Literasi tidak lagi dapat dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Di tengah derasnya arus informasi pada era digital, literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, hingga mengambil keputusan secara bijak.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Kusmana Hartadji, M.M., saat menghadiri pembukaan Litera Fest 2026 di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Kuningan, Kamis, 8 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Kusmana menegaskan bahwa literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas membaca dan menulis.

Menurutnya, kemampuan tersebut semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan pesatnya penyebaran informasi melalui berbagai platform digital.
Masyarakat saat ini dapat menerima beragam informasi dalam waktu yang sangat cepat. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan karena tidak seluruh informasi yang beredar dapat dipastikan kebenarannya.
Karena itu, Kusmana mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, agar memiliki kemampuan untuk memilah dan memahami informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Kemampuan literasi, kata dia, menjadi salah satu bekal penting agar masyarakat dapat memahami informasi secara utuh sekaligus menghindari penyebaran informasi bohong atau hoaks.
6 Jenis Literasi yang Perlu Dikuasai
Secara umum, literasi memang kerap dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi antara lain dimaknai sebagai kemampuan menulis dan membaca.
Namun, literasi juga dapat dipahami sebagai pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Literasi mencakup kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk mendukung kecakapan hidup.
Secara etimologis, istilah literasi berasal dari bahasa Latin literatus yang berarti orang yang belajar. Sementara itu, UNESCO mendefinisikan literasi sebagai seperangkat keterampilan nyata, terutama kemampuan membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks bagaimana keterampilan tersebut diperoleh maupun siapa yang memperolehnya.
Seiring perkembangan zaman, konsep literasi kemudian berkembang ke berbagai bidang kehidupan.
Berdasarkan Buku Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, terdapat enam jenis literasi yang penting untuk dikembangkan masyarakat.
1. Literasi baca dan tulis
Literasi baca dan tulis merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, serta memahami informasi.
Kemampuan ini dibutuhkan untuk menganalisis dan menggunakan teks tertulis, mengembangkan pemahaman serta potensi diri, hingga berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
2. Literasi numerasi
Literasi numerasi berkaitan dengan kemampuan memahami dan menggunakan angka serta simbol matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya menghitung, literasi numerasi juga mencakup kemampuan membaca dan menganalisis informasi yang disajikan melalui grafik, tabel, bagan, maupun bentuk lainnya untuk membantu seseorang mengambil keputusan.
3. Literasi sains
Literasi sains merupakan pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta menarik kesimpulan berdasarkan fakta.
Literasi ini juga berkaitan dengan kemampuan memahami karakteristik sains dan menyadari bagaimana perkembangan sains serta teknologi memengaruhi lingkungan alam, intelektual, dan budaya.
4. Literasi digital
Di era internet, literasi digital menjadi salah satu kemampuan yang semakin penting.
Literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan dalam menggunakan media digital, perangkat komunikasi, maupun jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat, dan memanfaatkan informasi.
Kemampuan tersebut perlu dibarengi dengan sikap bijak, cermat, sehat, tepat, serta patuh terhadap hukum ketika menggunakan teknologi dan berinteraksi di ruang digital.
5. Literasi finansial
Literasi finansial berkaitan dengan pengetahuan dan kecakapan dalam memahami konsep, risiko, keterampilan, serta keputusan dalam konteks keuangan.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu seseorang membuat keputusan finansial secara efektif sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sosial.
6. Literasi budaya dan kewargaan
Literasi budaya merupakan kemampuan memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa.
Sementara itu, literasi kewargaan berkaitan dengan pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak serta kewajiban sebagai bagian dari masyarakat.
Keduanya menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengenal keberagaman budaya, tetapi juga memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Kemampuan literasi memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Literasi tidak berhenti pada kemampuan seseorang membaca sebuah informasi. Lebih dari itu, seseorang dituntut mampu memahami konteks, memeriksa kebenaran, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, kemudian menentukan sikap berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Terlebih di era digital, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari kecakapan literasi.
Bagi generasi muda yang menjadi salah satu kelompok paling aktif menggunakan teknologi digital, kemampuan tersebut dapat menjadi benteng agar tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru.
Melalui penguatan berbagai jenis literasi, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu mengolah pengetahuan, menghasilkan karya, berkomunikasi secara bertanggung jawab, dan mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. [UN]





