Jakarta – Kepergian putera bungsu pendiri bangsa Bung Karno, Guruh Sukarnoputra (Mas Guruh) yang meninggal diusia 73 tahun, memberikan duka mendalam bagi sahabat, rekan, dan kawan seperjuangannya. Politisi Senior partai PDI Perjuangan, Ir. Emir Moeis mengenang sosok yang bernama lengkap Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra, tidak hanya sebatas rekan di partai melainkan sebagai kawan masa kecil hingga figure seniman yang teguh dengan ideologi.
Emir menceritakan kebersamaannya dengan almarhum sewaktu di sekolah dasar Perguruan Cikini (Percik), Jakarta. Meski berbeda tingkat dimana Emir di kelas 4 dan Guruh baru di kelas 1 namun itu menjadi awal perkenalannya.
“Saya mengenal almarhum Mas Guruh sejak masih SD, kita satu sekolah di Perguruan Cikini. Cuma dia memang adik kelas saya, beda sekitar tiga tahunan. Karena beda umur, saya lebih banyak bermain dengan kakak-kakaknya,” kenang Emir saat menceritakannya kepada Suluh Indonesia, Sabtu (26/9/2026).

Kiprah di Awal Reformasi
Pertemuan keduanya lebih intensif tatkala berkiprah bersama di dunia politik. Mas Guruh dan Emir Moeis sama-sama masuk di Partai PDI Perjuangan pada rentang waktu 1999 sampai 2000 menembus era awal Reformasi. Pada masa krusial perubahan politik tersebut keduanya bersama berjuang menyuarakan gagasan-gagasan strategis.
“Waktu itu almarhum cukup punya peran dan kerap bersuara dalam hal perubahan Undang-Undang Dasar, amandemen, dan sebagainya,” ungkap mantan Ketua Panitia Anggaran DPR RI ini.
Tak hanya di panggung politik pusat, kebersamaan mereka juga terukir tatkala melakukan kunjungan kerja ke daerah di Kalimantan Timur dimana daerah tersebut menjadi daerah binaan dari Emir Moeis sewaktu menjabat sebagai Anggota DPR RI.
Diuar aktifitas Politik, Emir juga menyoroti ketertarikan Mas Guruh dengan seni dan budaya daerah, hal tersebut sangat terlihat ketika melakukan kunjungan, Ia kerapkali mengunjungi tempat-tempat hasil kerajinan dan kesenian.
“Dan kalau dalam perjalanan, yang unik dari Mas Guruh nomor satu dia akan lihat hasil budaya, kemudian kesenian. Ke toko-toko barang-barang kesenian itu adalah selalu yang beliau kunjungi,” tutur Emir.
Bagi Emir, Mas Guruh adalah sosok ideolog dan seniman sejati. Salah satu karya yang paling membekas di benak Emir adalah lagu bertema ideologis ciptaan almarhum berjudul Resopim.
“Yang saya kagumi adalah kemampuannya membuat konsep-konsep orasi dan menciptakan lagu-lagu. Terakhir lagu ciptaannya yang saya dengar adalah Resopim (Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional). Beliau itu kader partai yang tulen, yang tidak perlu diragukan lagi,” tegasnya.
Pertemuan Terakhir dan Doa
Menutup kenangannya, Emir menyebutkan bahwa setelah tidak lagi bertugas di DPR, intensitas pertemuannya dengan Mas Guruh berkurang. Namun, ia sempat bertemu kembali dalam sebuah perhelatan acara bersama keluarga besar.
“Sedih juga kehilangan Mas Guruh, adik kelas yang kader partai tulen. Mari kita sama-sama mendoakan agar almarhum diberikan tempat yang lapang di sisi Allah SWT, diterima semua amal baiknya, serta diampuni segala kesalahan dan dosanya,” pungkas Emir. [IQT]




