Hari Minggu menjadi salah satu hari yang paling ditunggu setelah melewati rutinitas sekolah maupun pekerjaan selama sepekan. Namun, bagi sebagian orang, hari libur justru terasa seperti baru dimulai tetapi tiba-tiba sudah berakhir.
Pagi masih terasa panjang. Sarapan, bersantai, menonton film atau sekadar scrolling sosial media. Tanpa terasa, siang berganti sore dan malam pun tiba.
Perasaan tersebut bukan sekadar keluhan. Ada sejumlah alasan psikologis yang dapat membuat waktu terasa berlalu lebih cepat, terutama ketika seseorang semakin dewasa.
Mengutip laman Alodokter, salah satu penyebabnya adalah rutinitas yang monoton. Ketika hari-hari diisi dengan aktivitas yang hampir sama, otak cenderung memiliki lebih sedikit pengalaman baru untuk direkam sebagai kenangan.
Otak menggunakan berbagai pengalaman dan kenangan sebagai penanda perjalanan waktu. Semakin sedikit hal baru yang terjadi, semakin sedikit pula penanda yang tersimpan dalam ingatan. Akibatnya, ketika menengok kembali hari yang telah dilalui, waktu seolah-olah melompat begitu saja.
Usia dan rutinitas ikut memengaruhi
Bagi anak-anak, hampir setiap hari dapat menjadi pengalaman baru. Mereka menemukan banyak hal untuk pertama kalinya, sehingga otak bekerja lebih aktif merekam berbagai pengalaman tersebut.
Sementara itu, orang dewasa lebih sering menjalani pola yang berulang, mulai dari bangun tidur, bekerja, pulang, beristirahat, hingga kembali menjalani rutinitas yang sama keesokan harinya. Kondisi tersebut dapat membuat waktu terasa semakin cepat berlalu.
Stres dan kecemasan juga dapat membuat seseorang merasa hari-harinya berjalan begitu saja. Ketika pikiran dipenuhi pekerjaan, tugas, masalah pribadi, atau berbagai hal yang harus diselesaikan, perhatian menjadi terbagi dan seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk benar-benar menikmati apa yang sedang dijalani.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang kurang menikmati momen. Aktivitas yang dilakukan secara otomatis membuat perhatian lebih tertuju pada hasil akhir daripada prosesnya. Akibatnya, banyak detail kecil dalam keseharian yang tidak benar-benar terekam dalam ingatan.
Gadget juga bisa membuat waktu tak terasa
Kebiasaan menggunakan gadget secara terus-menerus menjadi hal lain yang dapat membuat waktu berlalu tanpa disadari.
Berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, menonton video pendek, membaca unggahan media sosial, kemudian kembali membuka aplikasi lain dapat membuat perhatian terpecah. Seseorang mungkin merasa baru menggunakan ponsel selama beberapa menit, padahal waktu yang berlalu sudah jauh lebih lama.
Selain itu, beban pekerjaan maupun tugas sekolah yang menumpuk dapat membuat seseorang menjalani hari tanpa banyak jeda. Padatnya aktivitas membuat waktu terasa seperti terus mengejar.
Karena itu, ketika Minggu tiba, seharusnya hari libur tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Waktu istirahat juga penting agar tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk benar-benar berhenti sejenak.
Bagaimana agar Minggu tidak terasa terlalu singkat?
Tidak mungkin membuat waktu benar-benar berjalan lebih lambat. Namun, persepsi terhadap waktu dapat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menjalani hari.
Salah satu caranya adalah benar-benar hadir dalam aktivitas yang sedang dilakukan. Ketika makan, misalnya, cobalah menikmati makanan tanpa terus-menerus melihat layar ponsel. Ketika berbincang dengan keluarga atau teman, berikan perhatian pada percakapan yang berlangsung.
Mencoba pengalaman baru juga dapat menjadi pilihan. Tidak harus sesuatu yang mahal atau jauh. Membaca buku dengan tema yang belum pernah dicoba, memasak menu baru, berjalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, atau memulai hobi sederhana dapat memberikan pengalaman berbeda dalam ingatan.
Selain itu, membatasi penggunaan gadget, beristirahat dengan cukup, mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta mengelola stres juga dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap waktu yang sedang dijalani.
Pada akhirnya, mungkin bukan hari Minggu yang terlalu cepat berlalu. Bisa jadi, kita yang terlalu sibuk mengejar berbagai hal hingga lupa menikmati satu per satu momen yang ada.
Sebab, ketika hari libur diisi dengan pengalaman yang benar-benar dirasakan, sebuah Minggu mungkin tetap berakhir pada malam hari. [UN]





