Kuningan, Suluh Indonesia – Kawasan objek wisata Cibulan di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tidak hanya dikenal dengan sumber mata airnya yang jernih.
Di kawasan tersebut terdapat tujuh sumur yang dipercaya masyarakat sebagai peninggalan Prabu Siliwangi dan hingga kini masih dianggap sakral oleh sebagian pengunjung.
Ketujuh sumur itu mengelilingi area petilasan Prabu Siliwangi. Masing-masing memiliki nama yang dipercaya menyimpan makna dan keberkahan tersendiri, yakni Sumur Kejayaan, Sumur Keselamatan, Sumur Pengabulan, Sumur Kemuliaan, Sumur Cisadane atau Cita-cita, Sumur Cirencana, dan Sumur Kemudahan.
Keberadaan sumur-sumur tersebut tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat yang berkembang secara turun-temurun. Sebagian pengunjung datang dengan harapan memperoleh keberkahan sesuai makna nama sumur yang mereka datangi.
Namun, Kuncen Sumur Tujuh Cibulan, Nurwenda, menjelaskan bahwa terkabul atau tidaknya harapan seseorang tetap bergantung pada niat dan kehendak Allah SWT. Air sumur, menurutnya, hanya menjadi perantara ikhtiar.
“Kalau terkabul enggaknya mah itu tergantung niat dan juga kehendak Allah SWT, ini mah ikhtiar saja lewat air,” ungkap Nurwenda saat ditemui Suluh Indonesia di lokasi, Kamis (29/10/2026).
Daya tarik tujuh sumur tersebut juga mengundang pengunjung dari berbagai daerah. Tidak hanya masyarakat Kuningan, pengunjung datang dari Cirebon, Banten, hingga Madura.
Selain nilai sejarah dan kepercayaan masyarakat, sumber mata air Cibulan memiliki karakteristik yang menarik. Airnya dikenal jernih dan dingin, serta disebut tidak mengalami penyusutan meskipun musim kemarau maupun meluap ketika musim hujan.
Air dari sumur tersebut juga dapat diminum langsung. Nurwenda mengaku kerap meminum air dari sumber mata air itu.
Di kawasan yang sama, terdapat petilasan yang dikaitkan dengan Prabu Siliwangi. Menurut Nurwenda, istilah petilasan dalam bahasa Sunda memiliki makna pasinggahan atau tempat singgah.

Penyebutan petilasan Prabu Siliwangi merujuk pada cerita yang berkembang bahwa raja Kerajaan Pajajaran tersebut pernah singgah di kawasan itu.
Masyarakat setempat juga mengenal Prabu Siliwangi dengan sebutan Buyut Manis. Sebutan tersebut berkaitan dengan penamaan wilayah Manis Kidul dan Manis Kaler.
Lebih dari sekadar situs yang menyimpan cerita masa lalu, sumber mata air Cibulan juga memiliki peran dalam pelaksanaan tradisi Kawin Cai yang digelar masyarakat Desa Babakanmulya.
Dalam tradisi tersebut, air dari Cibulan menjadi salah satu sumber mata air yang disatukan dengan air Tirtayatra dari Situ Balong Dalem.
Prosesi diawali dengan pengambilan air dari hulu cai atau mata air Tirtayatra Situ Balong Dalem di Desa Babakanmulya oleh sesepuh desa atas restu kuncen.
Air tersebut dimasukkan ke dalam kendi untuk kemudian dibawa menuju sumber mata air keramat Cikembulan atau Cibulan.
Sebelum kedua air disatukan, masyarakat terlebih dahulu menggelar iring-iringan atau Mapag Cai. Kendi berisi air Tirtayatra dibawa berjalan kaki menuju Balong Cibulan yang berjarak sekitar lima kilometer.
Setibanya di lokasi, air Tirtayatra ditumpahkan ke salah satu dari tujuh sumur keramat, yakni Sumur Kajayaan. Selanjutnya, dua orang ponggawa desa bersama sesepuh mengambil air dari sumber mata air Cikembulan untuk dimasukkan ke dalam kendi yang sama.
Sebelum penyatuan air dilakukan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa dan kumandang azan oleh sesepuh atau tokoh agama setempat. Setelah itu, air dari kedua sumber mata air disatukan dalam kendi. Prosesi berlangsung khidmat dengan disaksikan pengunjung dan masyarakat yang hadir.
Air yang telah disatukan kemudian diarak kembali menuju Situ Balong Dalem. Setibanya di lokasi, air diserahkan kepada sesepuh desa di depan Batu Kawin, sebuah batu besar di sekitar hulu sungai yang menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.
Rangkaian Kawin Cai dilanjutkan dengan pengaliran air ke sumber mata air Tirtayatra. Tidak seluruh air dari Cibulan dialirkan ke Balong Dalem. Sebagian lainnya digunakan untuk menyiram sejumlah tokoh masyarakat yang bertugas mengatur pengairan menuju enam desa yang memanfaatkan sumber mata air tersebut.
Keberadaan tujuh sumur Cibulan memperlihatkan bagaimana cerita sejarah, kepercayaan masyarakat, dan sumber mata air saling berkaitan dalam kehidupan budaya setempat.
Hingga kini, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga masyarakat Kuningan.
Bagi kamu yang berkunjung ke Kuningan dan ingin mengenal wisata alam sekaligus menelusuri jejak sejarah dan tradisi lokal, Sumur Tujuh Cibulan bisa menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Untuk harga tiket masuk, pengunjung dikenakan tarif Rp18.000 untuk anak-anak dan Rp20.000 untuk dewasa pada hari biasa (weekday). Sementara pada akhir pekan (weekend), tarifnya sebesar Rp20.000 untuk anak-anak dan Rp22.000 untuk dewasa. Adapun saat hari raya, harga tiket masuk menjadi Rp22.000 untuk anak-anak dan Rp25.000 untuk dewasa.
Selain tiket masuk, tersedia biaya parkir sebesar Rp3.000 untuk sepeda motor, Rp5.000 untuk mobil, serta Rp25.000 untuk bus atau Elf. [UN]
Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan aktifkan notifikasinya agar tidak ketinggalan informasi terbaru.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I


