Kuningan, Suluh Indonesia – Tradisi Kawin Cai menjadi salah satu warisan budaya masyarakat Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang masih dilestarikan secara turun-temurun.
Upacara adat yang dilakukan masyarakat Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, ini tidak sekadar menjadi ritual kebudayaan, tetapi juga mengandung makna ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas anugerah sumber air sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Tradisi tersebut berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan kebutuhan air dari sumber mata air Tirtayatra di Situ Balong Dalem.
Pelaksanaannya menjadi bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar masyarakat untuk memohon kecukupan air, terutama bagi kebutuhan pertanian dan sumber kehidupan lainnya.
Sesepuh setempat yang juga menjabat sebagai kuncen, Eyang Suhada, menjelaskan bahwa tradisi Kawin Cai berakar dari kisah leluhur yang berkaitan dengan keberadaan sumber mata air di wilayah Cibulan dan Babakanmulya.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, dahulu wilayah Cibulan belum memiliki sumber air. Eyang Prabu Siliwangi yang pertama atau Sang Hyang Purba Wisesa kemudian melakukan lelaku spiritual dengan bertapa selama 40 hari 40 malam melalui ritual mati geni, yakni tidak makan dan minum selama menjalani pertapaan.
Dari pertapaan tersebut, air kemudian keluar pada Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Lokasi itu selanjutnya dikenal memiliki tujuh sumur keramat yang menjadi sumber mata air Cibulan.
“Jadi awalnya itu waktu di Cibulan belum ada air. Kemudian 40 hari 40 malam mati geni, nggak makan, nggak minum, puasa lah, duduk aja. Nah di situlah pertama keluar tuh hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Ini kan Kamis Wage seperti sekarang,” tutur Suhada.
Meski wilayah Cibulan telah memiliki sumber air, daerah sekitarnya, termasuk Babakanmulya yang dahulu diceritakan masih berbentuk keraton, belum memiliki sumber air yang mencukupi.
Dalam kisah leluhur tersebut, terdapat Keraton Babakanmulya yang memiliki putri bernama Keraton Manis Laksana. Karena wilayah Babakanmulya belum memiliki air, masyarakat kemudian menjemput air dari Cibulan untuk dibawa ke Babakanmulya.
Air yang berasal dari tujuh sumur keramat itu dimasukkan ke dalam wadah, didoakan, kemudian dibawa untuk disatukan dengan sumber air setempat.
Menurut Suhada, proses penyatuan air tersebut menjadi asal-usul tradisi Kawin Cai hingga akhirnya dikenal sebagai bagian dari sejarah terbentuknya sumber mata air Balong Dalem.
“Pertama dulu di sini ada namanya Keraton Babakan Mulya, yang sekarang jadi desa ini, Babakan Mulya. Punya putri Keraton Manis Laksana. Di sini Keraton Babakan Mulya. Belum ada air di sini. Singkat cerita menikah. Di sini kan belum ada air, jadi di sini tuh menjemput calon suami ke sana Cibulan. Di sana tuh diisi 7 sumur ke buyung itu, ke wadah air itu. Nah udah gitu, berdoa di sana, terus dibawa ke sini, itu. Jadi itu riwayat singkat masalah kawin cai,” tutur Suhada.
Cerita tersebut kemudian diwujudkan dalam rangkaian prosesi adat yang mempertemukan air dari dua sumber mata air, yakni Tirtayatra di Situ Balong Dalem dan Cikembulan di Balong Cibulan, Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana.
Prosesi diawali dengan pengambilan air dari hulu cai atau mata air Tirtayatra Situ Balong Dalem oleh sesepuh desa atas restu kuncen. Air tersebut dimasukkan ke dalam kendi untuk kemudian dibawa menuju sumber mata air keramat Cikembulan.
Sebelum air disatukan, masyarakat terlebih dahulu menggelar iring-iringan atau Mapag Cai. Kendi berisi air Tirtayatra dibawa dengan berjalan kaki menuju Balong Cibulan yang berjarak sekitar lima kilometer.

Setibanya di lokasi, air Tirtayatra ditumpahkan ke salah satu dari tujuh sumur keramat, yakni Sumur Kajayaan. Selanjutnya, dua orang ponggawa desa bersama sesepuh mengambil air dari sumber mata air Cikembulan untuk dimasukkan ke dalam kendi yang sama.
Sebelum proses penyatuan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa dan kumandang azan oleh sesepuh atau tokoh agama setempat. Setelah itu, air dari kedua sumber mata air disatukan dalam kendi. Prosesi berlangsung khidmat dengan disaksikan para pengunjung dan masyarakat yang hadir.
Air yang telah disatukan kemudian diarak kembali menuju Situ Balong Dalem. Setibanya di lokasi, air diserahkan kepada sesepuh desa di depan Batu Kawin, sebuah batu besar yang berada di sekitar hulu sungai dan menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.
Prosesi Kawin Cai dilanjutkan dengan pengaliran air ke sumber mata air Tirtayatra. Tidak seluruh air dari Cibulan dialirkan ke Balong Dalem. Sebagian digunakan untuk menyiram sejumlah tokoh masyarakat yang bertugas mengatur pengairan menuju enam desa yang memanfaatkan sumber mata air tersebut.
Keenam desa itu meliputi Babakanmulya, Jalaksana, Sadamantra, Padamenak, Nanggerang, dan Ciniru. Sumber mata air Tirtayatra selama ini menjadi bagian penting bagi kebutuhan pengairan masyarakat di wilayah tersebut.
Bagi masyarakat Babakanmulya, Kawin Cai memiliki makna lebih dari sekadar ritual adat. Tradisi ini merupakan perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas anugerah air yang menjadi penopang kehidupan seluruh makhluk.
Suhada mengatakan, air memiliki peran penting bagi keberlangsungan kehidupan, mulai dari manusia hingga tumbuhan. Karena itu, tradisi Kawin Cai juga menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa menjaga alam, khususnya sumber-sumber mata air.
“Artinya sedekah bumi itu bersyukur kepada Allah, kepada Tuhan, bahwa kita sudah diberi apa, air. Karena air ini kan sumber kehidupan. Semua tuh seperti pohon, semua makhluk Allah itu membutuhkan air,” tutur Suhada.
Tradisi Kawin Cai biasanya dilaksanakan setiap tahun pada Oktober, bertepatan dengan Jumat Kliwon. Selain sebagai upaya mempertahankan warisan budaya leluhur, ritual ini juga menjadi ikhtiar masyarakat untuk memohon limpahan air, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Melalui tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut, masyarakat Babakanmulya tidak hanya menjaga keberlangsungan adat, tetapi juga merawat kesadaran bersama bahwa sumber air merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga kelestariannya. [UN]




