebutan wilayah, pelabuhan, atau ladang minyak. Tapi, perang pada abad ke-21 tampaknya lebih sering memperlihatkan perebutan prosedur.

Yang diperebutkan bukan lagi bukit dan lembah, melainkan hak melakukan inspeksi, kewenangan melakukan verifikasi, kemampuan mengatur mekanisme pengawasan, serta kendali atas jadwal pelaksanaan kesepakatan.

Dalam dunia diplomasi modern, hal-hal yang tampak administratif itu sering jauh lebih menentukan daripada pidato kemenangan yang menggelegar di televisi.

Dari sudut inilah dapat dipahami mengapa Washington tampak berusaha memindahkan medan pertarungan dari lapangan perang ke ruang prosedur yang penuh syarat, tenggat waktu, dan mekanisme verifikasi.

Hal yang sama terlihat pada hampir seluruh pasal mengenai sanksi dan aset Iran. Sekilas, Iran memperoleh banyak hal: pembukaan akses keuangan, pelonggaran ekspor minyak, pelepasan aset yang dibekukan, hingga rencana rekonstruksi bernilai ratusan miliar dolar.

Walakin, hampir setiap janji itu digandengkan dengan frasa yang sama: berdasarkan kesepakatan akhir, melalui mekanisme yang disetujui bersama, atau sesuai jadwal yang akan dirundingkan. Dengan kata lain, Iran memperoleh prospek keuntungan, sedangkan Amerika berusaha mempertahankan tuas kendali.

Karena itu saya tidak sepenuhnya sependapat dengan mereka yang buru-buru menyimpulkan bahwa Iran menang telak atau Amerika kalah telak. Kesimpulan semacam itu terlalu sederhana untuk sebuah dokumen yang dirancang oleh diplomat, pengacara, dan birokrat yang hidup dari kerumitan kalimat.

Iran memang berhasil mempertahankan rezimnya. Iran juga berhasil menghindari sebagian tuntutan maksimal yang dahulu diajukan Washington. Iran bahkan punya momentum meluluh-lantakkan kota-kota Israel. Namun Amerika tetap berhasil membawa isu nuklir ke dalam kerangka pengawasan internasional yang rinci dan berlapis.

Di sinilah letak ironi terbesar perang ini. Selama berbulan-bulan dunia disuguhi gambar rudal, kapal induk, pesawat siluman, dan ledakan yang memenuhi layar televisi.

Akan tetapi, ketika asap mulai menipis, nasib perundingan ternyata lebih banyak ditentukan oleh para penyusun dokumen daripada para penembak rudal. Yang satu menggerakkan tank. Yang lain menggerakkan tanda koma. Pada akhirnya, justru tanda koma itu yang mungkin bertahan lebih lama daripada suara ledakan.

Maka autopsi atas MoU ini membawa kita pada kesimpulan yang agak lucu. Iran dan Amerika tampaknya sedang menjual kemenangan yang sama kepada dua pasar politik yang berbeda.

Teheran menjual kisah tentang bertahannya sebuah rezim yang diperkirakan runtuh. Washington menjual kisah tentang keberhasilan menempatkan Iran ke dalam pagar prosedur internasional.

Keduanya memiliki bahan yang cukup untuk mengklaim kemenangan. Keduanya juga memiliki cukup alasan untuk menyembunyikan kompromi.

Dan sejarah, seperti pedagang karpet tua di pasar Timur Tengah itu, tampaknya hanya tersenyum melihat keduanya. Karpetnya tetap satu. Yang berubah hanyalah cerita yang menyertainya.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis