Hujan es kerap menimbulkan keheranan karena terjadi di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia. Fenomena ini bahkan dapat muncul bersamaan dengan hujan deras, angin kencang, hingga petir. Meski umumnya berlangsung singkat, hujan es berpotensi menimbulkan kerusakan apabila disertai cuaca ekstrem.
Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Senin (2/11/2026) sore. Hujan es yang disertai angin kencang menerjang sejumlah wilayah di Kecamatan Luragung dan Cidahu. Dampaknya, puluhan rumah warga dan sejumlah fasilitas mengalami kerusakan.
Lantas, mengapa hujan es dapat terjadi di Indonesia yang memiliki suhu udara relatif hangat?
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrem berupa jatuhnya butiran es dari atmosfer. Fenomena ini dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb), yakni awan hujan tebal yang menjulang tinggi dan dapat menghasilkan hujan lebat, angin kencang, serta petir.
Bagaimana Proses Terbentuknya Hujan Es?
Salah satu faktor utama terbentuknya hujan es adalah pertumbuhan awan Cumulonimbus yang dapat menjulang hingga ketinggian sekitar 15–18 kilometer. Bagian puncak awan ini dapat mencapai lapisan atmosfer dengan suhu di bawah titik beku.
Di dalam awan tersebut terdapat arus udara naik atau updraft yang kuat. Arus ini membawa tetesan air menuju lapisan atmosfer yang memiliki suhu sangat dingin.
Pada kondisi tertentu, terdapat tetesan air yang suhunya sudah berada di bawah 0 derajat Celsius, tetapi belum membeku. Kondisi tersebut dikenal sebagai supercooled water atau air superdingin.
Ketika tetesan air tersebut menempel pada inti es atau partikel debu, air akan membeku. Proses ini menjadi awal terbentuknya butiran es di dalam awan.
Butiran es yang terbentuk kemudian dapat mengalami siklus naik dan turun akibat kuatnya arus udara di dalam awan. Dalam proses tersebut, butiran es menangkap lapisan air baru yang kemudian membeku sehingga ukurannya semakin membesar.
Ketika berat butiran es sudah tidak mampu lagi ditahan oleh arus udara ke atas, butiran tersebut akhirnya jatuh ke permukaan bumi. Karena proses jatuhnya berlangsung relatif cepat, es tidak sempat mencair sepenuhnya sebelum mencapai tanah.
Mengapa Sering Terjadi Saat Pancaroba?
Hujan es juga kerap dikaitkan dengan masa peralihan musim atau pancaroba, baik dari musim kemarau menuju musim hujan maupun sebaliknya.
Pada periode tersebut, pemanasan matahari yang kuat sejak pagi hingga siang hari dapat memicu ketidakstabilan atmosfer. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan konvektif, termasuk Cumulonimbus yang menjadi pemicu hujan es.
Meski demikian, hujan es tidak hanya ditentukan oleh pergantian musim. Proses pembentukan awan, kondisi atmosfer, serta kekuatan arus udara di dalam awan turut memengaruhi terjadinya fenomena tersebut.
Ciri-Ciri dan Durasi Hujan Es
Hujan es umumnya memiliki karakteristik yang berbeda dari hujan biasa. Fenomena ini cenderung berlangsung singkat, sekitar 5 hingga 15 menit, dengan wilayah terdampak yang relatif terbatas.
Selain itu, hujan es sering disertai hujan deras, angin kencang, serta kilat atau petir. Karena cakupan wilayahnya bersifat lokal, kondisi cuaca di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lain yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Sebelum hujan es terjadi, terdapat sejumlah perubahan kondisi cuaca yang patut diwaspadai masyarakat.
Beberapa tanda yang dapat muncul di antaranya langit mendadak gelap atau pekat, suhu udara terasa lebih dingin secara tiba-tiba, serta angin yang bertiup semakin kencang atau berubah arah.
Hujan deras yang turun secara mendadak juga dapat menjadi salah satu tanda berkembangnya cuaca buruk.
Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Cuaca Ekstrem
Mengingat hujan es dapat terjadi bersamaan dengan angin kencang dan petir, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melihat perubahan cuaca secara tiba-tiba.
Saat hujan es terjadi, masyarakat sebaiknya segera mencari tempat berlindung di dalam bangunan yang kokoh. Hindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan yang berpotensi roboh akibat terpaan angin.
Selain itu, jauhi jendela dan bagian bangunan yang memiliki atap atau struktur rapuh. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dihentikan sementara hingga kondisi cuaca kembali aman.
Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG serta mengikuti arahan petugas apabila terjadi kondisi darurat.
Fenomena hujan es merupakan bagian dari dinamika atmosfer yang dapat terjadi di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Memahami proses terbentuknya, mengenali perubahan cuaca, dan mengetahui langkah keselamatan menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko ketika cuaca ekstrem datang secara tiba-tiba. [UN]




