Jakarta — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menggarisbawahi krusialnya menggerakkan kembali pemikiran Bung Karno serta mendudukkan Marhaenisme sebagai doktrin pembebasan bagi masyarakat tertindas. Penegasan tersebut ia sampaikan sewaktu membawakan pidato kunci pada Kongres X Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (28/10).
Hasto menyerukan kepada seluruh kader Marhaenis agar menggali ulang fondasi pemikiran Bung Karno, termasuk rekam jejak perjuangannya tatkala diasingkan di Ende. Ia menjelaskan bahwa muara dari garis perjuangan Proklamator tersebut adalah memerdekakan rakyat dari cengkeraman penindasan dan tatanan sosial yang mengeksploitasi mereka.
Nilai pembebasan itu juga tecermin pada kiprah diplomasi global Bung Karno, seperti melalui pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika hingga penyusunan Dasasila Bandung. Menurut Hasto, warisan intelektual tersebut patut dipahami melebihi komoditas sejarah, yakni sebagai pilar pijakan untuk merespons pelbagai problema bangsa hari ini.
Lebih lanjut, Hasto menilai Pancasila tidak boleh dipersempit sekadar kaidah formal atau deretan butir semata. Pancasila merupakan fondasi ideologi yang mengusung cita-cita luhur pembebasan martabat manusia, nilai kemanusiaan, serta kedaulatan bangsa. Jika esensi pembebasan itu dikesampingkan, arah dan tujuan kemerdekaan Indonesia berisiko kehilangan kompasnya.
“Berbicara Marhaenisme berarti berbicara narasi pembebasan rakyat tertindas,” demikian pesan Hasto dalam pidatonya.
Hasto pun prihatin atas kian menyusutnya porsi pemikiran para pendiri bangsa di ruang akademis maupun pada proses perumusan kebijakan publik. Berangkat dari kondisi itu, upaya merajut kembali ajaran Bung Karno menjadi hal yang mendesak agar Marhaenisme kembali mewarnai diskursus politik serta menawarkan solusi atas persoalan ketimpangan sosial.
Guna mengawal hal tersebut, Hasto menekankan peran strategis partai politik beserta organisasi kemasyarakatan dalam merawat keberlanjutan warisan pemikiran Bung Karno. Ia berpesan agar para kader GPM tidak berkecil hati. Berbekal sejarah panjang, kepemimpinan, dan landasan ideologi yang kokoh, GPM mesti memetakan visi masa depan yang jernih agar kian bertumbuh dan tetap relevan bagi anak muda.
Tak lupa, Hasto mengutip instruksi Presiden ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, terkait pentingnya mendalami kembali pemikiran Proklamator. Roh pembebasan harus terus menjadi bahan bakar dalam menegakkan keadilan sosial, kesetaraan, dan kedaulatan negara.
Mengakhiri orasinya, Hasto mengimbau kaum muda untuk membulatkan tekad dan mengambil peran perjuangan lewat wadah GPM.
“Kalau ingin Indonesia bebas dari berbagai penjajahan, kalau ingin hak atas tanah tidak dikooptasi oleh elite, kalau ingin rakyat diperlakukan setara, dan anak-anak muda punya semangat juang yang tidak pernah menyerah, bergabunglah dengan GPM!” Tegasnya. [IQT]





